Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Gavin Maxwell Faull, Sosok Pemimpin yang Melayani

Seorang pemimpin identik berwewenang untuk mengatur, mengkoordinasikan, dan mengelola seluruh lini manajemen yang menjadi tanggung jawabnya, agar perusahaan berjalan dengan lancar.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 03 April 2015  |  02:50 WIB
Gavin Maxwell Faull, Sosok  Pemimpin yang Melayani
CEO Swiss-Belhotel Gavin Maxwell Faul - Bisnis.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Seorang pemimpin identik berwewenang untuk mengatur, mengkoordinasikan, dan mengelola seluruh lini manajemen yang menjadi tanggung jawabnya, agar perusahaan berjalan dengan lancar.

Meskipun berwenang untuk mengendalikan seluruh lini usaha, tetapi pemimpin tidak kemudian berhak menyuruh anak buah dengan sekehendak hatinya. Prinsip ini dipegang teguh oleh CEO Swiss-Belhotel Gavin Maxwell Faul dari awal kariernya hingga saat ini.

“Ketika anda memiliki karyawan, tempatkanlah dia layaknya keluargamu. Mereka adalah aset dari perusahaan dan layak diberikan hak. Jangan pernah menyuruh apa yang kamu tak mau lakukan karena dengan demikian mereka akan sadar terhadap kewajiban mereka,” ujar pria asli Selandia Baru ini.

Menurut Faul, salah satu tugas dari seorang pemimpin adalah menempatkan karyawan untuk bekerja di tempat yang layak dan tidak menuntut secara berlebihan.

Hal ini diyakininya dapat membuat pekerja dapat bekerja secara maksimal dan secara sukarela mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Upaya untuk memberikan keleluasaan karyawan untuk mengejawantahkan perintah yang diberikan oleh atasan sesuai koridor perusahaan, juga diterapkan oleh Faull.

Dia mengatakan memiliki standar khusus dalam merekrut karyawan yang akan bekerja di hotel berskala internasional yang dipimpinnya itu. Menurutnya, pengenalan karakter dari setiap karyawan adalah kunci utama agar mencapai tujuan bersama. “Ketika saya mengenal dengan siapa bekerja, maka saya dan karyawan akan bekerja dengan nyaman dan percaya. Saya percaya hasilnya akan lebih positif,” tuturnya.

Faull meyakini salah satu kunci sukses untuk menjalankan manajemen hotel sekelas Swiss-Belhotel International adalah sikap yang cair. Hal ini dibuktikan Faull dengan tidak membatasi diri untuk berbincang dengan siapapun di dalam hotel. Selama ini, dia menerapkan sikap yang cair mulai dari pemilik hotel yang manajemennya dikelola oleh perusahaannya, karyawan, hingga masyarakat sekitar.

“Saya berusaha menempatkan diri sebagai seorang yang mendengar dan memberikan solusi saat orang datang. Tempatkan Anda sebagai solusi, bukan sebagai masalah. Baik kepada pemilik, karyawan, dan tentu saja terutama pada tamu,” ujarnya. Di hotel yang dikelolanya, Faull dikenal sebagai pemimpin yang selalu memiliki waktu untuk mendengarkan keluhan tamu hotel dan kar yawan.

Dia meyakini dengan strategi itu, maka tamu hotel akan menjadi pelanggan setia. Bekerja di sektor jasa perhotelan, maka kepuasan pelanggan menjadi utama. Pada kasus ini, Faull menganalogikannya pada minuman jenis bir dan wine. Menurutnya, saat kedua jenis minuman itu mampu memberikan kualitas unggulan, maka yang membuat perbedaan signifikan adalah kenikmatan yang dirasakan peminumnya.

“Demikian halnya dengan konsumen. Saat pesaing usaha mampu memberikan kualitas pelayanan hotel yang sama atau bahkan lebih, maka yang membedakan adalah faktor layanan kenyamanan yang berkesan.  Semua ini perkara kultur,” ungkapnya.

Tantangan terbesar yang dihadapi Faull dalam mengelola jaringan hotel adalah mewujudkan mimpi untuk menjadikan perusahaannya sebagai yang terbaik. Melalui upaya menanamkan visi perusahaan kepada karyawan, maka pelayanan terbaik kepada pelanggan dapat diraih dengan baik. Faull mengungkapkan upaya yang dilakukannya itu tidak mudah karena harus mengawalinya dengan memberikan kompensasi yang layak pada seluruh karyawan.

“Hal itu dapat dilakukan jika kondisi ekonomi perusahaan stabil. Banyak perusahaan punya mimpi yang hebat, tetapi mereka tidak sadar kemampuan ekonomi perusahaan tidak stabil. Hasilnya mereka gagal mengakomodasi tunjangan bagi karyawan, dan berakhir pada kebangkrutan,” katanya.

Faull dikenal sebagai pemimpin yang tidak takut mengambil risiko. Di masa mudanya dia pernah merasakan bekerja di lima tempat sekaligus, dan dua di antaranya mendapatkan gaji di bawah standar.

Dia bahkan pernah mengalami peristiwa tidak dibayar selama tiga bulan di hotel tempatnya bekerja. Namun, semua itu tidak menyurutkan langkahnya untuk belajar dan menarik hikmah dari peristiwa liris yang dialaminya. “Saya tidak peduli berapa gaji yang saya dapatkan. Saya hanya ingin mengetahui di mana potensi dan hal yang menjadi kesukaan saya. Menurut saya, uang uang bukanlah segalanya. Saat Anda lahir, Anda tidak membawa uang, begitu pula saat mati. Kekayaanmu menjadi nol kembali,” tuturnya.

Saat ini, Faull dengan kekayaannya yang dimilikinya mampu menjadi pengusaha yang mengembangkan bisnis hotel dengan sewa yang terjangkau, tetapi memberikan layanan hotel bintang lima di sejumlah kota sekunder dan tersier.

Dengan gaya kepemimpinannya yang cukup cair, dia dikenal sebagai pengusaha yang berani mengembangkan hotel di daerah yang kurang diminati investor seperti Ambon, Merauke, Kendari dan Kupang. Dia mengaku daerah yang kurang diminati itu memiliki potensi daerah yang cukup besar dan masyarakatnya mudah untuk dilibatkan dalam bisnis yang dijalankannya ini.

Faull pertama kali mempraktikan strategi bisnis hotel dengan segmentasi hotel bujet di Indonesia pada 1991. Saat itu, keputusannya sempat diragukan banyak orang karena mata rantai hotel bujet di Indonesia belum dikenal sama sekali. “Lihatlah Indonesia hari ini. Investasi di tempat-tempat aneh, dengan menghilangkan persaingan adalah salah satu strategi bisnis dengan berpikir secara berbeda dan efektif,” katanya.

Di bawah kepemimpinan Faull, manajemen Swiss-Belhotel mampu berekspansi cepat. Dalam dua dekade, perusahaan Swiss-Belhotel memiliki dan mengelola hotel di China, Vietnam, Filipina, Malaysia, Indonesia, Australia, Kuwait, Bahrain, Oman, Irak, Qatar, dan Arab Saudi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pemimpin kecantikan

Sumber : Bisnis Indonesia, Minggu (5/4/2015)

Editor : Fatkhul Maskur
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top