Senin, 22 September 2014 RSS Feed Bisnis TV Photos ePaper Indonesia Business Daily

KONGLOMERASI: Dafam Group, & orang-orang di belakangnya

  -   Rabu, 14 November 2012, 18:02 WIB

BERITA TERKAIT

PESATNYA pertumbuhan kelas menengah Indonesia dalam 3 tahun terakhir telah melahirkan grup usaha perhotelan seperti Dafam Group. Siapa mereka? Siapa di belakangnya?
 
Nama Dafam Group (PT Dafam Hotels & Resort) barangkali belum sepopuler kelompok usaha hotel lain yang lebih dulu eksis. Santika atau Harris Group, sekadar menyebut contoh, jelas lebih terkenal.
 
Tapi kiprahnya dalam 3 tahun terakhir ini jelas tak boleh diremehkan. Hanya dalam 3 tahun itu, Dafam Group sudah membangun 7 hotel yang seluruhnya telah beroperasi aktif. 
 
Empat hotel di antaranya terdapat di Jawa Tengah, yakni Hotel Dafam Pekalongan, Hotel Dafam Semarang, Hotel Marlin Pekalongan, dan Hotel Dafam Cilacap.
 
Satu hotel ada di Yogyakarta, yakni Hotel Grand Dafam MM Yogyakarta, dan dua sisanya di Bandung, Jawa Barat, yaitu Hotel Vio Cimanuk, dan Hotel Vio Pasteur.
 
TIdak berhenti di situ. Masih ada 13 hotel lain yang segera beroperasi aktif. Tiga di antaranya di Bandung, yaitu Hotel Vio Suropati, Hotel Dafam Pasar Baru, dan Soviatel.
 
Di Yogyakarta bertambah 2, Hotel Dafam Malioboro dan Hotel Gaiatree. Di Solo ada Hotel Dafam Solo. Dafam Group juga merambah Bali dengan Hotel Dafam Legian dan Avani Villa Spa & Resort.
 
Di Bandarlampung, tidak lama lagi akan beroperasi dua hotel di bawah bendera Dafam Group, yakni Hotel Grand Dafam Lampung dan Hotel Dafam Luxury Lampung.
 
Masih ada dua hotel lagi di luar Jawa, yakni Hotel Dafam Istana di Luwuk SUlawesi Selatan dan Hotel Q Banjarbaru di Banjarbaru Kalimantan Selatan. 
 
Tak hanya beroperasi di daerah, atau di pinggiran menurut teori makan bubur panas, Dafam Group juga mulai masuk agak ke tengah, dengan membangun dan mengelola Hotel Grand Dafam Bekasi.
 
Total jenderal 20 hotel. Dan perkembangan bisnis yang cepat dan impresif itu masih ditambah rencana jangka pendek yang ambius: Mengelola 50 hotel pada 2015.
 
Pertanyaannya, dari mana Dafam Group beroleh modalnya?
 
***
 
AGAK berbeda dengan kebanyakan grup hotel lainnya, Dafam Group sejak awal memilih tidak membangun seluruh jaringan hotelnya sendiri.
 
Opsi untuk bekerja sama dengan hotel lain dibuka, termasuk built operate transfer (BOT). Jadi bukan sekadar membangun dan memiliki hotel sendiri,
 
Dafam Group juga menawarkan pengelolaan dengan sejumlah opsi-opsi investasi kemitraan. Itulah sebenarnya penjelasan dari kecepatan perkembangan bisnis Dafam Group.
 
Dan seluruh pengelolaan dan pembangunan jaringan hotel itu ada di bawah kendali Andhy Irawan, direktur manajer Dafam Group yang juga salah satu orang kunci di balik keberhasilan Dafam Group.
 
Andhi adalah profesional yang memulai karir dari nol. Alumnus Akademi Pariwisata dan Perhotelan Bali ini kenyang pengalaman di berbagai jaringan hotel, seperti Hilton, Novotel, dan Swiss-Belhotel.
 
Berbagai penghargaan pun sudah diraih pekerja keras ini, mulai dari the best employee sampai The best general manager of the year untuk wilayah Asia Pacific dalam Swiss-Belhotel International.
 
Berbekal pengalaman dan penghargaan itulah, ditambah dengan jaringannya yang luas, Andhi pun kini dipercaya menjadi orang nomor satu di Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Jawa Tengah
 
Berdiri di belakang Andhi adalah Billy Dahlan yang berada di posisi presiden direktur dan F. Soleh Dahlan sebagai presiden komisaris. Soleh Dahlan inilah pemilik sebenarnya Dafam Group.
 
Jangan salah. Soleh adalah keturunan Tionghoa bernama asli Hoo Tian Po. Dia pernah menjadi pengurus Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia untuk cabang Jawa Tengah.
 
Soleh memang sangat  mengenal Jawa Tengah. Rumah keluarganya ada di Pekalongan, tapi dia bersekolah, dan belakangan berbisnis di Semarang.
 
Soleh adalah alumnus SMA Kolose Loyola Semarang angkatan 1969. Itu salah satu SMA terbaik di Jawa Tengah. Hanya lulusan SMP terbaik saja yang bisa masuk ke SMA itu.
 
Selain mengelola hotel, Soleh juga dikenal punya banyak bisnis. Ada beberapa perumahan yang juga dikembangkannya, antara lain Perumahan Jatayu Residence di Pekalongan. 
 
Unit bisnisnya yang lain adalah sarang burung walet. Soleh bahkan pernah memimpin Asosiasi Pengusaha Sarang Burung Walet Jawa Tengah, sebelum akhirnya mantab di jalur perhotelan. 
 
Impresifnya perkembangan jaringan hotel Dafam Group yang tercapai hanya dalam tempo 3 tahun itulah buah manis hasil arahan Soleh, yang ditopang kerja keras Andhi plus kepemimpinan Billy.
 
Apakah kemudian rencana ambisius Dafam Group dapat terealisasi? Sampai seberapa lama Soleh dkk mampu meyakinkan investor? Kita akan lihat. (bastanul.siregar@bisnis.co.id)
 
* Foto: Kunjungan Dafam Group ke Kantor Perwakilan Bisnis Indonesia Semarang

Editor :

Ikuti berita Bisnis.com melalui smartphone Android dengan aplikasi Android Apps Bisnis.com. Download di Google Play!
 
Berlangganan ePaper Bisnis dan Indonesia Business Daily bisa dengan PayPal. Klik disini!
Reader's Choice: Pilih Topik menarik untuk Diulas oleh Harian Bisnis Indonesia. Klik disini!

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

 

POPULER