Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kisah Red Bull Racing, dari Sponsor 'Ilegal' Kini Tim F1 Bervaluasi Rp39,6 Triliun

Capaian ini membawa Red Bull Racing memecahkan rekor kemenangan beruntun yang sebelumnya dipegang McLaren.
Mobil Red Bull RB16B ini masih akan ditenagai oleh mesin Honda seperti halnya pada F1 musim 2019 dan 2020 lalu. /F1
Mobil Red Bull RB16B ini masih akan ditenagai oleh mesin Honda seperti halnya pada F1 musim 2019 dan 2020 lalu. /F1

Bisnis.com, JAKARTA - Dominasi Red Bull Racing pada ajang jet darat Formula 1 (F1) kembali menguat. Kembalinya era kejayaan tim banteng merah ini selayaknya membangkitkan narasi bahwa 'passion' alias gairah, hampir pasti berujung pada kesuksesan.

Sebagai gambaran, sejak awal musim F1 2023 berjalan sampai kini memasuki jeda paruh musim, tim Red Bull Racing belum pernah sekali pun absen sebagai jawara seri.

Juara dunia bertahan Max Verstappen memenangi 10 dari 12 seri balapan, sementara dua sisanya dimenangkan oleh rekan setimnya, Sergio Perez.

Capaian ini membawa Red Bull Racing memecahkan rekor kemenangan beruntun yang sebelumnya dipegang McLaren dengan 11 kali kemenangan beruntun, tepatnya pada musim 1988. Tak heran, kala itu McLaren diperkuat duo pembalap legendaris, Alain Prost dan Ayrton Senna.

Sebagai perbandingan, kendati Red Bull sempat mendominasi F1 bersama Sebastian Vettel sampai menjadi juara dunia musim 2010-2013, capaian kemenangan beruntun baru bisa mentok di 9 kali.

Adapun, era dominasi Michael Schumacher bersama Ferrari juga hanya sempat mencapai kemenangan beruntun 10 kali. Mercedes, tim dominan selama era F1 mesin hybrid, juga mencatatkan catatan serupa dalam beberapa tahun, sebab selalu ketiban sial ketika mencoba kemenangan beruntun ke-11.

Berawal Jadi Sponsor Mini

Kesukesan Red Bull Racing tak bisa lepas dari gairah besar sang pendiri Red Bull GmbH, mendiang Dietrich Mateschitz, terhadap dunia balap sejak kecil.

Pasalnya, pria kelahiran Austria tahun 1944 ini begitu mengidolakan pembalap kebanggaan negara asalnya, yakni Jochen Rindt yang merupakan juara dunia F1 musim 1970.

Sementara itu, Dietrich sendiri tak pernah menginjak dunia balap secara resmi. Dirinya menjalani dunia profesional sebagai karyawan biasa di bidang pemasaran sektor FMCG, sebelum akhirnya menjadi pengusaha dan pendiri Red Bull.

Alkisah, Dietrich yang kala itu masih karyawan Blendax, melakukan kunjungan bisnis ke Thailand pada kisaran 1982. Pada acara rapat, Dietrich mengaku lemas karena mengalami jet lag alias mabok udara. Uniknya, Dietrich merasa kembali segar setelah minum Kratingdaeng. Dampak jet lag pun sembuh seketika.

Momen inilah yang membuat Dietrich kepincut memboyong minuman energi berlogo banteng merah itu ke pasar Eropa dengan tangannya sendiri.

Kembali ke lanskap F1, Dietrich bisa dibilang seorang marketing yang nekat dan kelewat percaya diri, sebab tercatat mulai melakukan pendekatan dengan pembalap F1 sebagai sponsor, bahkan sebelum perusahaan Red Bull resmi berdiri.

Dilansir dari laman resmi Red Bull, pembalap nyentrik Austria era 80-an, Gerhard Berger menuliskan sendiri pengalamannya didekati Red Bull dari pertemuan perdananya dengan Dietrich.

Tepatnya, jelang gelaran seri F1 GP Austria musim 1985. Padahal, kaleng Red Bull sendiri baru mulai dipasarkan pertama kali di Austria pada 1987. "

Dia [Dietrich] mengakui perusahaannya belum berjalan, tapi akan jadi dalam beberapa hari, minggu, atau bulan, katanya. Dia tidak punya uang juga. Jadi aku tanya apakah ada uang muka, tapi dia meyakinkan bisa memberikan US$10.000 kalau perusahaannya sudah resmi terbentuk," tulisnya.

Kala itu, Gerhard baru menjalani musim perdana sebagai pembalap F1 penuh, sehingga butuh dukungan sponsor. Namun, bagi pembalap F1 secara umum, nilai sponsor yang ditawarkan Dietrich waktu itu masih terbilang kecil dan kurang menarik. Akhirnya, alasan Gerhard setuju untuk bekerja sama hanya berdasar pada kesan positifnya akan perbincangan dengan Dietrich.

"Ada sesuatu yang saya suka darinya sejak awal. Semakin dia bicara, semakin saya menyukainya, karena dia antusias dan meyakinkan. Jelas dia orang yang membuat sesuatu dengan totalias. Bukan cuma membual.

Itu tanda-tanda relasi bisnis yang baik, dan akhirnya membuat saya percaya untuk bicara dengannya lebih lanjut," tambahnya. Lantas, Gerhard pun menjelma menjadi salah satu pembalap top yang berkesempatan membela Ferrari.

Red Bull pun seperti mendapat durian runtuh, sebab bisa langsung dipromosikan oleh atlet papan atas kendati masih berstatus perusahaan sekelas startup. Namun, tantangannya, sebagai perusahaan muda dengan nilai kontrak mini, waktu itu logo Red Bull belum bisa terpampang di mobil maupun atribut pembalap.

Gerhard pun harus putar otak untuk mempromosikan Red Bull dengan berbagai cara. Salah satunya, dengan selalu menenteng kaleng minuman itu selama sesi wawancara, foto, juga ketika naik podium.

Hal itu dilakukan Gerhard bertahun-tahun, walaupun harus kucing-kucingan dengan penyelenggara F1, sebab pihak promotor biasanya sudah punya sponsor minuman beralkohol dan melarang jenama minuman lain ikut 'curi panggung' sebagai sorotan.

Totalitas Bangun Tim

Selain sifat berani dan nekat, barangkali aspek penting yang bisa dipetik dari sosok Dietrich Mateschitz adalah totalitas terhadap apa yang dicintai. Hal itu pula yang membuat nama Red Bull terbilang harum di mata para penggemar olahraga, terutama karena sikap loyal dalam meramaikan berbagai cabang olahraga, serta kesungguhan dalam mencetak bibit-bibit atlet muda.

Logo Red Bull hampir pasti terpampang sebagai salah satu sponsor acara atau atlet di ajang-ajang sepeda MTB dan BMX, parkur, ski dan snowboarding, skateboard, skydiving, MTB, panjat tebing, breakdance, bahkan sampai acara-acara unik dan remeh macam kompetisi pesawat kertas.

Terutama pada lanskap F1, Dietrich tercatat berani mengambil keputusan untuk berhenti menjadi sponsor biasa pada 2001, dan akhirnya membuat tim sendiri lewat akuisisi Jaguar Racing. Ini juga karena gairahnya mencetak pembalap muda hasil didikan Red Bull sendiri.

Akhirnya, saat ini Red Bull tercatat memiliki dua tim F1, Red Bull Racing sebagai tim utama, serta Scuderia AlphaTauri yang diambil dari nama lini bisnis apparel milik Red Bull dan diplot sebagai tim pengorbit pembalap muda.

Adapun, akademi Red Bull Junior Team juga melahirkan belasan pembalap-pembalap kompetitif di F1 dalam dua dekade belakangan. Red Bull juga membeli sirkuit Österreichring di Spielberg, Styria, Austria pada 2011, membuatnya menjadi Red Bull Ring.

Tujuannya membangun dan menghidupkan lagi sirkuit tersebut, sebab sempat dicekal menyelenggarakan ajang balapan karena alasan keamanan pada medio 2003.

"Semua ini bermula dari totalitas Dietrich dan Red Bull dalam mendukung motorsport. Tanpa itu semua, tanpa keberanian Dietrich meyakinkan saya memakai produknya yang saat itu bahkan belum keluar, nama Red Bull mungkin tidak akan sebesar sekarang," tutup Gerhard.

Berdasarkan analisis Forbes pada Juli 2023, saat ini Red Bull Racing menempati peringkat ke-3 tim F1 paling jumbo dengan valuasi US$2,6 miliar atau sekitar Rp39,6 triliun. Tim yang dipimpin Christian Horner ini diperkirakan memiliki pendapatan hingga US$510 juta pada akhir 2023 dengan EBITDA senilai US$85 juta.

Red Bull hanya kalah dari Ferrari yang valuasinya diperkirakan mencapai US$3,9 miliar dan Mercedes dengan perkiraan valuasi US$3,8 miliar. Namun, Red Bull masih lebih besar ketimbang tim-tim F1 legendaris sekaliber McLaren (US$2,2 miliar), Alpine Renault (US$1,4 miliar), dan Williams (US$725 juta).


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper