Bisnis dari Masjid ke Masjid, Kini Jadi Pengusaha Nasional

Berbisnis kadang memang tidak mengenal tempat. Dimana pun kita bisa melakukannya asal ada kemauan dan kerja keras. Inilah yang dialami oleh Rizalman, co-founder Alanabi yang memulai bisnisnya dari masjid ke masjid.
Atiqa Hanum | 02 Mei 2016 21:39 WIB
Alanabi -

Bisnis.com, JAKARTA—Berbisnis kadang memang tidak mengenal tempat. Dimana pun kita bisa melakukannya asal ada kemauan dan kerja keras. Inilah yang dialami oleh Rizalman, co-founder Alanabi yang memulai bisnisnya dari masjid ke masjid.

Ex Vice President Director PT Lotteria Indonesia Goenardjoadi Goenawan mengatakan rasa tak kenal lelah cocok diberikan untuk para pendiri obat herbal Alanabi ini. Bagaimana tidak, tanpa hasil tinggi mereka tetap bekerja terus menerus tak pernah putus asa.

Berawal dari kumpul-kumpul mereka di pengajian Ahad pagi di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, kemudian tercipta satu produk obat herbal yang dikemas apik layaknya produk-produk mapan. Tak cuma kemasan, resepnya pun sangat berbeda dibanding obat-obat yang sudah ada,” ucapnya dalam siaran pers, Senin (2/5/2016).

Dia menjelaskan Rizal mengaku prihatin terhadap serbuan obat-obat dan minuman yang justru tidak dipegang kaum Muslim. Padahal Nabi Muhammad selalu menggunakan obat herbal untuk menyembuhkan segala penyakit. Tak cuma dari tradisi Nabi, dalam Alquran pun disebutkan banyak bahan-bahan alami yang bisa dijadikan obat-obatan.

Contohnya madu yang terdapat pada Surat Annahl ayat 68-69, minyak zaitun di Surat Annur 35, jahe di Surat Al Insan 17,” bebernya.

Sedangkan dari hadits, ceritanya, ada pengobatan dari kurma (Shahih Bukhari & Muslim), delima (Ali RA), dan jintan hitam (Shahih Bukhari & Muslim).

"Betapa banyak potensi yang tak pernah dioptimalkan," kata dia.

Oleh karena itu, pada pertengahan 2014 muncul konsep ramuan herbal Alanabi. Walau konsep sudah matang, namun tidak mudah mengimplementasikan produk. Uji coba produk berkai-kali hingga akhirnya ditemukan produk yang pas, desain yang bagus, pabrik mumpuni dan uang.

Satu persatu kesulitan itu dilewati, termasuk uang. Karena satu di antara founder ini punya dana untuk membayar ongkos produksi di pabrik. Dengan serba terbatas, mereka menyewa pabrik untuk memproduksi obat herbal ini,” jelasnya.

Rizal mengatakan masalah tidak hanya sampai disitu karena ada rantai distribusi yang belum terpikirkan. Berbekal jaringan pengajian, para founder yang terdiri dari lima orang ini berjualan dari masjd ke masjid. Mereka juga merekrut rekanan untuk menjadi reseller.

Pasar online juga digarap. Sayangnya, penjualan tak bisa mendongkrak. Saban hari paling hanya puluhan karton. Tak lebih,” terang Rizal.

Satu produk unggulannya, tambahnya, minuman herbal penghangat tubuh dari buah kurma, jahe merah, madu, minyak zaitun, jintan dan buah delima. Awal tahun ini, kabar baik pun muncul satu perusahaan besar distributor obat-obatan meliriknya. Mereka menawari kontrak dengan produksi massal, termasuk membangun pabriknya.

"Kami sudah MoU, tinggal pelaksanaan. Kesuksesan sudah diambang pintu, bekerja keras tak henti sudah menuai hasil,” tutupnya.

Tag : bisnis, kesehatan, peluang usaha, obat herbal
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top