Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Greenville Farm, Bisnis Sayuran Hidroponik yang Ubah Krisis Jadi Peluang

Bobby Agus menilai pandemi telah memberikan peluang bagi mereka untuk bisa terus berkembang dan mendapatkan jangkauan pasar yang lebih besar.
Arlina Laras
Arlina Laras - Bisnis.com 31 Agustus 2022  |  21:39 WIB
Greenville Farm, Bisnis Sayuran Hidroponik yang Ubah Krisis Jadi Peluang
Bobby Agus, Owner produk perkebunan organik Greenville Farm
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Wabah COVID-19 memang membuat hidup tidak lagi sama dengan sebelumnya. Para pelaku UMKM harus memutar otak untuk mencari strategi yang tepat agar bisa bertahan di tengah pandemi.

Banyaknya pekerja menjadi pengangguran, serta tidak sedikit pengusaha menjadi bangkrut, membuat masyarakat dituntut untuk bisa beradaptasi dengan cara yang kreatif, di mana tuntutan yang terus dipacu ini, menjadikan lahirnya sebuah inovasi-inovasi baru.

Kondisi ini juga dirasakan Bobby Agus, Owner produk perkebunan organik Greenville Farm yang mengubah sport center miliknya menjadi kebun hidroponik. Meski, harus mengorbankan usaha awalnya. Namun, justru adanya pandemi ini menjadikan bisnis barunya memiliki manfaat untuk masyarakat dalam menyediakan sayuran segar dan sehat.

Profil Bisnis Greenville Farm

Bobby Agus menilai pandemi telah memberikan peluang bagi mereka untuk bisa terus berkembang dan mendapatkan jangkauan pasar yang lebih besar.

Greenville Farm sendiri yang berlokasi di Jakarta Barat, dibangun tidak dengan lewat proses yang instan. Sebelum menjadi bisnis sayuran organik hidroponik sukses seperti saat ini, Bobby mengaku sempat mengalami kesulitan ekonomi. Awalnya, Bobby memiliki usaha sport center. Namun, pandemi membuat usahanya terpaksa tutup karena tidak ada pemasukan, sehingga banyak karyawan yang harus diberhentikan.

“Jadi ide awalnya itu karena kami awalnya sport center, karena pandemi, kami menaati peraturan pemerintah terkait PSBB, jadi kami harus menutup sport centernya. Dengan begitu, kami berpikir mencari ide bagaimana kami mencari usaha yang esensial, agar karyawan kami bisa bekerja tanpa harus dirumahkan,” ungkap Bobby.

Selama 3 bulan, Bobby bersama tim pun melakukan trial and error dalam memikirkan berbagai peluang ide usaha yang bisa dikerjakan dan tentunya menghasilkan. Dia pun menceritakan tentang model-model bisnis yang awalnya dia rancang, salah satunya yaitu katering. Namun, dengan beragam pertimbangan, membuat bisnisnya hanya sampai tahap ideation.

Hingga pada Juli 2020, Bobby pun menemukan ide bisnis hidroponik. Setelah melakukan evaluasi, pembangunan greenhouse, penanaman, panen dan tes yang memakan waktu cukup lama, berbagai macam sayuran dia coba tanam dan dijual kepada masyarakat.

Sayangnya, saat awal merintis sampai Oktober 2020, bisnis hidroponiknya ini tidak mendapatkan respons yang baik, sama halnya saat dia mencoba mengirimkan ke restoran atau supermarket karena ternyata mereka telah memiliki supplier sendiri. Akhirnya, sayuran yang dia tanam hanya bisa dibagikan secara percuma.

Seolah tidak menyerah, Bobby pun mencari alternatf pemasaran lain. Di mana, dia menjualnya secara online dengan melakukan pengiriman di hari yang sama. Menurut Bobby, transformasi digital penting untuk menarik perhatian pelanggan. Terbukti, dengan mempromosikan bisnisnya melalui berbagai media sosial, membuat pasarnya semakin luas. Bahkan, Bobby mengungkapan, pelanggannya sendiri saat ini juga sudah tiba ke daerah Bogor.

Strategi Promosi Pemasaran Bisnis Hidroponik

Menurut Bobby, kendati PSBB yang diterapkan beberapa waktu lalu di Jakarta berdampak pada pemesanan sayuran dari hotel dan restoran, tetapi konsumsi dari kelompok pelanggan rumah tangga memiliki kontribusi yang cukup baik terhadap omzet bisnisnya secara keseluruhan.

Hal itu lantaran Bobby mengalihkan fokus penjualan ke platform seperti Instagram, TikTok, sebagai media promosi. Tak hanya itu, Bobby juga maksimalkan penggunaan Website, hingga beberapa e-commcerce. Sebab, hampir semua pebisnis sekarang ini memasarkan jualannya secara online, karena melihat pola penggunaan konsumen mereka yang rutin menggunakan media sosial dan e-commerce.

Penggunaan iklan (ads) di masing-masing media sosial agar konsumen kenal produk juga penting dilakukan. Teknik soft selling untuk memancing interest pengguna media sosial agar leads dari media sosial bisa terkonversi menjadi penjualan. Greenville Farm mengklaim berkat melakukan optimalisasi di media sosial, maka penjualan di toko online-nya meningkat sebesar 40%.

Perkuat Bisnis dengan Same Day Delivery

Dengan meningkat demand atas produk miliknya, membuat Bobby memutuskan untuk menggunakan model bisnis dengan memilih cara kirim langsung ke konsumen. Namun, dia menghadapi kendala karena dengan model bisnis tersebut, membutuhkan banyak orang untuk direkrut untuk proses pengiriman.

Baginya, mencari mitra haruslah benar-benar selektif, apalagi mengingat produknya harus selalu terjaga kualitas. Bagi Bobby, jika ingin memutuskan untuk bermitra dengan kurir, Anda harus memastikan bahwa mitra Anda dapat memenuhi kebutuhan Anda dengan sedetail mungkin.

“Karena produk kami harus selalu terjaga kesegarannya, penting untuk tahu bagaimana layanan kurir sebelum memilih. Dan sejauh ini Ninja Xpress dapat mengirim produk sayuran kami dengan layanan pengiriman same day,” Bobby juga melanjutkan, sayuran yang dikirim menggunakan Ninja Xpress masih segar ketika sampai di tujuan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hidroponik organik sayuran sayuranorganik benihsayuran impor buah dan sayuran benih sayuran
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top