Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Perjalanan Bisnis Tiffany & Co. dari Bisnis Alat Tulis jadi Perhiasan Mewah

Jadi salah satu perhiasan prestise dan mendunia, berikut perjalanan bisnis Tiffany & co
Tiffany & Co
Tiffany & Co

Bisnis.com, JAKARTA – Di dunia ini, ada beberapa pemain bisnis di bidang perhiasan yang prestise dan mendunia. 

Tiffany & Co. adalah perusahaan induk yang bergerak di bidang desain, manufaktur, dan penjualan perhiasan.

Perusahaan ini juga menjual arloji, barang-barang dari kulit, barang-barang dari perak, porselen, kristal, alat tulis, wewangian, dan aksesori.

Tiffany & Co. memasarkan dirinya sebagai salah satu standar gaya seni kontemporer.

Terkenal dengan barang-barang mewahnya seperti berlian dan perhiasan perak, hingga saat ini barang-barang dari toko ini banyak menyebar ke seluruh dunia.

Sejarah Tiffany & Co.

Didirikan oleh Charles Lewis Tiffany dan John B. Young di New York City pada tahun 1837 sebagai "emporium alat tulis dan barang mewah", toko ini awalnya menjual berbagai macam alat tulis, dan beroperasi sebagai "Tiffany, Young and Ellis" di Lower Manhattan.

Nama tersebut disingkat menjadi Tiffany & Company pada tahun 1853 ketika Charles Tiffany mengambil alih kendali dan menetapkan penekanan perusahaan pada perhiasan.

Tiffany & Company kemudian membuka toko di kota-kota besar di seluruh dunia. Tidak seperti toko-toko lain pada tahun 1830-an, Tiffany dengan jelas menandai harga pada barang-barangnya untuk mencegah tawar-menawar harga.

Selain itu, bertentangan dengan norma sosial pada saat itu, Tiffany hanya menerima pembayaran tunai, dan tidak menerima pembayaran secara kredit.

Katalog pesanan melalui pos pertama Tiffany, yang dikenal sebagai "Blue Book", diterbitkan pada tahun 1845 di Amerika Serikat (AS) dan penerbitan katalog ini terus berlanjut hingga abad ke-21.

Pada tahun 1862, Tiffany & Company memasok pedang (Model 1840 Cavalry Sabre), bendera, dan peralatan bedah kepada Angkatan Darat Amerika Serikat.

Pada tahun 1867, Tiffany & Co. adalah perusahaan AS pertama yang memenangkan penghargaan untuk keunggulan dalam peralatan perak di Exposition Universelle di Paris.

Pada tahun 1870, perusahaan ini membangun sebuah gedung toko baru di 15 Union Square West, Manhattan, yang dirancang oleh John Kellum dan menghabiskan biaya sebesar $500.000 (Rp7,5 Juta).

Bangunan ini digambarkan oleh The New York Times sebagai "istana permata". Tiffany berdiri di tempat ini sampai tahun 1906.

Perjalanan Bisnis Tiffany & Co. dari Bisnis Alat Tulis jadi Perhiasan Mewah

Pada tahun 1878, Tiffany memenangkan medali emas untuk perhiasan dan hadiah utama untuk peralatan perak di Paris Exposition, yang membuat nama merek Tiffany semakin bergengsi.

Pada tahun 1887, Tiffany membeli French Crown Jewels yang menarik publisitas dan semakin mengukuhkan hubungan merek Tiffany dengan berlian berkualitas.

Perusahaan ini merevisi Segel Agung Amerika Serikat pada tahun 1885.

Pada tahun 1902, setelah kematian Charles Lewis Tiffany, putranya, Louis Comfort Tiffany menjadi direktur desain resmi pertama perusahaan.

Pada tahun 1919, perusahaan ini membuat revisi Medal of Honor atas nama Departemen Angkatan Laut Amerika Serikat.

Versi "Tiffany Cross" ini langka karena hanya diberikan untuk pertempuran, menggunakan desain sebelumnya untuk penghargaan non-tempur.

Pada tahun 1942 Angkatan Laut menetapkan versi Tiffany untuk kepahlawanan non-tempur, tetapi pada bulan Agustus 1942 Angkatan Laut menghapus Tiffany Cross dan sistem dua medali.

Pada tahun 1956, desainer legendaris Jean Schlumberger bergabung dengan Tiffany, dan Andy Warhol berkolaborasi dengan Tiffany untuk membuat Tiffany Holiday Cards (sekitar tahun 1956-1962).

Pada tahun 1968, Lady Bird Johnson, Ibu Negara AS pada saat itu, menugaskan Tiffany untuk mendesain layanan porselen Gedung Putih yang menampilkan 90 bunga.

Pada November 1978, Tiffany & Co. dijual kepada Avon Products Inc. dengan nilai saham sekitar US$104 juta (Rp1,5 Triliun).

Namun, dalam artikel Newsweek tahun 1984, toko Fifth Avenue Tiffany disamakan dengan department store Macy's saat white sale karena banyaknya barang murah yang dijual. Selain itu, pelanggan mengeluhkan kualitas dan layanan yang menurun.

Terimbas resesi

Pada bulan Agustus 1984, Avon menjual Tiffany kepada kelompok investor yang dipimpin oleh William R. Chaney dengan nilai US$135,5 juta (Rp2 Triluin) dalam bentuk tunai.

Tiffany kembali menjadi perusahaan publik pada tahun 1987 dan berhasil mengumpulkan dana sekitar US$103,5 juta (Rp1,5 Triluin) dari penjualan 4,5 juta lembar saham biasa.

Karena resesi tahun 1990-1991 di Amerika Serikat, Tiffany memulai penekanan pada penjualan massal. Sebuah kampanye baru diluncurkan yang menekankan bagaimana Tiffany dapat terjangkau oleh semua kalangan. Sebagai contoh, perusahaan mengiklankan bahwa harga cincin pertunangan berlian mulai dari US$850 (Rp12,7 Juta).

Brosur "Cara Membeli Berlian" dikirimkan kepada 40.000 orang yang menelepon nomor bebas pulsa yang secara khusus dibuat untuk menyasar populasi yang lebih luas. Namun, untuk mempertahankan citranya sebagai perusahaan barang mewah, gambar-gambar bergaya tinggi tetap dipajang di toko-toko Tiffany.

Pada tahun 2000, Yayasan Tiffany & Company didirikan untuk memberikan hibah kepada organisasi nirlaba yang bekerja di bidang lingkungan dan seni.

Perjalanan Bisnis Tiffany & Co. dari Bisnis Alat Tulis jadi Perhiasan Mewah

Pada tahun 2004, perusahaan ini membuka sepuluh toko dan butik: empat di Amerika Serikat, tiga di Jepang, satu di Taipei, satu di Shanghai, dan satu di London.

Perusahaan ini juga meluncurkan beberapa lini perhiasan baru termasuk Atlas, Voile, dan Rose. Pada tahun tersebut, penjualan meningkat menjadi $2,2 miliar (Rp32,9 Triliun) sementara laba bersih naik menjadi $304,3 juta (Rp4,3 trilun).

Pada tanggal 28 Januari 2008, sebuah kolaborasi antara operator telepon seluler Jepang, SoftBank, dan Tiffany & Co. diumumkan.

Kedua perusahaan ini mendesain sebuah ponsel, yang hanya diproduksi terbatas sebanyak sepuluh buah, dan berisi lebih dari 400 berlian, dengan total lebih dari 20 karat (4,0 gram).

Setiap ponsel berharga lebih dari 100.000.000 yen (Rp10,8 Miliar).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper

Terpopuler