Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Startup e-Commerce Masih Tertatih

Bisnis.com, JAKARTA—Perusahaan pemula (startup) untuk e-commerce di Indonesia dinilai membutuhkan waktu lama untuk dapat mencapai kestabilan usaha.
Galih Kurniawan
Galih Kurniawan - Bisnis.com 14 Agustus 2013  |  22:56 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Perusahaan pemula (startup) untuk e-commerce di Indonesia dinilai membutuhkan waktu lama untuk dapat mencapai kestabilan usaha.

“Pasar online di Indonesia masih cukup awal, untuk tinggal landas butuh landasan yang lebih panjang,” ujar Chief Execcutive Officer Merah Putih Inc Antonny Liem, Rabu (14/8/2013).

Menurutnya, tantangan terbesar yang dihadapi pebisnis adalah kemauan konsumen untuk membeli berbagai produk dan jasa melalui jalur online.

Dia tidak menampik penetrasi Internet di Indonesia cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir. Namun kondisi itu belum berbanding lurus dengan peningkatan transaksi e-commerce secara nasional.

“Selama bertahun-tahun pengguna Internet banyak dimanjakan dengan barang gratis, tetapi sekarang mulai berubah,” katanya.

Dia optimistis kondisi tersebut bakal berubah seiring dinamika teknologi yang terjadi. Antonny menyebutkan kemunculan application store oleh berbagai produsen perangkat mobile perlahan mulai mengubah perlaku pengguna Internet. Menurutnya, saat ini pengguna Internet mulai terbiasa dengan pembelian software secara online.

“Tapi skalanya belum cukup karena ekosistem belum besar. Pasar juga masih perlu tumbuh,” ujarnya.

Dia mengatakan pebisnis yang baru terjun di industri ecommerce harus menyadari bahwa investasi tersebut adalah untuk jangka panjang. Keuntungan pada bisnis tersebut tidak bisa dilakukan dalam jangka pendek. Dia memperkirakan butuh waktu dua hingga tiga tahun bagi startup ecommerce untuk dapat mencapai kestabilan bisnis.

Antonny menyebutkan Merah Putih sebagai inkubator bisnis saat ini terlibat dalam pengembangan tiga perusahaan e-commerce. Namun, ketiga perusahaan itu belum ada yang menghasilkan keuntungan signifikan.

Menurutnya, salah satu e-commerce-nya yang berkembang adalah Krazy Market yang menjual barang-barang spesifik seperti benda seni, dan mainan vintage.

Dia mengatakan Merah Putih akan memfokus pada startup yang berbasis aplikasi, consumer dan media. “E-commerce kami hold dahulu, kami tata ulang termasuk modelnya nanti.”

Merah Putih tengah mengembangkan website komunitas bernama Kincir. Startup hasil kolaborasi dengan vokalis band Nidji Giring Ganesha itu dibuat sebagai wadah para fans grup band dan penyanyi.

Antonny menyebutkan Kincir sudah menggandeng sedikitnya 114 musisi, yang mana 80 di antaranya aktif mengelola halaman mereka di Kincir, serta berinteraksi dengan fans.

Menurut dia, monetisasi Kincir akan dilakukan melalui penjualan merchandise, tiket konser, dan lagu.

Dia optimistis wahana tersebut dapat menjadi alternatif para musisi yang masih terdampak kasus Black October alias unreg ring back tone (RBT) massal. “Kami juga buat agenda offline. Monetisasi sudah dilakukan tapi skalanya masih kecil.”

Dia menyebutkan Merah Putih selama ini tidak membatasi lama pendampingan startup untuk berkembang. Kebijakan itu, katanya, berbeda dengan venture capital yang biasanya menuntut perusahaan startup yang didanai untuk menghasilkan keuntungan dalam jangka waktu tertentu.

Dia menegaskan tidak pernah membatasi waktu pendampingan lantaran untuk mencapai kestabilan bisnis startup butuh waktu lama. Dia menilai saat ini tren perkembangan startup di Indonesia mulai menuju ke hal positif di mana entrepreneur tidak lagi berlomba menjual perusahaannya namun lebih memilih mengembangkannya.

Menurut data Asosiasi Ecommerce Indonesia (idEA), jumlah konsumen yang bertransaksi online baru mencapai 6,5% dari total pengguna Internet Indonesia yang tahun ini diperkirakan mencapai lebih dari 80 juta. Rata-rata mereka menghabiskan US$256 per tahun untuk berbelanja online.

IdEA menyebutkan infrastruktur yang ada saat ini belum mencukupi termasuk tuntutan untuk edukasi konsumen. Pemerintah juga diharapkan dapat memberikan dukungan yang signifikan melalui penciptaan regulasi yang berdampak positif. IdEA memperkirakan transaksi online di Indonesia akan mencapai US$10 miliar pada 2016.

Pendiri Ideosource Andi S Boediman sebelumnya mengatakan berdasarkan penelitian yang dia lakukan tahun ini nilai transaksi e-commerce dapat mencapai US$478 juta dari total 19 juta transaksi lebih. Nilai transaksi itu diprediksi bakal menembus US$776 juta pada 2014.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

e-commerce e-trading
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top