Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Membatik Untung dari Kolaborasi Nilai Lokal dan Modern ala Denim Lazuli Sarae

Mengolaborasikan nilai-nilai lokal dengan semangat modernitas menjadi misi Lazuli Sarae dalam setiap proses produksinya. Merek yang mengombinasikan antara kebudayaan kontemporer barat berupa bahan denim dengan nilai lokal Indonesia berupa batik berhasil menciptakkan produk yang bernilai jual tinggi.
Nenden Sekar Arum
Nenden Sekar Arum - Bisnis.com 13 Agustus 2014  |  07:56 WIB
Membatik Untung dari Kolaborasi Nilai Lokal dan Modern ala Denim Lazuli Sarae

Bisnis.com, JAKARTA - Mengolaborasikan nilai-nilai lokal dengan semangat modernitas menjadi misi Lazuli Sarae dalam setiap proses produksinya. Merek yang mengombinasikan antara kebudayaan kontemporer barat berupa bahan denim dengan nilai lokal Indonesia berupa batik berhasil menciptakkan produk yang bernilai jual tinggi.

Berawal dari ide tugas akhir mahasiswa jurusan Teknik Kriya Tekstil Institut Teknologi Bandung terkait eksplorasi desain batik di atas material denim, Ivan Kurniawan dan tiga rekannya, Gilang M. Iqbal, Maretta A. Nirmanda, dan Nuzuli Hada mengikutkannya sebagai ide bisnis dan menjadi juara II dalam kompetisi bisnis yang diselenggarakan oleh Kementrian Perdagangan pada 2010.

Berbekal hadiah uang sebesar Rp10 juta dan program pembinaan kewirausahaan, ide bisnis tersebut mulai dirintis menjadi usaha fesyen dengan merek Lazuli Sarae sejak 2011.

“Eksplorasi batik di atas bahan denim sebenarnya sudah banyak dan dilakukan dengan berbagai macam teknik, tapi kami merupakan pioneer yang mulai memasarkannya produknya,” papar Ivan yang merupakan Co-Owner dan Direktur Lazuli Sarae.

Untuk menghasilkan produk dengan kualitas dan nilai jual tinggi, Ivan dan timnya tak ragu-ragu untuk terus melakukan riset mulai dari pemilihan bahan, desain batik hingga konsep fesyen yang dihadirkan bagi para konsumen. Untuk sekali riset, waktu yang dibutuhkan sekitar 6 bulan hingga setahun.

“Konsep yang terbaru adalah Art Deco, hal itu sesuai dengan basis usaha kami, Bandung, yang merupakan salah satu museum Art Deco terbesar di dunia,” katanya.

Yang menjadi ciri khas desain Art Deco adalah potongannya yang geometris dan asimestris yang tercermin kepada desain pakaian yang dipasarkan melalui berbagai market place seperti Zalora, Rakuten, Hijup dan lazulisarae.com.

Selain itu, produk yang dipasarkan dengan kisaran harga Rp200.000-Rp500.000-an itu juga seringkali mengikuti berbagai event nasional seperti Jakarta Fashion Week, Inacraft dan berbagai eksebisi lainnya.

Sejak 2011 hingga saat ini, Lazuli Sarae telah memproduksi 101 item fashion seperti pakaian luar, kemeja, dress, celana, pakaian muslim hingga aksesoris seperti scarf dan tas. Adapun, rata-rata penjualan tiap bulannya sekitar 200 hingga 500 produk.

“Mayoritas penjualan secara online, karena dapat menyasar konsumen lebih luas dibandingkan dengan gerai offline yang kami buka di Alun-alun Indonesia, Pendopo alam sutera, dan Sarinah,” imbuhnya.

Setelah respons yang dinilai cukup baik dari pasar dalam negeri, ke depannya Lazuli Sarae juga tengah dipersiapkan untuk mulai merambah pasar luar negeri. Sehingga, riset untuk konsep khusus bagi konsumen asing terus dilakukan.

“Sudah ada beberapa produk yang masuk pasar Malaysia melalui reseller, tapi jumlahnya belum banyak. Semoga kami juga bisa mulai ekspansi ke luar negeri dengan konsep yang kuat dan dapat diterima pasar,” harapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batik
Editor : Nurbaiti

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top