Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Cerita Dyah dan KaLu, Menikmati Proses Jatuh-Bangun Bisnis dari Rumah

Inspirasi berbisnis berawal dari hal yang dianggap simple dan mudah diingat
Media Digital
Media Digital - Bisnis.com 28 Juli 2022  |  12:00 WIB
Cerita Dyah dan KaLu, Menikmati Proses Jatuh-Bangun Bisnis dari Rumah
Foto: Dok. HM Sampoerna

Bisnis.com, YOGYAKARTA - Sebelas tahun lalu, tepatnya tahun 2011, Dyah Yesnita Narendra Dewi, memulai bisnis produk kreasi berbahan tenun lurik khas Yogyakarta. KaLu, singkatan dari “Katun Lurik”, dipilih Dyah karena dianggap simple dan mudah diingat. Perjalanan membangun bisnis yang dilalui Dyah tak mudah. 

Berawal dari keinginannya untuk memiliki lebih banyak waktu bersama sang anak, Dyah memilih melepaskan statusnya sebagai karyawan di sebuah perusahaan. Namun, pilihan untuk lebih banyak berada di rumah dan fokus ke keluarga tak membuatnya berdiam diri. Ia mulai mencoba berbisnis. 

“Sebelum KaLu, saya sempat bisnis usaha gerobak kopi. Tapi cuma berjalan tiga bulan, sampai akhirnya yang bertahan KaLu ini,” kisah Dyah. 

Inspirasi lurik 

Dyah menceritakan, ide menciptakan produk berbahan lurik karena ia tinggal di Yogyakarta dan melihat potensi besar membuat berbagai kreasi kain khas Yogya ini. Menurut Dyah, inspirasi itu datang ketika ia melihat cantiknya baju dari bahan lurik di sebuah majalah. 

“Ide dari situ. Akhirnya, saya putuskan untuk mencoba mengolah lurik dari Yogya. Pertimbangannya, bahan baku banyak dan tidak terlalu mahal. Saya belajar otodidak, trial, error, tapi enggak patah semangat,” ujar dia. 

Perjalanan KaLu juga bukan tanpa tantangan. Jatuh-bangun sudah ia lalui. Dengan modal terbatas, Dyah tetap optimistis bahwa usaha yang dirintisnya akan membuahkan hasil. 

“Saya sampai menggadaikan gelang emas seserahan untuk modal usaha ini, karena tabungan saya habis untuk modal usaha sebelumnya yang akhirnya gagal,” kata Dyah. 

Dalam hal pemasaran, sebelas tahun lalu, media sosial belum segencar saat ini. Kala itu, kata Dyah, masih jarang orang yang berjualan daring. Ia pun mulai memasarkan produknya melalui media sosial Facebook dan BlackBerry Messanger yang tenar saat itu.   

Tantangan lainnya, tak mudah memperkenalkan keindahan kain lurik. 

“Dulu mindset-nya, lurik itu kesannya kain ndeso. Selain itu, panas, tidak nyaman dipakai. Nah, pada 2012, 2013, sudah banyak desainer yang mulai melirik lurik. Sehingga, akhirnya jadi lebih mudah memasarkannya karena produk-produk dari lurik mulai populer,” papar Dyah. 

Suami turun tangan, jadi “couplepreneur” 

Usaha Dyah dan KaLu kini semakin berkembang setelah sang suami ikut turun membantunya dan bersama-sama fokus berbisnis. KaLu kini sudah memiliki 10 karyawan dan menggandeng para pengrajin lokal. Harapannya, hal ini akan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan ekonomi para pengrajin di Yogyakarta. 

Para pengrajin ini terlibat dalam mengolah berbagai produk KaLu, seperti berbagai suvenir, aneka busana etnik, produk-produk homedecor, tote bag, dan hampers. Saat pandemi, KaLu tak mengalami keterpurukan meski penjualan menurun. 

“Karena kami memang sudah lama melayani hampers dan memasarkan secara online, jadi tidak terlalu membutuhkan adaptasi saat pandemi. Orderan berkurang, tapi tidak terlalu terpuruk. Alhamdulillah, tidak ada pengurangan karyawan,” ujar Dyah. 

Tak mudah puas 

Bersama KaLu, Dyah memiliki keinginan untuk terus berkembang. Ia pun mengikuti berbagai program pembinaan. Pada 2018, ada kerja sama antara Bedo (sebuah organisasi nirlaba pendukung bisnis) bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan Yogyakarta untuk merekrut dan menyeleksi UKM yang akan mengikuti pelatihan selama setahun. 

Saat itu, KaLu terpilih menjadi salah satu UMKM binaan Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC), yang bekerja sama dengan Yayasan BEDO. SETC merupakan salah satu program pengembangan UMKM serta pusat pelatihan kewirausahaan yang didirikan oleh PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna) pada tahun 2007 melalui payung program Sampoerna Untuk Indonesia. 

Dyah pun mengikuti berbagai pelatihan, coaching, serta mendapatkan berbagai ilmu seputar pengembangan usaha. Selain itu, berkait SETC, ia memperoleh link dan jaringan baru yang mendorong pengembangan usahanya. 

“Dari link yang didapat, sudah membantu mendapat relasi. Sampoerna mengadakan booth camp pada 2020, kami menang. Jadi, Sampoerna berarti secara emosional adalah bagian perjalanan KaLu,” kata Dyah. 

Kini, Dyah akan terus mewujudkan mimpinya bertumbuh bersama KaLu. Dalam waktu dekat, KaLu akan hadir di tengah pertokoan jantung pariwisata Yogyakarta, di kawasan Malioboro. Ia berharap, KaLu tak hanya membantu perekonomian keluarga dan karyawannya, tetapi juga bermanfaat bagi orang banyak. 

“Jadi, untuk siapa saja yang sedang merintis bisnis, jangan takut bermimpi. Jalani tahap dan prosesnya. Ada yang mudah, ada yang tidak mudah. Tetapi di balik proses, pasti ada hasilnya. Kita nikmati dan syukuri saja,” pesan Dyah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hm sampoerna umkm
Editor : Media Digital

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top