Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kisah Pendiri PO Haryanto, Pensiunan Tentara, juga Mantan Cleaning Service

Haryanto adalah pengusaha perusahaan otobus terbesar di Indonesia, PO Haryanto.
PO Haryanto
PO Haryanto

Bisnis.com, JAKARTA - Pemilik PO Haryanto kini ramai diperbincangkan. Usai, Ryan Mahendra yang merupakan mantan Direktur Operasional Perusahaan Otobus (PO) Haryanto mengumumkan bahwa dirinya telah mengundurkan diri dari perusahaan rintisan sang Ayah.

Nama PO Haryanto sendiri memang sudah tersohor di kalangan pengguna bus, sebab perusahaan transportasi yang berbasis di Kudus, Jawa Tengah ini mengusung julukan ‘sensation,' yang terkenal dengan kecepatan dan ketepatan waktu tibanya. 

Bahkan, ciri khas lain di bus tersebut adalah livery wayang di bodi busnya serta kalimat salawat yang disematkan di kaca belakang.

Namun, dibalik segala pencapaiannya hingga bisa memiliki 300 armada dengan jaringan trayek di pulau Jawa dan Madura, ternyata kehidupan awal pemilik PO Haryanto ini jauh berbeda dibanding sekarang, di mana dahulu dia harus banting tulang karena ekonomi keluarga yang terbatas. 

Lantas, seperti apa sosok dari sosok ayah Rian yang menjadi pendiri dari PO Haryanto? Berikut ulasan Bisnis selengkapnya. 

Kehidupan Awal Haryanto

Haryanto adalah pemilik sekaligus pimpinan PO Haryanto, perusahaan jasa angkutan penumpang darat dan pariwisata populer di Indonesia yang memiliki berbagai trayek dari Jakarta ke Jawa Tengah, Jawa Timur, bahkan hingga ke Madura.

Sebelum bisa sesukses sekarang, nyatanya pria kelahiran 17 Desember 1959 ini terlahir dari latar belakang keluarga tidak mampu. 

Bahkan, untuk bisa menghidupi kesembilan anaknya, diketahui kala itu sang Ibu berjualan daging di pasar. Sementara, sang Ayah adalah buruh kasar yang hanya bekerja apabila ada orang yang membutuhkan tenaganya. 

“Jadi, saya sewaktu kecil sudah diajak Ibu belanja daging untuk dijual kembali ke pasar, sehingga kami bisa mendapatkan untung. Kalau Bapak, dia biasanya diajak oleh seseorang untuk membersihkan tulang kebo, tapi tidak setiap waktu,” ungkap Haryanto dilansir dari wawancaranya bersama Andy F. Noya, Kamis (5/1/2023). 

Pernah Jadi Penjual Es Keliling dan Cleaning Service 

Sehingga, hal tersebut mengharuskannya untuk menghabiskan masa kecil hingga remajanya untuk membantu perekonomian keluarga. Beragam pekerjaan dirinya pernah lakoni, mulai dari menjual es keliling, mengarit rumput untuk dijual sebagai pakan ternak hingga menjadi cleaning service di sebuah hotel. 

“Karena saking orang tua enggak punya uang. Jadi, saat SD pun saya pernah jadi kuli bangunan. Di sana, saya dapat bayaran Rp400, separuh uangnya yaitu Rp200 saya gunakan untuk makan nasi kucing, sedangkan minumnya saya ambil dari sumur. Sisa uang saya tabung,” jelasnya. 

Walaupun saat itu hidupnya serba kekurangan, tapi tidak lantas membuat Haryanto menyesali nasib hidupnya. Justru, hal tersebut yang memotivasi dirinya untuk bisa mengubah nasib keluarga menjadi lebih baik. 

Terbukti, dengan sifat pantang menyerahnya, Haryanto bisa meneruskan pendidikan Sekolah Teknik atau saat ini setara dengan SMP. Meski, di tahun ketiga sekolahnya, dirinya dinyatakan tidak bisa lulus. 

“Saya saat itu saya punya mimpi besar untuk jadi ABRI. Lalu, saya putuskan untuk sekolah ST. Tapi, ternyata ekonomi saat itu sangat susah dan saya tidak punya biaya untuk melanjutkan pendidikan. Jadi, saya tidak lulus STM,” ungkapnya. 

Kisah Pendiri PO Haryanto, Pensiunan Tentara, juga  Mantan Cleaning Service

Perjalanan Karier Haryanto 

Haryanto sebenarnya ingin melanjutkan cita-citanya menjadi tentara. Namun, ekonomi keluarga menjadi penghalang. Dia baru bisa mewujudkan impian tersebut pada tahun 1979. 

Sebagai informasi, Haryanto sempat mendaftar di Batalyon Artileri Pertahanan Udara Ringan 1/Kostrad milik TNI Angkatan Darat yang terletak di Tangerang, dan diterima. Dia juga mendapatkan beasiswa sekolah di Bandung untuk dilatih jadi pengemudi kendaraan yang khusus mengangkut kendaraan senjata berat seperti tank.

Alhasil, ketika dirinya bergabung di dunia militer, Haryanto mengungkapkan jabatan pertamanya adalah prajurit dua yang merupakan pangkat terendah dalam jenjang Tamtama

“Tugas saya jadi supir ya pengemudi, ditugasi untuk membawa meriam. Dahulu kemudinya ada di kiri,” katanya. 

Sebagai pengemudi batalyon, sehari-hari bergulat dengan kendaraan bermotor. Dia pun belajar tentang teknik mesin di bengkel batalyon. Pengetahuannya tentang seluk-beluk kendaraan bermotor pun dia kuasai.

Memanfaatkan jam kosong di luar dinas, Haryanto mulai berpikir tentang mencari tambahan penghasilan.

Lalu, di tengah Haryanto menjalani profesi di bidang kemiliterannya, di mana dia telah menduduki posisi prajurit 1. Saat itulah pada tahun 1982 dia bertemu dengan sang istri dan menikah. 

“Kalau saya ceritakan begini, saya prajurit 2 saya jadi supir, prajurit 1 saya menikah dengan istri. Nah, disitu ketika saya memiliki anak, saya berpikir harus bisa memberikan kehidupan yang terbaik. Jadi saya boyong keluarga kecil saya pindah kota,” jelasnya.

Pria yang sempat bertugas dari Kudus itu pun memutuskan untuk pindah ke Tangerang dengan kondisi tidak punya rumah. Alhasil, Haryanto sempat ngontrak di lahan 1 petak, yang ternyata itu adalah kandang ayam. 

"Gaji tentara saat itu Rp 18.000. Dengan kondisi mengontrak di kandang ayam bersama anak dan istri. Harta saya satu-satunya adalah jam dinding, saya lihat waktu hingga akhirnya saya tersadar untuk mengatur waktu agar bisa mendapat tambahan penghasilan,” tutur Haryanto.

Satu-satunya pekerjaan yang kuasai dengan baik adalah mengemudi. Maka, setelah menyelesaikan tugas dinas dengan segera dirinya menjalani pekerjaan sambilan menjadi sopir angkutan kota dari sore sampai larut malam dengan pendapatan per harinya bisa mencapai Rp10.000. 

Dia pun menabung sedikit demi sedikit hingga terkumpul dana sebesar Rp750.000. Hal tersebut dia lakukan untuk bisa membuka usaha.

"Alhamdulillah uang tersebut segera saya belikan angkot secara kredit. Ketika pembayaran lunas, lalu saya belikan lagi angkot, seperti itu terus, alhasil berkembang," jelasnya.

Haryanto pun mengajukan pensiun dari pekerjaan tentaranya untuk bisa fokus terhadap bisnis yang dia dirikan. 

Perkembangan Bisnis PO Haryanto

Menariknya, setelah dirinya mengembangkan usaha angkot sejak 1984, Haryanto mulai berpikir bahwa kedepannya sektor transportasi darat paling mudah mengalami disrupsi.

‘Jadi sebelum hadirnya layanan ojek online, pada tahun 1988 saya sudah lebih dulu memutuskan untuk menjual semua angkotnya dan beralih ke transportasi bus. Bagi saya bisnis angkot tidak bertahan lama lagi,” katanya.

Berkat langkah visionernya, pada tahun 2002 menjadi langkah terbesar Haryanto. Usai jual seluruh angkot, dia pun membeli bus sebanyak lima bus trayek Cikarang-Tangerang. Perusahaan tersebut diberi nama "PO Haryanto", sesuai nama yang dimilikinya.

Tentu sebagai pebisnis, beragam tantangan telah dirinya rasakan, kemudian pada tahun 2004 Haryanto mengembangkan bus eksekutif. 

“Jatuh bangun hal biasa ya. Setelah beberapa lama saya mengalami bisnis ini lancar, tapi tahun 2007 saya mengalami jatuh lagi karena adanya gejolak dari kenaikan BBM. Tapi, kita tidak menyerah hingga akhirnya bisa bertahan hingga sekarang,” jelas Haryanto. 

Ketekunan dan kerja kerasnya terbayar lunas dengan peningkatan penghasilan serta aset yang dimiliki. Kini, PO Haryanto telah memiliki tiga rumah makan bernama "Menara Kudus" di Gringsing dan Gebang, Cirebon. PO Haryanto juga telah memiliki satu SPBU di Jalan Raya Pantura Jenarsari, Kendal, dan garasi di 3 titik lokasi. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Arlina Laras
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper