Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Memulai Usaha Telur Asin, Cara Membuat Hingga Hitungan Bisnis

Cara membuat telur asin secara umum yakni membalut telur dengan abu gosok ataupun tanah merah yang ditaburi garam dalam jumlah besar.
Ilustrasi telur asin/abwaba.com
Ilustrasi telur asin/abwaba.com

Bisnis.com, JAKARTA -- Bisnis makanan memiliki tantangan yang tinggi namun menawarkan keuntungan yang menarik. Bisnis produksi telur asin misalnya, meski memiliki persaingan ketat namun terdapat celah yang dapat dimasuki dan tawaran keuntungan hingga 30 persen. 

Maisyaroh, produsen Telur Asin merek Diamond di Bekasi menuturkan, dalam menjalankan usaha jenis ini maka yang paling utama adalah kepastian pasokan bahan baku, yakni telur itik. 

"Kami [lokasi produksi] dekat dengan produsen, jadi menggunakan telur itik di sekitar rumah," tutur Maisyaroh di sela pengundian Simpedes BRI di Bekasi, Sabtu (24/6/2023). 

Maisyaroh menyebutkan sejak pabrik telur asinnya dimulai pada periode 2000, permintaan yang muncul relatif stabil. Saat ini produksinya mencapai 1.000 telur setiap pengolahan. "Sepekan bisa dua kali," katanya. 

Dengan estimasi ini, maka setiap bulan Diamond mengolah 8.000 telur itik. Dibutuhkan modal kerja sekitar Rp18 juta untuk telur sebanyak ini dan bahan pendukung. Sementara estimasi omset yang diraup lebih dari Rp25 juta.

"Paling menyenangkan dalam usaha telur asin ketika dapat beli bahan baku murah, dijual mahal. Biasanya saat telur itik langka," katanya. 

Sementara itu, untuk proses memproduksi telur asin yang baik langkah pertama adalah dengan membersihkan kulit telur hingga menghilangkan semua kotoran dan lapis yang menempel. 

"Harus digosok satu per satu sampai bersih, jangan sampai pecah" katanya menekankan. 

Telur yang sudah bersih ini kemudian dilap dan dianginkan sambil menunggu proses selanjutnya. Maisyaroh menyebutkan, pada tahap kedua telur dibalut dengan abu gosok yang telah diberi garam dan bahan pendukung. 

"Bahannya rahasia, dahulu bapak belajar ke Brebes" kata Maisyaroh yang sudah memiliki satu cucu itu. 

Dia menyebutkan, telur dibiarkan selama 1 minggu dibalut dengan adonan untuk mengasinkan. "Kalau ingin lebih asin bisa sampai 2 pekan," katanya. 

Telur asin Diamond sendiri menggunakan periode pengasinan selama sepekan. Selanjutnya telur direbus untuk kemudian dikirim ke para agen penjual. "[Produksi Diamond] untuk penyimpanan di ruang terbuka maka bisa tahan seminggu."

 

Sementara untuk periode penyimpanan lebih lama, konsumen bisa meletakkan di dalam kulkas. "Bisa tahan sampai 2 pekan," ulasnya. 

Tantangan Usaha Telur Asin

Saat mengembangkan usaha, Maisyaroh menyebutkan periode pandemi Covid-19 menjadi yang paling sulit bagi pedagang telur asin seperti dirinya. "Terutama saat pasar-pasar tutup, yang buka di kedai omsetnya juga turun drastis," katanya mengenang. 

Dalam periode relatif sulit ini, Diamond mempertahankan pembelian ke agen telur sebanyak 1.000 butir. "Kalau diturunkan, saat keadaan membaik kami akan kesulitan mendapatkan telur karena tidak prioritas," katanya menjelaskan strategi bisnis yang dijalankan. 

Dengan kebijakan pembelian di kondisi sulit ini, Diamond menyiasati dengan melakukan penjualan telur mentah. Kebijakan yang juga memastikan peternak tetap berproduksi. 

Anak-anak Maisyaroh dan menantu  juga diberdayakan dengan menjadi tenaga kerja pada usaha ini. Diamond juga melakukan pengiriman ke lokasi serta pembayaran ditempat jika menerima pesanan online. 

"Alhamdulillah dari usaha anak sekolah semua, yang paling kecil sudah kelas lima SD. Anak nomor 3 sekarang semester 5, punya kendaraan roda dua" katanya menggambarkan omset usahanya. 

Telur asin Diamond sendiri dijual Rp10.000 untuk 3 butir. Para agen yang tersebar di sekitar Bekasi akan membeli dengan metode jual satu bayar satu. "Yang busuk menjadi risiko kita, dikembalikan," katanya. 

Pedagang sendiri memanfaatkan metode pembayaran digital melalui transfer. Untuk agen yang membeli ke rumah, Maisyaroh juga menyediakan QRIS. "Saya menggunakan BRI. Di rumah juga ada usaha mie ayam," katanya menambahkan. 

Direktur Digital dan Teknologi Informasi BRI Arga M. Nugraha dalam diskusi Taman BRI menuturkan dukungan bagi pelaku usaha untuk memanfaatkan layanan digital, seperti QRIS dan super apps Brimo, telah menjadi penopang perusahaan untuk tumbuh. Digitalisasi juga menginternal di kalangan BRI dari pucuk pimpinan hingga ke level yang paling bawah. "Kami terus bertransformasi dan tidak akan selesai, ini yang menggotong kami keluar dari pandemi [tumbuh kuat]" katanya.

Menurutnya, BRI memiliki ratusan juta pelanggan yakni hampir separuh masyarakat Indonesia secara grup. Para pelaku UMKM yang menjadi penopang utama BRI berdasarkan research sudah terbiasa dengan teknologi digital namun ada kecenderungan untuk ragu akan keamanannya. 

"Kami [BRI menjadi] jembatan mereka, menempuh jalan digital ini bersama nasabah yang kekinian dan memberi rasa aman," katanya. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Anggara Pernando

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper