Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Adrian Zecha, Raja Hotel Mewah Paling Mahal di Indonesia, Asal Sukabumi

Punya hotel mewah Grup Aman dengan harga puluhan juta per malam, simak sosok Adrian Zecha, pria asal Sukabumi
Adrian Zecha, Raja Hotel Mewah Paling Mahal di Indonesia, Asal Sukabumi
Adrian Zecha, Raja Hotel Mewah Paling Mahal di Indonesia, Asal Sukabumi

Bisnis.com, JAKARTA - Hotel Amanjiwo belakangan ramai diperbincangkan, lantara harga kamarnya yang selangit. Tak tanggung-tanggung, bisa mencapai Rp50 juta per malam. 

Hotel mewah tersebut terletak di Magelang, Jawa Tengah, dan dekat dengan situs keajaiban dunia, Candi Borobudur, kompleks candi terbesar di dunia. 

Hotel tersebut menawarkan kamar berukuran besar dengan pemandangan menghadap ke Candi Borobudur, atau memiliki akses langsung ke taman yang asri maupun ke kolam renang pribadi. 

Selain itu, yang membuat harganya semakin tinggi adalah karena berbagai fasilitas yang ditawarkan seperti antar pulang pergi dari Bandara Internasional Yogyakarta, teh sore tradisional setiap hari, pemandu budaya terjadwal oleh antropolog, sarapan a la carte setiap hari, mini bar dengan makanan ringan pilihan dan minuman ringan yang diisi ulang setiap hari, dan antar-jemput terjadwal di sekitar kawasan Borobudur. 

Hotel super mewah di Jawa Tengah itu ternyata adalah milik pria keturunan Peranakan China asal Sukabumi, yang sempat terdepak dari Indonesia saat masa perang lantaran Presiden Soekarno menasionalisasi perusahaan swasta, membuat keluarganya berpencar melarikan diri ke Singapura, Belanda dan negara-negara lain.

Adalah Adrian Willem Ban Kwie Lauw-Zecha, atau dikenal dengan Adrian Zecha, kelahiran Sukabumi 91 tahun silam.  yang merupakan mantan jurnalis Time, sukses membangun kerajaan hotel kelas dunia. 

Adrian Zecha tercatat sukses membangun kerajaan jaringan hotel Aman Resorts, setelah berpengalaman berjibaku di dunia perhotelan dan menjadi pendiri hotel Regent Internasional. 

Mengutip Robb Report, pria kelahiran Sukabumi tahun 1933 itu berasal dari keluarga terhormat William Lauw-Zecha dan Bebe Lauw-Zech. 

Selama masa perang,  Adrian bersekolah di sekolah Jepang pada siang hari dan mendapat pelajaran dari ayahnya pada malam hari. 

Semasa kecilnya ayahnya ingin Adrian menjadi seorang dokter dan takut saya tidak belajar apa pun dari orang Jepang. Namun, setelah pindah ke Pennsylvania, AS, dia menyadari bahwa kemampuannya sudah jauh melampaui anak-anak Amerika seusianya kala itu. 

Tak lama setelah perang berakhir, keluarga Zecha pindah ke Pennsylvania tengah, tempat dia bersekolah di Williamsport High School. Setelah lulus SMA pada usia 15 tahun, dia mendaftar di Dickinson College.  

Setelah Dickinson, Zecha memperoleh gelar master di bidang sains dari Universitas Columbia. Namun alih-alih masuk sekolah kedokteran, seperti yang diperintahkan ayahnya, dia kembali ke Indonesia untuk mengejar karir di bidang jurnalisme. 

Dia pertama kali bekerja di UPI, kemudian menjadi seorang stringer untuk New York Times, dan akhirnya untuk majalah Time.  

Dengan kepiawaiannya sebagai jurnalis, Zecha juga menerbitkan koran regional pertama di Asia, Asia Magazine pada 1961. Dia membangun perusahaan media tersebut dengan pendanaan US$500.000 dari seorang pemuda Australia bernama Rupert Murdoch.  

Usaha penerbitan Zecha akhirnya berkembang ke bidang seni, perjalanan, dan bisnis, namun dia menjual sahamnya di perusahaan tersebut pada tahun 1972. Sepanjang masa kerjanya di dunia media, dia banyak menghabiskan waktunya, dua tahun musim dingin di Courchevel, Prancis, dan musim panas di Bali, sebelum menjadi penasihat di Hotel Marriott.

Pada 1972 Adrian membantu mendirikan Regent International Hotel, salah satu wralaba hotel mewah pertama di Asia. Dalam bisnis hotel ini, Adrian bersama dengan dua rekannya membangun hingga 12 hotel sebelum 1986 dengan biaya US$30 juta. 

Membangun Hotel Sendiri

Adrian Zecha, Raja Hotel Mewah Paling Mahal di Indonesia, Asal Sukabumi

Tanpa strategi, tanpa punya visi, satu tahun kemudian, dia pergi ke Phuket untuk mendapatkan tanah untuk membangun rumah peristirahatan. Di Pantai Pansea, hamparan pasir halus berbentuk bulan sabit dengan pemandangan pulau-pulau kapur yang tampak mengapung di atas perairan lepas pantai. 

Tempat itu begitu apik, tapi ada satu masalah, di mana tida ada akses untuk mendatangkan air. Dia kemudian berpikir, jika dia membangun beberapa vila liburan untuk temannya, Adrian dapat mengamortisasi biaya saluran air.  

Lebih lanjut, karena teman-teman dan rekan bisnisnya tidak mungkin tinggal di sana sepanjang tahun, dia dapat memperluas konsep tersebut dengan menyewakan vila-vila mereka ketika mereka bepergian dan dengan membangun paviliun tamu untuk wisatawan lain.  

Model bisnisnya saat itu dibuat dengan matematika sederhana, antara membuat sesuatu dalam jumlah besar dan kenakan biaya yang sangat sedikit, atau buatlah sesuatu dalam jumlah kecil dan kenakan biaya yang besar.

Akhirnya, Adrian memutuskan untuk membangun hotelnya sendiri. Alih-alih membangun hotel mewah seperti yang didirikannya sebelumnya, Adrian membanun hotel berkonsep kecil dengan hanya ada 50 kamar.

Hotel dengan konsep gedung yang kecil dan jumlah kamar yang sedikit ini memungkinkan lokasi wisata terpencil bisa ikut punya hotel. 

Pada 1987, Adrian selesai mendirikan jaringan hotel Aman Resort pertama, Amanpuri, dengan hanya 40 unit kamar. Setiap vila yang dibangunnya di Amanpuri menawarkan kompleks luas yang terdiri dari tiga paviliun terpisah, ruang makan, ruang tamu, dan kamar tidur besar, yang terletak di sekitar kolam renang pribadi. 

Hotel ini memanjakan para turis ini dengan cara yang tidak pernah ada di oleh hotel-hotel lain, bahkan menyemprotkan air ke pasir pantai yang panas untuk menangkal panasnya sinar matahari tengah hari.  

Dalam enam bulan setelah pembukaan, Amanpuri sukses. Keberhasilannya membuat Adrian tertarik melanjutkan Aman di Bali dengan membangun Amandari, resor berkonsep butik minimalis yang sulit dijangkau dan dekat dengan alam. 

Kini, nama Aman sudah terkenal di seluruh dunia, sebagai jaringan hotel berkelas dengan konsep yang dekat dengan alam. Sejumlah hotel dengan nama depan "Aman" berada di bawah Aman Group milik Adrian. 

Namun, Adrian menegaskan bahwa setiap Aman memiliki konsep berbeda. Hanya saja, elemen kuncinya, adalah desainnya harus relevan dengan lokasi resor. 

Sepanjang dirinya membangun bisnis hotel Aman, Adrian juga menolak untuk menurunkan standarnya, yang sempat membuatnya kehilangan kendali sementara atas perusahaan yang dia dirikan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel


Penulis : Mutiara Nabila
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpopuler

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper

Terpopuler