Anindya: Jangan pernah rugi jika libatkan uang Bakrie!

Anindya Novyan Bakrie, putra sulung Aburizal Bakrie, berdiri di depan podium dengan tele-prompter di sisi kiri dan kanan di hadapannya. Keluarga dekat dari tiga generasi duduk di kursi baris paling depan di hadapannya.
Rezza Aji Pratama
Rezza Aji Pratama - Bisnis.com 01 Desember 2010  |  16:30 WIB

Anindya Novyan Bakrie, putra sulung Aburizal Bakrie, berdiri di depan podium dengan tele-prompter di sisi kiri dan kanan di hadapannya. Keluarga dekat dari tiga generasi duduk di kursi baris paling depan di hadapannya.

Juga hadir sejumlah petinggi Nanyang Technological University, Singapura, yang berbaur di antara keluarga Bakrie dari tiga generasi itu, di antaranya adalah Professor Bertu1 Anderson, dan Barry Desker, Dekan S. Rajaratnam School of International Studies atau RS1S.
 
Ruangan pertemuan, aula Chinese Heritage Centre, salah satu tempat di kompleks Nanyang University, tidaklah terlalu luas, tak lebih luas dari ukuran lapangan tenis. Namun, tamu yang memenuhi ruangan itu antusias menyaksikan peluncuran Bakrie Professorship in Southeast Asian Policy.
 
Anin, begitu pengusaha muda ini biasa disapa, adalah pendiri sekaligus Chairman Bakrie Center Foundation, yang punya ajang peluncuran program itu. "Saya sebenarnya mulai merasa gugup," ujarnya. "Jika saya gagal tampil dengan baik, reputasi saya akan ternoda di tiga generasi keluarga. Dan barangkali lebih," lanjutnya.
 
"(Jika gagal) barangkali saya akan dikirim ke kelas public speaking bersama generasi keempat," kata pria muda itu.
 
Pidato Anin yang singkat, sekitar 20 menit, yang membahas tiga topik, yakni tentang tanggung jawab Asean bagi kawasan dan dunia, tentang social entrepreneur, dan public private partnership di bidang pendidikan, mengesankan. Komentar pun langsung muncul, "Great speech," kata seorang diplomat yang berdiri di sebelah saya, bahkan meminta naskah pidato yang saya pegang.
 
Tentang Asean, misalnya, Anin mengatakan, "Betul-betul menggembirakan bahwa hanya dalam 2 tahun sejak krisis global 2008, Asean tidak hanya pulih, tetapi booming."
 
"Ini kabar baik." Bahkan, yang jauh lebih baik lagi, "Kenaikan ekonomi Asean diikuti oleh kematangan politik."
 
Maka dia pun mengusung contoh kematangan demokrasi di Indonesia. "Kami telah bertransformasi dari rezim otoriter ke negara demokrasi terbesar ketiga di dunia dalam dekade ini. [Ini tidak mudah. Ini tidak dapat dibilang prestasi kecil," ujarnya.
 
Poin lebih penting lagi, katanya, status politik Asean mulai sebanding dengan kepercayaan ekonominya. Asean memang telah memulai dengan integrasi internal dan memperdalam hubungan dengan kekuatan eksternal seperti China, Jepang, India dan Amerika Serikat. "Tetapi apakah Asean dapat bergerak lebih jauh lagi?"
 
Pertanyaan itu diajukan mengingat Indonesia akan menjadi Chairman Asean tahun depan, saat di mana KTT Asia Timur akan melibatkan partisipasi Amerika dan Rusia. "Asean ha-rus mencapai lebih tinggi lagi dan start harus dibuat."
 
Lantas apa hubungannya dengan Bakrie Center dan Singapura? Anin tampaknya sudah memiliki penjelasan soal ini. "Indonesia dan Singapura harus memulai perjalanan ke depan dengan membangun peningkatan kapasitas di kawasan."
 
Indonesia adalah negara terbesar di Asean, kaya dengan sumber daya alam, dan tengah mencoba membangun sumber daya manusianya. Singapura adalah negara kecil, tetapi kaya sumber daya manusia, selain menjadi hub finansial di Asean.
 
Karena itulah, Bakrie Center yang didirikan generasi ketiga keluarga Bakrie, menggandeng Nanyang Technological University untuk membangun kapasitas sumber daya manusia melalui pendirian Bakrie Professorship in Southeast Asian Policy.
 
Sistem pendidikan
 
Mengaku terinspirasi dari kakeknya, Ahmad Bakrie, Anin mengatakan sistem pendidikan harus menyiapkan anak didik yang mampu bersaing secara internasional saat ini dan pada masa yang akan datang.
 
Melalui Bakrie Professorship sebagai pusat pengetahuan untuk Kajian Asia Tenggara serta Bakrie Graduate Fellowships, tujuan itu hendak diwujudkan. Tahun depan, Anin berniat mengirim sekitar 100 mahasiswa untuk belajar program master selama 12 hingga 18 bulan. Dalam 2 tahun, ditargetkan 200 "lulusan kelas satu" akan dilahirkan dari program ini. "Kami minta mereka untuk kembali ke Indonesia dan berkontribusi untuk kepentingan masyarakat."
 
Dari mana uangnya? Program yang dikelola RSIS itu akan dibiayai dari dana abadi SS6 juta, atau sekitar Rp40 miliar, di mana SS3 juta di antaranya disumbang Bakrie Center, dan SS3 juta disumbang Pemerintah Singapura.
 
"Ini menjadi template bagi public-private partnership di bidang pendidikan. Mudah-mudahan ditiru negara lain dan perusahaan lain," kata Anin.
 
Dia pun berseloroh, Bakrie dan Pemerintah Singapura tentu saja tidak ingin kehilangan uang itu. "Kami mengikuti dua aturan Warrent Buffet. Aturan nomor 1 Jangan pernah rugi. Aturan nomor 2 Jangan pernah lupa aturan nomor I; dan saya boleh tambahkan, terutama jika itu melibatkan uang Bakrie dan Singapura," katanya disambut tepuk tangan meriah.
 
Anin juga menekankan pentingnya membangun Indonesia yang lebih sejahtera, dengan memulai mengubah paradigma pemimpin masa depan. Tempat memulai perubahan adalah Singapura, di mana terdapat "ikatan untuk saling berbagi dan berhubungan secara khusus."
 
"Seperti negara Asia Tenggara lainnya, Indonesia dan Singapura adalah bangsa pemakan nasi. [Tetapi] nasi goreng kami lebih enak," kata Anin.
 
Menekankan persamaan jauh lebih penting ketimbang mengungkit perbedaan, barangkali itulah filosofinya. Karena itu, Anin sengaja memilih Chinese Heritage Center sebagai tempat meluncurkan Bakrie Professorship.
 
"Sebagai pribumi, saya ingin menurunkan dinding perbedaan etnis yang kadang-kadang tak terhapuskan dalam pikiran kita," tutur Anin. Boleh juga.(arief. budisusilo@bisnis.co.td)

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Rezza Aji Pratama

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top