Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Mengubah Kayu Bekas Menjadi Barang Berkelas

Material kayu bekas tak hanya memiliki nilai ekonomis tinggi. Ketidaksempurnaan yang ada di material ini justru memiliki keunikan sendiri. Bagaimana cara mengubahnya menjadi barang bernilai?
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 23 Maret 2014  |  06:59 WIB
Mengubah Kayu Bekas Menjadi Barang Berkelas
Contoh pigura dari kayu bekas. - ilustrasi
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA -- Material kayu bekas tak hanya memiliki nilai ekonomis tinggi. Lebih dari itu, ketidaksempurnaan yang ada di material ini justru memiliki keunikan sendiri. Menurut Irianto, pemilik Cipta Graha Art, furnitur daur ulang diminati konsumen karena produknya unik dan tidak ada kembarannya.

Selain itu, kesan aus dan lusuh dari kayu-kayu bekas tersebut justru mencuatkan sisi historis yang tinggi. “Konsumen pun seakan memiliki benda seni, meski bentuknya hanyalah sebuah furnitur,” katanya.  

Bahan baku potongan kayu pun tak sembarangan. Irianto memakai kayu yang bersifat keras dan telah berumur tua. Beberapa di antaranya adalah kayu bekas rumah, kayu bekas kapal, hingga kayu bekas bantalan rel kereta api. Rata-rata kayu bekas tersebut berjenis kayu jati tua. “Kayu-kayu ini tingkat kekeringannya tinggi sehingga tahan air, rayap, dan jamur.”

Menurut Irianto ada tantangan tersendiri kala mengolah kayu bekas. Karena bentuknya tak beraturan, dia harus menyesuaikan tiap palet kayu dengan desain furnitur yang akan dibuat. Tak jarang, dia harus mencopot paku-paku besar yang tertanam di kayu kapal dan bantalan kereta api.

Suwartini dari CV Nuansa Kayu Bekas, juga menyatakan hal serupa. Berbeda dengan furnitur baru yang mulus, konsumen justru akan menemukan lubang-lubang bekas paku, baut, ataupun kawat di permukaan kayu. Namun demikian, ketidaksempurnaan tersebut justru menghasilkan kesan unik dan antik.

Namun demikian, Suwartini tetap memilih dan menyeleksi palet-palet kayu yang akan digunakan sebagai bahan baku. “Meski bentukannya tak sempurna, kami pastikan kayu-kayu tersebut kuat dan bisa digunakan dalam jangka waktu lama,” kata Suwantini.

Seiring meningkatnya permintaan dari buyer asing, Irianto terus mendorong kapasitas produksi dengan cara menambah jumlah karyawan. Jika di awal dia hanya memiliki 10 orang perajin kayu, kini Irianto dibantu oleh 60 orang perajin tetap. “Saya juga mengusung konsep perajin plasma. Jumlah perajin plasma yang saya bina mencapai 100 orang perajin.”

Untuk bahan baku, CV Nuansa Kayu Bekas mendapatkan kayu-kayu bekas tersebut dari rekanan supplier. Sedangkan, Irianto mendapatkan material kayu kapal dari beberapa nelayan dari berbagai daerah di Pantai Utara Pulau Jawa, antara lain Madura, Jember, Banyuwangi, dan Tuban.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

peluang usaha mebel
Editor : Setyardi Widodo
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top