Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ramai Bisnis Fashion Produk Reject di Indonesia, Kenapa dan Bagaimana Proses QC?

Produk fashion reject ini juga tidak lolos dalam tahapan quality control atau (QC). Hal ini contohnya seperti ada kesalahan dalam jahitan, potongan, warna, dan lain-lainnya.
Jessica Gabriela Soehandoko
Jessica Gabriela Soehandoko - Bisnis.com 24 Februari 2022  |  17:27 WIB
Ilustrasi fashion reject
Ilustrasi fashion reject

Bisnis.com, JAKARTA - Produk reject atau yang dikenal dengan istilah defect, adalah baju yang memiliki kecacatan produksi.

Biasanya produk ini dijual secara ilegal lantaran harga yang dijual lebih murah dibandingkan dengan harga yang dijual secara resmi.

Produk fashion ini juga tidak lolos dalam tahapan quality control atau (QC). Hal ini contohnya seperti ada kesalahan dalam jahitan, potongan, warna, dan lain-lainnya.

Sedangkan baju yang lolos dalam tahapan QC, kemudian dijual secara resmi, baik offline ataupun online.

Lalu, apa saja proses QC yang dilakukan di dalam sebuah garmen sehingga sebuah produk dapat masuk ke dalam kategori reject?

Dilansir dari Fitinline, terdapat berbagai jenis pengendalian mutu. Hal ini seperti dari pemeriksaan bahan baku, pemeriksaan sample, bagian potong atau cutting, fusing, jahitan, QC pada finishing dan pemeriksaan akhir.

Dalam QC sendiri hal yang di cek adalah seperti lebar yang tidak sesuai, jahitan yang loncat, penempatan saku yang tidak sesuai, panjang tangan kiri kanan dan lain-lainnya.

Tak jarang, produk yang dijual dari produk reject memiliki kesalahan dari salah satu yang disebutkan diatas. Produk inilah yang kemudian dijual kepada masyarakat secara tidak resmi.

Jika melihat dari e-commerce ataupun di media sosial, cukup banyak yang menjual barang dari produk ini. Tak jarang banyak yang menjual product reject secara offline.

Selain dengan dapat memperoleh dengan harga yang murah ketimbang resminya, terdapat juga argumen bahwa dengan membeli produk reject, juga akan membantu perusahaan terutama dalam limbah pabrik garmen.

Di Indonesia sendiri, berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian terdapat 323 perusahaan garmen dan tekstil.

Oleh karena itu, Indonesia sendiri menjadi salah satu pusat industri manufaktur fashion terbesar di Asia Tenggara.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

fashion tips bisnis
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top