Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sejarah Bisnis Haagen Dazs, Es Krim Super Premium Asal Amerika

Haagen-Dazs sendiri merupakan merek es krim Amerika Serikat yang didirikan oleh Reuben dan Rose Mattus pada 1960.
Arlina Laras
Arlina Laras - Bisnis.com 21 Juli 2022  |  14:18 WIB
Sejarah Bisnis Haagen Dazs, Es Krim Super Premium Asal Amerika
Es Krim Hageen Dasz

Bisnis.com, JAKARTA - Apabila Anda pecinta es krim, tentu Anda tak asing dengan brand es krim ternama, Haagen-Dazs. Di bawah naungan MRA Group, Haagenz-Dazs tumbuh menjadi salah satu brand es krim terbesar di Indonesia.

Sayangnya, pada Rabu (20/7/2022) produk es krim Haagen-Dazs dengan komposisi yang mengandung vanila harus ditarik dari pasar, setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menemukan kandungan kadar Etilen Oksida (EtO) yang melebihi batas.

Sementara itu, Badan POM pun sedang berproses melakukan kajian kebijakan terkait EtO, termasuk memantau perkembangan terbaru terkait peraturan dan standar keamanan pangan internasional, serta melaksanakan sampling dan pengujian untuk mengetahui tingkat paparannya, sampai produk tersebut dipastikan aman.

Sebelumnya diberitakan juga bahwa penarikan terhadap produk Haagen-Dazs ternyata tidak hanya dilakukan Indonesia.

Otoritas di Prancis melalui Rappel Conso diikuti Food Standards Australia New Zealand (FSANZ) juga telah menerbitkan informasi publik terkait penarikan secara sukarela es krim rasa vanila merek Haagen-Dazs karena masalah yang sama.

Haagen-Dazs Berdiri Sejak 1961

Melansir dari laman resmi haagen-dazs.co.uk pada Kamis (21/7/2022), Haagen-Dazs sendiri merupakan merek es krim Amerika Serikat yang didirikan oleh Reuben dan Rose Mattus pada 1960.

Awalnya Haagen-Dazs hanya memiliki tiga macam rasa, yaitu cokelat, vanilla dan kopi. Kemudian Mattus membuka ritel pertamanya di Broklyn, New York pada 1976.

Mattus menjual merek Haagen-Dazs kepada Pillsburry Company tahun 1983.

Lalu, kantor pusatnya telah pindah ke Oakland, California dan saat ini menjadi anak perusahaan Fast Moving Company Good (FMCG) Nestle.

Per Juli 2022, dilaporkan bahwa Haagen-Dazs telah menghadirkan lebih dari 800 outlet yang tersebar di premium mall, retail market dan premium retail store yang tersebar di banyak negara.

Perkembangan Bisnis Haagen-Dazs di Indonesia

Adapun, pemegang lisensi Haagen-Dazs di Indonesia adalah PT Mugi Rekso Abadi (MRA Grup).

Sebagai bagian dari MRA Group milik sang ayah, Soetikno Soedarjo, bisnis Haagen-Dazs dikelola PT Rahayu Arumdhani International, (RAI) di mana sang putri bungsu, Dita Soedarjo dipercaya untuk mengelola bisnis.

Di dalam negeri, RAI tidak hanya mengelola ritel Haagen-Dazs Cafe, tetapi juga mendistribusikan produk kemasan alias multipack Haagen-Dazs, baik dalam bentuk minicup maupun stickbar.

Berdasarkan penjelasan dari mantan Brand Executive RAI Angga Krisnawan, produk es krim yang masuk kedalam kategori super premium ini memiliki kandungan udara yang rendah, yakni 10-40% menjadikan teksturnya sangat padar dan halus dibanding merek es krim lain.

Dalam produksinya, Haagen-Dazs hanya membuat es krim berdasarkan pesanan. Es krim dibuat langsung dari 3 pabrik Haagen-Dazs yang berada di Amerika, Jepang dan Prancis. Untuk Indonesia, Haagen-Dazs dikirim 2-3 minggu dari pabriknya yang berada di Prancis.

Kendati bermain di kasta tertinggi, pasar es krim superpremium di dalam negeri masih sangat minim, dibandingkan es krim kelas ekonomi yang dipadati pemain besar seperti Wall's dan Campina. Ini karena, Haagen-Dazs harus menjaga kualitas suhu agar selalu minus 21 derajat celcius.

Menurutnya, jarang sekali ada gudang es dan truk yang bisa menjaga suhu es krim tersebut, Alasan itulah yang juga membuat Haagen-Dazs sulit melakukan ekspansi ke luar kota.

Melansir dari mra.co.id hingga Juli 2022, Haagen-Dazs Cafe telah memiliki 32 gerai yang tersebar di mal-mal premium di Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan dan Bali.

Haagen-Dazs Berkomitmen Jalankan Bisnis Berkelanjutan secara Global

Sejak 2019, brand tersebut berkomitmen mengadopsi konsep ‘sustainability’ atau berkelanjutan, di mana produk baru dibuat lebih aman untuk lingkungan.

Menurut informasi dari Talking Retail, langkah ini dibuktikan dengan beralihnya Haagen-Dazs untuk penggunaan sendok plastik dalam kemasan mini cup dan multipacks.

Sehingga, para konsumen diimbau untuk membawa sendok logamnya sendiri, karena Haagen-Dazs tidak menyediakan sendok plastik lagi.

“Jadi, apabila sewaktu-waktu Anda memesan beberapa minicup untuk dibawa pulang atau dinikmati bersama teman, kami meminta Anda menyediakan sendoknya. Penelitian ilmiah menyebutkan bahwa logam yang mendingin sangat cocok dengan es krim. Artinya, ini menjadi cara terbaik untuk menikmati Haagen-Dazs menggunakan sendok logam,” tulis pihak manajemen di laman resmi Haagen-Dazs.

Disebutkan, perusahaan ini pun berupaya menyerap sekitar 126 ton plastik dan akan mencegah pendistribusian sebanyak 30 juta sendok plastik di Inggris setiap tahunnya.

Bahkan, dari segi kemasan, brand tersebut memiliki target di tahun 2025, untuk menjadikan produk kemasan menjadi 100% bahan yang dapat didaur. Sehingga, mampu menurunkan 1700 ton sampah lebih sedikit setiap tahunnya dalam skala global.

Menjadi Sajian Penutup Donald Trump dan Kim Jong Un

Menariknya, brand yang dinilai punya kualitas es terbaik dengan dasar susu asli yang diproduksi dari peternakan terbaik di wilayah Utara Prancis, membuat produk ini terpilih menjadi sajian penutup pada pertemuan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Presiden Korea Utara, Kim Jong Un di Singapura tahun 2018 lalu.

Melansir dari laman Independent.ie, Gedung Putih merilis menu santap siang yang akan dikonsumsi oleh kedua pemimpin negara tersebut.

Dalam unggahan tersebut terlihat desserts atau menu penutup adalah Haagen-Dazs Vanilla Iced Cream with Cherry Coulis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

es krim BPOM bisnis Donald Trump kim jong un
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top