ENTREPRENEUR TIONGHOA: Jangan Sekadar Kongkow…

Sekarang ini adalah momentum tepat berinvestasi di Indonesia. Harga komoditas yang saat ini sedang murah justru akan memberi peluang. Apalagi, lanjutnya, orang Indonesia sangat toleran dan wilayahnya sangat luas sehingga masih banyak daerah butuh sentuhan investasi.
Feri Kristianto & Y. Bayu Widagdo
Feri Kristianto & Y. Bayu Widagdo - Bisnis.com 28 September 2015  |  12:55 WIB
ENTREPRENEUR TIONGHOA: Jangan Sekadar Kongkow…
Mochtar Riady.

"Indonesia ibarat kertas polos [yang tinggal ditulisi], masih banyak peluang investasi [ di sini]. Saya yang sudah berusia 87 tahun masih merasakan negara ini Indonesia adalah lahan bagus."

Kalimat bernada rayuan itu meluncur dari Mochtar‎ Riady, pendiri Lippo Grup, di Bali Nusa Dua Convention Centre (BNDCC), Bali pada Sabtu (26/9/2015) saat berbicara di The 13th World Chinese Enterpreneurs Convention‎ (WCEC).  Tidak hanya Mochtar yang coba merayu. Pada kesempatan sama, pemilik Harum Enery‎ Tbk.,  Kiki Barki juga senada dengan Mochtar.

Kiki yang juga Ketua Umum Perhimpunan Pengusaha Indonesia Tionghoa (Perpit) dengan lugas‎ menyatakan sekarang ini adalah momentum tepat berinvestasi di Indonesia. Harga komoditas yang saat ini sedang murah justru akan memberi peluang. Apalagi, lanjutnya, orang Indonesia sangat toleran‎ dan wilayahnya sangat luas sehingga masih banyak daerah butuh sentuhan investasi.

"Ini adalah momentum investasi di Indonesia, karena mungkin dari US$1 yang Anda tanam bisa menjadi US$2-US$3, sebab semua barang sedang murah sekarang. Itu sangat memungkinan sekali, dan [kita] pernah alami pada krisis 1998 lalu yang bisa kita lewati dengan baik," tuturnya bersemangat di atas podium.

‎Dua miliarder Indonesia versi majalah Forbes itu ‎ berupaya menyakinkan sekitar hampir 3.000 pengusaha Tionghoa yang menjadi peserta WCEC ke-13 itu.  Panggung rayuan itu sangat tepat karena, ajang WCEC mempertemukan ribuan pengusaha keturunan China dari seluruh dunia untuk melahirkan gagasan penting bagi kemajuan perekonomian di berbagai kawasan.

Konvensi ini pertama kali diprakarsai oleh pendiri Singapura, Lee Kuan Yew, pada 1991. Keinginan mendingan Lee saat itu, karena keinginan Singapura menjadi pusat perniagaan di Asia yang tentu membutuhkan dukungan modal dan jaringan. Dia sangat memahami besarnya peran perantau keturunan China yang tersebar di berbagai negara dalam memajukan perekonomian negara di mana pun mereka tinggal.

Beberapa catatan memperlihatkan warga China perantauan kini berjumlah hampir 60 juta orang dan nilai asset yang dikuasai ditaksir mencapai US$15 triliun. Lee menyakini bila pengusaha keturunan itu bersinergi, saling memperkuat modal dan jaringan, maka akan merupakan kekuatan sangat besar, khususnya bidang ekonomi.

Maka tidak mengherankan dalam setiap pelaksanaanya WCEC selalu memberikan daya tarik berbeda dan menjadi forum yang paling dicari pengusaha keturunan Tionghoa.‎ Paling tidak dari pertemuan ini bisa memperluas jaringan dan selanjutnya bila cocok tentu akan ada kesepakatan bisnis.

“Yang penting ke sini bikin networking baru dan harus ditindaklanjuti supaya event ini menghasilkan. Jadi tidak hanya sekadar kongkow-kongkow,”ujar Tahir, bos Mayapada Group.

Dalam pelaksanaanya di Bali, ajang dwi tahunan ini dihadiri sekitar 2.700 pengusaha asal China dan keturunan China dari seluruh dunia. Mereka merupakan utusan 131 organisasi pengusaha Tionghoa dari 23 negara seperti Singapura, Hong Kong, Thailand, Jepang, Perancis, Australia, Amerika Serikat hingga Kanada.

Saatnya ke Indonesia

Kiki menilai konvensi ini sangat penting bagi Indonesia karena searah dengan momentum pembangunan yang sedang digalakkan oleh pemerintah. Dia menyakini konvensi seperti ini akan memberikan arti penting bagi pembangunan nasional, karena yang hadir ada pengusaha dengan modal dan jaringan bisnis yang luas.

"Tidak sedikit mereka yang berkeinginan untuk menanamkan modal di Indonesia, meski pengetahuan mereka umumnya masih terbatas mengenai negeri ini," ujarnya.

Bos Maspion Grup Alim Markus mengakui konvensi seperti ini sangat memberikan manfaat berupa ruang bertukar pikiran antar pengusaha keturunan di seluruh dunia. Menurutnya, tantangan pengusaha keturunan China saat ini adalah regenerasi.

‎Bagi Indonesia, ajang seperti ini ibarat durian runtuh. Pemerintahan Joko Widodo memperkirakan Indonesia membutuhkan lebih dari Rp5.500 triliun untuk membiayai seluruh proyek infrastruktur yang diperlukan untuk menggerakkan roda perekonomian.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pemerintah tidak bisa mengandalkan kantong APBN semata, tetapi harus menarik investor dari luar negeri. Berbagai upaya sudah dilakukan agar investor tertarik menanamkan modalnya di Indonesia, mulai dari menyederhanakan perizinan hingga promosi ke berbagai negara.

‎Sayangnya, upaya tersebut tidak mudah dan butuh biaya besar untuk promosi dan memanggil sejumlah pengusaha besar dari manca negara datang ke Tanah Air atapun mendatangi ke negara bersangkutan. Namun, dengan mempertemukan pengusaha keturunan China dari seluruh dunia‎ di Bali, biayanya lebih hemat dan sangat efektif.

Ditambah lagi, kehadiran miliarder Indonesia seperti Mochtar Riady, Kiki Barki, Dato Tahir Seri Tahir pemilik Grup Mayapada, Sukanto Tanoto pemilik Asian Agri hingga Alim Markus pemilik Maspion Grup akan membantu promosi.

Tidak mengherankan sejumlah petinggi negeri ini hadir, seperti Ketua MPR Zulkifli‎ Hasan, Presiden RI ke-5 Megawati Soekarno Putri, Menkopolhukam Luhut B. Panjaitan, Menteri Perhubungan Ignatius Jonan, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Yuddy Chrisnandi, Menteri Perdagangan Thomas Lembong hingga‎ Wakapolri Komjen Budi Gunawan.‎ Bahkan, di ajang ini pula Zulkifli, Megawati, dan Luhut kompak meminta pengusaha keturunan Tionghoa dari berbagai negara untuk berinvestasi di sini.

Megawati menyampaikan Indonesia tetap terbuka bagi investor keturunan China, karena wilayah yang sangat luas sehingga tidak cukup bila membangun sendiri. "Teman investor dari China maupun dari 30 negara lainnya akan kami terima dengan baik, kembalilah ke Indonesia pada waktu-waktu yang akan datang," undangnya.

Terkait dengan undangan kepada para investor, baik para pengusaha keturunan Tionghoa maupun lainnya, Luhut memberikan jaminan bahwa investor yang menanamkan dananya di Indonesia akan dilayani dan tidak dihambat dalam prosesnya. Dia meminta investor datang ke kantornya apabila proses investasinya dihambat.

"‎Jika investasi Anda bermasalah, kantor saya terbuka, jangan kuatir investasi di Indonesia. Return di Indonesia sangat bagus," ungkapnya.‎

‎Apapun jaminannya, setidaknya WCEC mulai memberikan secerah harapan dibandingkan dengan konvensi lain. Mochtar Riady memberikan gagasan konkrit agar pengusaha keturunan Tionghoa ini membentuk fund manajer dengan modal senilai US$100 juta dan setiap saham senilai US$50.000. Bahkan, dirinya siap menyuntikan hingga US$25 juta untuk pembentukan tersebut.

Fund manajer itulah yang bertugas mencari proyek yang layak untuk didanai sekaligus menjamin risiko. Mochtar yakin cara seperti itu lebih efektif dibandingkan dengan individu harus mencari proyek yang akan didanai secara sendiri-sendiri.  "‎Supaya investasi kecil-kecil bisa mengikuti, setelah familiar baru mereka masuk," tukasnya.

Bila ini dapat terealisir, tentu pertemuan pada entrepreneur keturunan Tionghoa ini bukan hanya sekadar kongkow-kongkow.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tionghoa

Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Sumber : Bisnis Indonesia edisi 28/9/2015

Editor : Setyardi Widodo
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top