Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

The Hamburger of Happiness

--- Model The Junk Food Burger. Burger yang satu ini enak tetapi tidak sehat. Ini adalah analogi untuk orang-orang yang hidupnya hanya mengejar kenikmatan dan menghindari penderitaan.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 01 Juni 2013  |  12:56 WIB

--- Model The Junk Food Burger. Burger yang satu ini enak tetapi tidak sehat. Ini adalah analogi untuk orang-orang yang hidupnya hanya mengejar kenikmatan dan menghindari penderitaan.

Dapatkah kita menjelaskan kebahagiaan dengan menggunakan hamburger? Tentu saja bisa, dan Tal Ben Shahar adalah buktinya. Pakar Psikologi Positif dari Harvard University ini menemukan model hamburger ini dari pengalamannya sendiri.

Shahar yang penggemar hamburger berpuasa makan hamburger sebulan lamanya karena harus menata pola makannya menjelang turnamen squash. Nah, ketika turnamen tersebut berakhir dan timnya menang, ia pun merayakannya dengan pergi ke restoran untuk menyantap makanan kesukaannya itu.

Namun hanya beberapa detik sebelum menyantap hamburger  ia merasakan sesuatu yang berbeda. Mendadak ia tak berselera dan tak ingin mencicipi hamburger itu. Sesuatu tengah berkecamuk di pikirannya.

Mengapa aku harus menyantap makanan ini, padahal sudah sebulan aku menghindarinya? Mengapa aku perlu menghindarinya? Bukankah karena makanan ini dapat mempengaruhi kesehatanku dan kesiapanku untuk mengikuti turnamen squash? Lantas, kalau memang makanan ini kurang sehat, mengapa aku harus memakannya sekarang? Apakah aku hanya ingin mengejar kenikmatan sesaat untuk kemudian membayar kerugiannya di masa depan?

THE HAMBURGER MODEL

Pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di kepala Shahar pada akhirnya memberikan inspirasi untuk membuat sebuah model sederhana mengenai kebahagiaan. Model ini menjelaskan  kebahagiaan dilihat dari perspektif jangka pendek dan jangka panjang. Ketika melakukan sesuatu setiap orang pasti ingin mendapatkan manfaat dan keuntungan.

Namun apakah orang tersebut sudah memikirkannya dari perspektif yang utuh yaitu keuntungan jangka pendek dan jangka panjangnya sekaligus, atau hanya memikirkan salah satu dari kedua perspektif waktu tersebut? Model Hamburger melihat keuntungan dalam perspektif sekarang dan di masa depan. Dengan dua perspektif tersebut kita akan mendapatkan 4 model mengenai kebahagiaan.
 

Model pertama adalah The Junk Food Burger. Burger yang satu ini enak tetapi tidak sehat. Ini adalah analogi untuk orang-orang yang hidupnya hanya mengejar kenikmatan dan menghindari penderitaan. Mereka adalah kaum hedonis yang hanya berpikir untuk kesenangan pada hari ini saja. Mereka melakukan tindakan yang membuat mereka senang hari ini tanpa memikirkan konsekuensi yang akan mereka hadapi di masa yang akan datang.

Karena hanya memikirkan hari ini saja maka tak heran kalau mereka kemudian melakukan hal-hal yang buruk. Saya kira semua orang yang korupsi dan selingkuh adalah orang yang hanya memikirkan kesenangan di masa sekarang. Mereka bahkan berpikir bahwa konsekuensi itu belum tentu akan terjadi karena mereka masih bisa berusaha untuk mengakalinya.

Bukankah banyak orang yang korupsi tetapi masih bisa selamat dari kejaran hukum? Bukankah banyak orang yang selingkuh tetapi rumah tangganya aman-aman saja? Bagi kaum hedonis yang terpenting dalam hidup ini adalah menikmati hari ini. Besok adalah bagaimana nanti dan tak perlu dipikirkan apalagi dirisaukan.

Sesungguhnya tindakan-tindakan seperti inilah yang dimaksud dengan dosa. Dalam agama dosa adalah ketika kita melanggar larangan Tuhan. Namun saya mempunyai definisi yang berbeda mengenai dosa. Dosa menurut saya adalah ketika kita mengorbankan kenikmatan jangka panjang demi kenikmatan jangka pendek.

Model kedua disebut Vegetarian Burger yang sehat tapi tidak enak. Ini adalah analogi untuk orang yang menunda kebahagiaan hari ini demi kenikmatan di masa depan. Sebuah peribahasa lama menjelaskan model ini dengan sangat baik: Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Atau dalam bahasa Inggrisnya: no pain no gain.

Masalahnya adalah, bukankah hidup kita itu adalah sekarang ini? Kalau demikian mengapa kita harus menunda kebahagiaan kita? Kalau kita harus sukses dulu sebelum bahagia, apa yang akan terjadi kalau kita belum sukses-sukses juga? Mengapa kita harus mengorbankan kebahagiaan kita hari ini? Lantas sampai kapan kita merasa cukup untuk mulai menikmati kebahagiaan?
 

Menginginkan kebahagiaan di masa depan tentu saja baik, dan sangat dianjurkan. Tetapi bila hal itu harus ditebus dengan penderitaan di hari ini tentu bukan seperti itulah hidup yang kita inginkan.

Model ketiga, adalah The Worst Burger. Ini burger yang tidak enak sekaligus tidak sehat. Ini adalah analogi untuk orang yang hidupnya tanpa arah dan hanya menghabiskan waktu untuk memikirkan apa yang salah.

Mereka tak punya kendali atas hidupnya dan merasa tak berdaya menghadapi segala tantangan hidup. Mereka adalah orang-orang yang disebut  Martin Seligman sebagai Learned Helplessness yaitu orang-orang yang belajar untuk menjadi tidak berdaya melalui pengalaman-pengalaman buruk yang mereka yakini.

Model keempat adalah The Ideal Burger. Inilah burger yang enak sekaligus juga sehat. Shahar menggunakan analogi ini untuk menjelaskan mengenai orang yang mencari kebahagiaan baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang. Orang-orang yang seperti ini hidup dalam keseimbangan, kesejahteraan dan kebahagiaan.

Bagaimana cara mencapai hidup yang semacam ini? Shahar menyarankan kita semua agar mencari dua hal dalam setiap tindakan yang kita lakukan yaitu pleasure dan meaning. Kita perlu senantiasa mencari tindakan-tindakan yang mendatangkan kenikmatan tetapi kenikmatan tersebut haruslah juga merupakan sesuatu yang bermakna, sesuatu yang bermanfaat dan membesarkan diri kita di masa yang akan datang.

*Managing Director ILM, Happiness Inspirer & Penulis buku “I Love Monday”

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

korupsi makanan manusia

Sumber : *Arvan Pradiansyah

Editor : Martin Sihombing
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top