Angela Ahrendts, Dari Burberry Hingga 'Dipinang' Tim Cook

Angela Ahrendts memiliki karir yang sangat sukses di bidang fesyen sebelum menjadi salah satu eksekutif paling berpengaruh di Apple. Berulang kali ia didapuk sebagai bos wanita dengan upah tertinggi di dunia. Penghasilannya bahkan disebut mengungguli atasannya sendiri di Apple, Tim Cook.
Renat Sofie Andriani | 19 Februari 2018 10:41 WIB
Angela Ahrendts - Instagram

Bisnis.com, JAKARTA – Angela Ahrendts memiliki karir yang sangat sukses di bidang fesyen sebelum menjadi salah satu eksekutif paling berpengaruh di Apple. Berulang kali ia didapuk sebagai bos wanita dengan upah tertinggi di dunia. Penghasilannya bahkan disebut mengungguli atasannya sendiri di Apple, Tim Cook.

Menurut pengarsipan Apple, seperti dilansir Business Insider, Angela, yang bertindak sebagai Senior VP retail and online stores raksasa teknologi dunia tersebut, membawa pulang sekitar US$24,2 juta sepanjang 2017. Angka ini hampir dua kali dari yang dihasilkan Cook untuk periode yang sama yakni US$12,8 juta.

Angela memang diupah lebih besar daripada Cook sejak bergabung dengan Apple pada 2014. Sebelumnya, ia telah mendunia dengan merek fesyen mewah Burberry, dimana ia pernah berlaku sebagai Direktur dan CEO.

Tak cuma daftar Fortune's 50 Most Powerful Women in Business yang kerap dihuninya, nama wanita cantik berusia 57 tahun ini menjadi langganan deretan Forbes' 100 Most Powerful Women in the World.

Namun dalam suatu kesempatan berpidato di depan almamaternya, Ball State University, ia mengakui belum menemukan rahasia kesuksesannya sampai diminta untuk menyampaikan pidato tersebut.

“Perjalanan menuliskan pidato ini membuat saya terdiam dan merenung, dengan cara yang belum pernah saya lakukan selama bertahun-tahun,” ungkapnya.

Ia sadari, kesuksesan yang diraih kemungkinan berkat karakter dan nilai-nilai yang diterapkannya yakni belas kasih, kerendahan hati, ambisi, dan intuisi. Semua itu dibawanya melewati puluhan tahun masa muda dan pengalaman yang berarti.

Gairah di Fesyen

Angela Jean Ahrendts lahir pada 7 Juni 1960 di New Palestine, Indiana, Amerika Serikat (AS). Ia adalah anak ketiga dari enam bersaudara buah cinta pasangan Richard Ahrendts, seorang pengusaha, dan Jean Ahrendts.

Sejak kecil, Angela telah sangat menyukai segala hal berbau desain dan fesyen. Dilansir Wall Street Journal, ia menjahit pakaiannya sendiri dan berangan dapat bekerja di industri fesyen suatu hari nanti.

Semasa mengenyam bangku sekolah di New Palestine High School, Angela aktif berkegiatan dan ambil bagian dalam tim cheerleader. Pada 1982, ia meraih gelar sarjananya untuk jurusan merchandising dan marketing di Ball State University, Muncie, Indiana.

Selepas masa kuliah, ia pindah ke New York dan dengan cepat memulai perjalanannya di dunia fesyen. Tercatat, ia pernah menduduki tampuk kepemimpinan di Donna Karan International dan bertindak sebagai executive vice president Liz Claiborne sebelum menemukan jalannya ke Burberry.

Ia menerima posisi sebagai CEO rumah mode berkelas asal Inggris tersebut pada 2006 dan menghabiskan delapan tahun berikutnya untuk menghidupkan kembali citra brand Burberry. Impiannya di dunia fesyen telah terwujud.

'Dipinang' Tim Cook

Dilaporkan Fortune, catatan karir Angela kian melejit ketika suatu hari CEO Apple, Tim Cook, menghubunginya. Cook bermaksud mencari seseorang untuk memimpin operasional ritel Apple dan diam-diam ternyata ia mengincar Angela.

”Saya tidak mengira dapat tergugah oleh pria itu [Cook], dan saya berpikir, 'Ohhhhh! Hidupku padahal sudah sempurna. Aaargh, mengapa, mengapa, mengapa?'” kenang Angela kepada Fortune pada tahun 2015, menjelaskan saat ia terbujuk untuk mengiyakan ajakan Cook bergabung dengan Apple.

Bukan sudut pandang finansial maupun visi dari Cook terhadap produk-produk baru yang mendorong Angela bersedia bergabung. Justru nilai-nilai inti Cook-lah yang menggerakkan Angela.

“Saya benar-benar menyukai integritasnya, nilai-nilainya. Tidak ada tulisan, perkataan, ataupun tindakan seseorangpun yang akan mencegahnya untuk selalu melakukan hal yang benar. Bukan hanya untuk Apple, tapi juga untuk orang-orang di Apple, komunitas, dan negara,” jelasnya.

Kehangatan Strategi Ritel

Pada 2014, Angela bergabung dengan Apple sebagai Senior Vice President retail and online stores. Ia merancang ulang operasi ritel perusahaan untuk mempertegas koneksi antar manusia. Tujuan utamanya tidak terpusat pada angka penjualan, namun, lebih tepatnya, merancang toko untuk mendorong interaksi sosial.

“Saya akan tahu kami telah melakukan pekerjaan yang benar-benar hebat apabila generasi berikutnya, jika Gen Z mengatakan, 'Temui saya di Apple. Tahu tidak apa yang terjadi di Apple hari ini?'” tuturnya dalam sebuah wawancara yang disiarkan di CBS This Morning pada tahun 2017.

Angela telah melancarkan upaya menuju tujuan tersebut dengan mengembangkan hubungan yang kuat dengan para pegawainya. Ia juga membuat Apple stores menjadi tempat di mana orang-orang dapat terhubung satu sama lain.

Sentuhan pribadi Angela begitu mengena di hari para karyawan ritel Apple. Banyak yang berbicara positif tentang kemampuannya untuk menyampaikan kehangatan, kebaikan, dan ketertarikan yang tulus dalam interaksinya dengan mereka.

“Bahkan melalui telepon, Anda merasa seperti sedang berbicara dengannya saat dia duduk tepat di samping Anda,” kata seorang manajer toko kepada 9to5Mac pada tahun 2014.

Angela menerima pujian serupa untuk pesan video mingguan yang ia kirimkan kepada para karyawan ritel Apple, dimana dia selalu memberikan update dan dorongan semangat.

Di bawah Angela pula, lebih banyak karyawan bagian ritel telah berpartisipasi dalam sebuah program dimana mereka dapat bekerja dengan tim perusahaan untuk proyek-proyek khusus. Ini adalah inisiatif yang dapat memberi kesempatan kenaikan jenjang karir bagi karyawan di dalam perusahaan.

Naluri Desain

Pada 2016, Apple mengumumkan sejumlah perubahan yang direncanakan untuk diluncurkan ke toko-tokonya dan telah menjadi standar emas dalam ritel fisik selama bertahun-tahun.

Perubahan ini memungkinkan para pelanggan untuk berinteraksi dengan produk serta menerima bantuan terkait perangkat Apple mereka dengan nyaman.

Perubahan yang dimaksud – termasuk pencahayaan lebih lembut, display lebih baik untuk headphone Beats dan sarung ponsel Apple, layar-layar besar yang ditempatkan di seberang pintu masuk toko – menunjukkan naluri desain Angela yang diukir selama bertahun-tahun di industri fesyen.

Sejak saat itu, dia mengungkapkan visi untuk membawa kesuksesan toko-toko Apple selangkah lebih maju dengan membuatnya menyerupai 'town square', di mana pelanggan dapat bersosialisasi serta mengikuti kelas untuk mempelajari keterampilan teknologi.

Meskipun ada juga beberapa kesalahan langkah, termasuk peluncuran Apple Watch yang kabarnya membuat bingung sejumlah pelanggan, Angela tetap mempercayai nalurinya. Hal ini diapresiasi baik oleh rekan-rekannya maupun perusahaan sendiri.

Keluarga Nomor Satu

Seiring dengan karir yang terus mengangkasa, Angela tidak pernah lupa untuk berpegang pada insting dan nilai-nilainya. “Hati yang intuitif dan berperasaan tidak akan pernah menyesatkan Anda, baik itu dalam pekerjaan, hubungan, atau keluarga,” katanya pada awal 2010.

Angela bertemu dengan bakal suaminya, Gregg Couch, saat mereka bersekolah dasar. Keduanya akhirnya sepakat menikah di usia 30an setelah berhubungan selama 17 tahun. Ia tinggal bersama suami dan ketiga anak mereka di California.

Tidak mudah menyeimbangkan karir dan kehidupan berkeluarga, apalagi mengingat fakta ia seorang pebisnis wanita paling berpengaruh di dunia. Dalam suatu kesempatan ia pernah mengingatkan para ibu yang bekerja bahwa mereka tidak dapat melakukan segala hal sekaligus.

Ia pun harus berkompromi untuk menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan rumah tangga dengan tiga anak perempuan yang akan beranjak dewasa. Seringkali ia menampik undangan di luar jam kerja seperti penganugerahan Oscar, karena mementingkan keluarga.

Angela selalu memastikan sudah berada di rumah pada Jumat malam ketika harus bepergian. Kepada para pegawai wanita di Burberry, ia pernah menekankan keutamaan peran mereka sebagai ibu.

“Anak-anak adalah harta mereka, mereka juga memiliki pasangan, dan itu adalah kewajiban yang besar. Saya tidak pernah pergi ke acara-acara Oscar karena tidak sanggup harus bepergian sepekan lebih lama,” terangnya, seperti dilansir Daily Mail.

Komentarnya tersebut bisa jadi menginspirasi para ibu bekerja yang merasa terpaksa harus membuat keputusan sulit antara mengejar posisi lebih tinggi dalam pekerjaan atau menghabiskan waktu dengan keluarga mereka.

“Ada pilihan-pilihan yang setiap orang harus putuskan. Itu [Oscar] tidak lebih penting daripada suami saya, anak-anak saya, ataupun perusahaan yang sedang saya jalankan. Saya tidak ingin menjadi CEO yang hebat jika tidak menjadi ibu dan istri yang hebat.”

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
apple, inspirasi bisnis

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top