Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kemuning, Produk Kecantikan Lokal Go International

Mengaplikasikan gaya hidup sehat tak sekadar mengatur asupan makanan, tetapi juga perawatan tubuh. Sayangnya, tak banyak produk perawatan badan yang memiliki kandungan alami.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 23 April 2014  |  13:45 WIB
Produk kecantikan. Produk kosmetik nasional banyak go internastional - Istimewa
Produk kecantikan. Produk kosmetik nasional banyak go internastional - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA--Mengaplikasikan gaya hidup sehat tak sekadar mengatur asupan makanan, tetapi juga perawatan tubuh. Sayangnya, tak banyak produk perawatan badan yang memiliki kandungan alami.

Produk yang rata-rata buatan  pabrik tersebut memiliki takaran zat kimia yang berbeda kadarnya. Meski hanya dioles di permukaan kulit, zat kimia tersebut bisa menyusup ke jaringan tubuh lewat pori-pori.

Jika sudah masuk ke dalam jaringan tubuh, zat kimia tersebut bisa menimbulkan berbagai efek samping. Mulai dari alergi, gatal-gatal, hingga yang paling parah kanker kulit. Alhasil, makin banyak konsumen yang meninggalkan produk massal dan memilih produk perawatan tubuh alami.

Fenomena ini membuka pintu peluang bisnis di bidang kecantikan. Salah satunya adalah munculnya produk perawatan tubuh non-kimia alias natural. Para pelaku usaha di bidang ini menawarkan ragam bahan-bahan alami sebagai bahan dasar. Material tersebut di antaranya buah, sayuran, minyak zaitun, hingga bahan baku jamu yang dikenal dengan istilah empon-empon.

Christina Daniel Losong adalah salah satu pelaku usaha yang terjun ke bisnis ini. Di bawah bendera Kemuning Java Traditional, dia merintis usaha ini sejak 2008 silam.

Christina mengaku ketertarikannya untuk berbisnis produk perawatan kecantikan muncul kala dia dan keluarganya hijrah ke daerah Gunung Kidul, Yogyakarta. Di wilayah selatan Jawa tersebut, dia menemukan potensi besar, yakni empon-empon. Dia pun memiliki keinginan untuk mengolah temu ireng, jahe merah, temulawak, pandan, dan akar wangi menjadi produk herbal yang bisa dikonsumsi masyarakat.

Setelah berjalan selama dua tahun, Christina mengubah haluan bisnis herbal tersebut menjadi produk perawatan tubuh. “Waktu itu ada konsumen dari Jepang yang minta dicarikan produsen sabun herbal. Ternyata, konsumen luar memiliki minat ke produk perawatan tubuh herbal. Saya pun menawarkan diri untuk jadi produsen,” ujar  lulusan Institut Ilmu Sosial dan Politik (IISIP) Jakarta ini.

Christina mengaku pada mulanya Kemuning hanya memproduksi sabun herbal. Seiring berjalannya waktu, dia mulai melakukan berbagai eksperimen. Hasilnya, dia berhasil memproduksi banyak varian produk, misalnya sabun cair (body foam), pelembab tubuh (body lotion), sampo, masker, lulur, garam mandi, body scrubbody butter, hingga minyak aroma terapi (aroma theraphy oil).

Kendati produknya bisa dipakai oleh konsuman umum, dia mengaku pelanggan Kemuning kebanyakan adalah pelaku usaha spa. Para pelaku usaha spa ini biasanya memesan bermacam-macam produk dalam jumlah besar. Bahkan, Christina sudah berulang kali mengekspor produknya ke Jepang, Malaysia, dan Brunnei Darussalam.

Produk perawatan tubuh Kemuning dibanderol mulai dari Rp8.000---Rp55.000 per kemasan. Dari bisnis ini, Christine bisa mengantongi omzet sebesar Rp25 juta setiap bulannya.

Berbekal pengetahuan akan kimia yang dia dapat kala SMA, dia mencoba mencampurkan berbagai macam senyawa untuk membuat produk perawatan tubuh.

Dia menambahkan, pembuatan produk Kemuning masih dilakukan dengan tradisional (handmade). Pertama, bahan baku dikeringkan hingga kadar airnya mencapai 0%. Tahap ini wajib dilakukan agar bahan tidak berjamur. Selanjutnya, bahan baku digiling hingga menjadi bubuk. Setelah itu, bubuk tersebut dicampur dengan bahan-bahan pendukung misalnya minyak kelapa murni (VCO), minyak zaitun, dan lain-lain.

Setiap bulan, perempuan yang memiliki rumah spa ini mengaku mampu memproduksi ratusan kilogram produk setiap bulannya. “Produksi lulur bubuk bisa mencapai 100 kg, body butter 150 kg. Kapasitas produk lainnya juga tak kalah banyak,” ujarnya.

Tingginya kapasitas produksi jelas mencerminkan besarnya permintaan pasar. Oleh karena itu, Christina dan Nadya sama-sama optimis dengan masa depan produk perawatan tubuh natural. Kombinasi antara kandungan alami, kemasan representatif, dan strategi pemasaran jitu bisa membuat produk UKM agar mampu bersaing dengan merk besar.  

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

peluang usaha
Editor : Ismail Fahmi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top