Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sulit Cari Cangklong, Akhirnya Produksi Pipa Sendiri

Pipa tembakau atau cangklong dinilai sempat menghilang di Indonesia pada saat krisis moneter, karena kebanyakan cangklong merupakan produk impor dari luar negeri.
Nenden Sekar Arum
Nenden Sekar Arum - Bisnis.com 09 September 2015  |  10:30 WIB
Cangklong Pipa Wijayan
Cangklong Pipa Wijayan

Bisnis.com, JAKARTA - Pipa tembakau atau cangklong dinilai sempat menghilang di Indonesia pada saat krisis moneter, karena kebanyakan cangklong merupakan produk impor dari luar negeri.

Karena kesulitan untuk mendapatkannya, akhirnya beberapa orang mencoba untuk membuat sendiri dan terus bertahan menjalankan bisnisnya hingga saat ini.

Salah satu produsen pipa atau pipe-maker yang mendapat julukan Empu Pipa Indonesia adalah Sasongko Sigid. Pria yang akrab disapa Pakdhe Sas itu memproduksi cangklong dengan nama Pipa Wijayan.

Pria yang berdomisili di Tangerang itu mulai berpikir memproduksi cangklong karena kesulitannya untuk mendapat cangklong dan tembakau pipa, yang pada saat krisis moneter seakan menghilang di pasaran.

“Sejak peristiwa 1998 cangklong dan tembakau sangat sulit ditemukan, kalau mau beli harus menunggu teman yang pergi ke luar negeri untuk titip, sementara di Indonesia adanya cangklong untuk suvenir dan tidak layak untuk digunakan,” katanya.

Berawal dari situ, dia pun berpikir bagaimana agar pipa dan tembakau mudah ditemukan, sehingga pipa tembakau tidak punah serta para pipe-smoker memiliki alternatif pilihan selain produk-produk impor.

Pakdhe Sas pun mencoba untuk memproduksi pipa tembakau, awalnya hanya satu untuk digunakan sendiri. Setelah dirasakan, dia merasa cocok dengan pipa buatannya. Lalu dia memproduksi lagi sekitar 20 pipa dan dibagikan cuma-cuma kepada anggota komunitas tembakau.

Pipa buatannya tersebut mendapat respons yang cukup baik, dan dia pun mulai rutin mendapatkan pesanan pembuatan pipa. Sekarang dalam sebulan dia mampu membuat sekitar 30 pipa yang semuanya dikerjakan sendiri.

“Pesanan cukup banyak, sampai saya sering kewalahan untuk mengerjakannya. Saat ini saja masih ada 40 pesanan pipa yang harus selesai dalam dua bulan,” katanya.

Setiap produk Pipa Wijayan tersebut dibanderol mulai dari harga Rp450.000 hingga hitungan yang tak terhingga, sesuai dengan bahan yang digunakan. Pakdhe Sas mengaku pernah mengerjakan pesanan pipa seharga Rp6 juta dengan bahan kayu morta yang diimpor dari Inggris.

Sasongko melihat iklim bisnis pembuatan cangklong saat ini sudah mulai terbentuk, dengan mulai bermunculannya para pipe-maker baru. Hal itu menunjukkan bahwa adanya permintaan yang terbentuk di pasar.

Dia pun mengatakan untuk bisa merebut pasar atau mendapatkan konsumen loyal, yang diperlukan adalah adanya rasa percaya. Untuk membentuk kepercayaan itu, pipe-maker harus mengetahui apa yang diinginkan konsumen.

Ada dua hal yang menjadi kunci, yakni desain atau tampilan cangklong, serta teknis pembuatan pipa. Dua hal tersebut harus diaplikasikan dengan baik pada setiap pipa yang dibuat, sehingga selain layak untuk dikoleksi juga nikmat saat digunakan.

“Dua hal itu penting untuk menyasar pasar premium seperti para kolektor. Kalau mereka sudah cocok dengan produk buatan pipe-maker, pipa dengan harga berapa pun akan dibeli,” katanya.

Selain bermain di pasar premium, Sasongko melihat masih adanya peluang bisnis untuk pasar pemula. Di mana, cangklong yang dibuat sebaiknya dibanderol dengan harga yang cukup murah, sehingga bisa dijangkau oleh orang-orang yang baru menggunakan cangklong.

“Saat ini masih susah ditemukan pipa seharga Rp100.000-an, padahal pasarnya masih terbuka lebar dan potensi bisnisnya sangat besar jika ada yang bermain di pasar ini,” paparnya.

Dia juga memberikan gambarang tentang kondisi pasar cangklong di Indonesia. Saat ini ada sekitar 4.000 orang yang tergabung dalam komunitas pipa dan tembakau di Indonesia, jika dari jumlah tersebut 20%-nya adalah pemipa aktif, maka ada sekitar 800 orang yang membutuhkan pipa, dan biasanya tidak cukup satu.

“Pasar pipa tembakau akan terus berkembang, meskipun perlahan tetapi secara pasti menunjukan pertumbuhan,” ujarnya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Rokok peluang usaha tembakau
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top