ZAINULLAH, Panen Untung dari Gelegar Suara Bambootronic

Aneka perangkat audio—seperti mini active speaker, speaker dan home theater—dengan menggunakan kayu sebagai bahan baku mungkin sudah marak ditemukan. Namun, pernahkah Anda melihat perangkat audio itu dari bahan baku bambu?
Mulia Ginting Munthe
Mulia Ginting Munthe - Bisnis.com 13 Juni 2013  |  07:53 WIB

Aneka perangkat audio—seperti mini active speaker, speaker dan home theater—dengan menggunakan kayu sebagai bahan baku mungkin sudah marak ditemukan. Namun, pernahkah Anda melihat perangkat audio itu dari bahan baku bambu?

Di tangan Zainullah, 44, bambu menjelma menjadi berbagai perangkat audio dengan tampilan yang menarik dan unik, dan lekat dengan konsep ramah lingkungan.

Gebrakan Zainullah memang terbilang cerdas. Dalam pandangan masyarakat kebanyakan, penggunaan bambu sebagai bahan baku hanya terbatas pada produk kerajinan, perlengkapan rumah tangga seperti pagar, hingga peralatan musik tradisional khas, di antaranya kolintang dari Sulawesi Utara dan angklung dari Jawa Barat.

”Kalau orang lain bisa menjadikan bambu sebagai produk yang bernilai tambah, mengapa saya tidak. Sekarang ini, kebutuhan masyarakat terhadap keunikan suatu produk sudah mulai tinggi. Saya menawarkan produk ini karena melihat ada peluang yang sangat besar,” tutur seniman dari Jawa Timur yang bermukim di Bogor, Jawa Barat, kepada Bisnis.

Berangkat dari keinginannya itu, Zainullah kemudian mulai menekuni bisnisnya secara serius di bawah perusahaan Audio Bambu dengan merek dagang Bambootronic. Usaha ini diakui Zainullah baru ditekuni setahun lalu.

Sebelum serius menekuni bisnis ini, pria yang akrab disapa Cak Nul ini mengelola bisnis usaha kecil menengah, yakni Mitra Jasa Technical (MJT). Perusahaan skala kecil tersebut menawarkan jasa servis berbagai produk elektronik di antaranya televisi, radio, kulkas, air conditioner (AC), laptop, dan komputer.

Jasa servis produk elektronik yang didirikan Zainullah tersebut sebetulnya sudah dikenal luas oleh masyarakat di seluruh wilayah Jabodetabek. Namun, gempuran produk elektronik yang membanjiri pasar domestik membuat Zainullah putus asa.

Zainullah merasakan betul dampak negatif dari peredaran produk elektronik asal China yang cukup masif itu. Alih-alih menggunakan jasa servis, masyarakat lebih memilih membeli produk elektronik yang baru.

“Apalagi produk elektronik dari China sangat murah. Ongkos membeli barang baru dengan servis tak jauh berbeda. Bisnis kami kolaps.”

Gagal di bidang servis elektronik, Cak Nul menjajal pelatihan yang diselenggarakan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan di Kota Bogor.

Dari pelatihan itu, Cak Nul mendapatkan berbagai macam pe ngetahuan mengenai pengolahan bambu, terutama kerajinan dari bambu.

Cak Nul tidak sepenuhnya tertarik pada kerajinan yang dihasilkan. Dalam benaknya, Cak Nul bertekad menghasilkan produk yang unik dari bambu. Berbekal sepak terjangnya dalam mengelola bisnis jasa servis elektronik, Cak Nul banting setir menjadi perajin perangkat audio dari bambu.

Speaker aktif dari bambu yang dihasilkan Cak Nul ini bisa digunakan untuk komputer, laptop, handphone, dan MP3 player. Prosesnya cukup sederhana karena ia hanya merangkai elektoda-elektroda lalu dimasukkan ke dalam tabung bambu.

Uji coba terhadap produknya ter sebut dilakukan melalui pameran yang diadakan Lembaga Inkubator Bisnis UKM (Ikubis) Institut Pertanian Bogor yang memang sangat fokus memberdayakan pelaku UKM inovatif.

MILIKI KEUNGGULAN

Kendati terbuat dari bambu, Zainullah memastikan produknya tidak kalah bersaing dengan produk sejenis lainnya. Bahkan, Zainullah memastikan produknya memiliki keunggulan dibandingkan dengan produk audio keluaran pabrik. Salah satu keunggulan produk Bambootronic adalah sensasi suara yang dihasilkan karena lebih lembut dan nyaman di telinga.

Alumnus Pondok Pesantren di Situbondo, Jawa Timur itu, mengklaim bambu yang dijadikan boks speaker ternyata mampu memberikan gaung nada bas dan treble yang lebih lembut dan kuat ketika dikoneksikan ke berbagai perangkat lainnya, termasuk ke komputer dan laptop.

Yang mengagumkan, Zainullah mendesain sendiri seluruh model perangkat audio yang diciptakannya dengan dibantu sekitar lima perajin bambu.

Tercatat telah ada puluhan unit perangkat atau pelengkap audio untuk berbagai perangkat yang telah di hasilkan Audio Bambu yang berba sis di kawasan Gunung Batu, Bogor, Jawa Barat. Zainullah bahkan mampu menghasilkan tape sekelas mini compo dengan bahan dasar bambu.

Tak terbatas pada produk itu saja, Zainullah juga terus bereksperimen menghasilkan berbagai produk lainnya, seperti home theatre. Untuk produk ini, Zainullah masih mengandalkan pesanan yang masuk mengingat harganya masih terbilang tinggi, yakni mencapai Rp2,5 juta.

Harga produk yang dihasilkan Audio Bambu relatif bervariasi, mulai dari Rp100.000, Rp200.000 hingga Rp2,5 juta. “Harga tertinggi untuk produk home theatre.”

Tidak sulit bagi Zainullah dan pekerja atau perajinnya, karena pekerjaan umumnya dilaksanakan berdasarkan order. Jika tidak ada order, dia bersama timnya melakukan inovasi produk atau mengembangkan model perangkat elektronik yang masih berbasis audio.

Oleh karena itu, modalnya masih pas-pasan, perangkat produksi yang dipergunakan juga masih sederhana.

“Ke depan, saya ingin meningkatkan pemanfaatan mesin agar proses produksi bisa lebih cepat serta menghasilkan kapasitas dengan skala lebih besar dari saat ini.”

Zainullah bersama rekannya juga bertekad mengembangkan produk inovatif lainnya, yakni jam dinding yang seluruh bahan bakunya terbuat dari bambu, termasuk gear atau pemutar petunjuk angka.

Zainullah beruntung. Belum lama ini, pada puncak peringatan Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) 2013, Zainullah termasuk dalam daftar penerima modal kerja sebesar Rp20 juta dari Kementerian Koperasi dan UKM, setelah proposal bisnis yang diajukannya lolos seleksi.

”Tetapi, saya akan sangat gembira apabila ada investor yang mau bekerja sama untuk membangun dan mengembangkan bisnis audio bambu. Modal yang saya dapatkan jelas sangat kecil untuk mengembangkan kapasitas usaha ini. Terlebih untuk menghadirkan mesin industri,” tutur Zainullah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
entrepreneur, peluang usaha, kewirausahaan

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top