Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PELUANG BISNIS: Harum Semerbak Produk Kecantikan Wangsa Jelita

Bisnis produk perawatan tubuh makin kinclong. Terbukti, banyak pemain baru bermunculan bak jamur di musim hujan. Mereka menawarkan konsep natural yang aman untuk kulit dan badan
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 23 April 2014  |  14:10 WIB
 Produk Wangsa Jelita - Bisnis
Produk Wangsa Jelita - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA- Bisnis produk perawatan tubuh makin kinclong. Terbukti, banyak pemain baru bermunculan bak jamur di musim hujan. Mereka menawarkan konsep natural yang aman untuk kulit dan badan.

Saat ini, ada berbagai jenis produk perawatan tubuh yang dijual di pasar. Produk tersebut merupakan barang yang dibuat pemain besar. Skala produksinya pun tak main-main. Ini karena produk perawatan tubuh termasuk ke dalam barang harian yang habis dipakai. Tak heran, permintaan konsumen tak pernah surut.

Salah satu pelaku usaha yang merasakan harumnya bisnis produk perawatan tubuh adalah Nadya Saib. Bersama dua sahabatnya, Fitri dan Amira, dia memproduksi produk bermerk Wangsa Jelita.

Kendati minat untuk berbisnis di ranah kecantikan tumbuh sejak SMA, Nadya baru mendapat Kesempatan setelah dia menyelesaikan kuliah pada 2008.

Nadya mengaku ketertarikannya memproduksi perawatan berkonsep natural karena banyaknya produk buatan pabrik yang mengandung bahan-bahan kimia.

“Karena punya ilmunya, aku jadi tahu kalau banyak produk kecantikan yang tidak sepenuhnya aman untuk kulit,” ujar lulusan jurusan farmasi Institut Teknologi Bandung ini.

Bermodalkan uang Rp1,5 juta, Nadya dan teman-temannya mulai melakukan eksperimen. Produk pertama yang mereka buat adalah sabun batangan. Kegiatan ini berlangsung selama satu tahun hingga akhirnya mereka menemukan formula Wangsa Jelita yang tepat.

Seiring berjalannya waktu, Nadya mulai menambah varian produk. Kini, Wangsa Jelita menjual empat jenis produk, yaitu sabun batangan, body lotionbody scrub, dan minyak kecantikan (beauty oil). Masing-masing produk terdiri dari beberapa varian, a.l. teh hijau (green tea), mawar, vanilla, sandalwood, hingga lavender.

Sejak awal menjual produk, Wangsa Jelita membidik kalangan perusahaan (corporate).

“Banyak perusahaan yang membeli produk kami untuk dijadikan sebagai suvenir,” katanya. Dia mengaku pihaknya mulai memfokusnya penjualan ritel di toko online  mulai tahun ini.

Produk Wangsa Jelita dijual mulai dari Rp25.000—Rp96.000 per kemasan. Harga tersebut sesuai dengan jenis dan ukuran masing-masing produk.

Awalnya, Nadya memang memproduksi produk Wangsa Jelita dengan perlengkapan sederhana di rumah. Namun, dengan cara ini dia menghadapi kendala meningkatkan kapasitas produksi. Oleh karena itu, dia bekerja sama dengan salah satu pabrik yang memproduksi barang sejenis.

“Kami bertiga membuat formulasi utama di rumah. Setelah mendapat formula tepat, kami lemparkan produksi ke pabrik. Teknologinya memang modern, tapi formulanya kami jaga tetap alami,” ujar Nadya.

Selain mampu meningkatkan kapasitas produksi, cara ini dinilai lebih higienis.

Soal kapasitas produksi, Wangsa Jelita bisa memproduksi ribuan botol perawatan kecantikan. Jumlah tersebut di antaranya 2.000 batang sabun, 1.250 botol body lotion, 1.250 body scrub, dan 1.000 body oil setiap bulannya. Jumlah ini naik berkali-kali lipat dari produksi awal.

Lebih lanjut, Nadya mengatakan saat ini minat masyarakat mengonsumsi perawatan alami terus tumbuh. Namun demikian, pelaku usaha di bidang ini harus terus mengedukasi konsumen.

“Kami harus terus memberi informasi kepada masyarakat tentang kandungan apa saja yang baik dan tidak baik tubuh mereka.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

peluang bisnis peluang usaha
Editor : Linda Teti Silitonga

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top