Bila Rumput Tetangga Lebih Hijau

Keberadaan seorang profesional di sebuah perusahaan tentu dilatarbelakangi alasan tertentu. Begitu pula sebaliknya ketika dia memutuskan untuk hengkang.
Inria Zulfikar
Inria Zulfikar - Bisnis.com 29 Mei 2018  |  17:07 WIB
Bila Rumput Tetangga Lebih Hijau
Ratusan pencari kerja antre mendapatkan kertas formulir pendaftaraan pada pelaksanaan Job Fair Keliling di kantor Kecamatan Kota Tangerang, Banten, Rabu (8/2). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA—Bos mana yang tidak kesal ketika profesional berbakat di timnya justru hengkang ke perusahaan kompetitor. Apalagi bila orang tersebut sudah disiapkan sejak lama untuk memimpin organisasi agar berjalan lebih efisien, sehingga mencapai target yang diharapkan.

Semula manajemen yakin betul bahwa eksekutif dengan karier cemerlang itu akan feel at home dengan tantangan bisnis yang ada, sebuah kondisi yang secara psikologis membuatnya merasa terus terpacu untuk menunjukkan prestasi terbaiknya.

Namun apa daya, ’bujukan’ dan ’rayuan’ tidak mampu mengubah keputusannya untuk hengkang ke pangkuan pesaing. Siapa yang tidak pusing menghadapi situasi macam begini.

Sebenarnya hal ini lumrah terjadi di setiap organisasi, tak terkecuali perusahaan. Keberadaan seorang profesional di sebuah perusahaan tentu dilatarbelakangi alasan tertentu. Begitu pula sebaliknya ketika dia memutuskan untuk hengkang. Persoalannya mengapa mesti ’pindah ke lain hati’?

Divisi sumber daya manusia Sambian Partners, perusahaan teknologi informasi yang berbasis di Chicago, AS, pernah merasakan betapa ’sakitnya’ kehilangan seorang eksekutif handal, karena lebih memilih tawaran untuk bergabung ke kompetitor.

Padahal assistant director of commercial design tersebut termasuk ’putra mahkota’ yang akan mengemudikan jalannya perusahaan kelak.

Dalam wawancara terakhir dengan eksekutif yang saat itu berusia 35 tahun tersebut, direktur SDM Sambian masih berusaha melobi agar dia mengurungkan niatnya hengkang ke J&N, pesaing utama Sambian. Berbagai macam kiat dilakukan, termasuk menawarkan promosi jabatan dalam waktu dekat.

Namun tampaknya sikap Tom Forsythe tak dapat ditawar-tawar lagi. J&N adalah pangkalan berikutnya untuk mengembangkan karier.

“Saya senang bekerja di Sambian. Apalagi, saya selalu mendapat tantangan baru. Namun saya perlu sesuatu yang baru, sesuatu yang lebih segar. Kebetulan, peluang ini datang pada saat yang tepat,”  ujarnya dalam wawancara dengan bagian SDM.

Menghadapi situasi tak nyaman tersebut, Helen Gasbarian, bos Sambian, meminta bagian SDM untuk mengambil ‘langkah-langkah darurat’ agar kepergian Tom tidak menyebarkan ‘virus hengkang’ bagi para eksekutif lainnya. “Saya ingin mengetahui apa yang perlu kita lakukan agar para profesional Sambian tidak ikut-ikutan keluar,” tuturnya dengan nada cemas.

Jangan Sampai Telat

Akhirnya untuk mencegah agar situasi tidak bertambah buruk, Helen memerintahkan bagianSDM untuk melakukan survei komprehensif mengenai karyawan, sebuah langkah yang tampaknya sudah agak terlambat.

Hal itu semakin terbukti karena hasil survei mengungkapkan bahwa karyawan dilanda ketidakpuasan yang mendalam meski secara umum mereka merasa ‘betah’. Yang mengejutkan, karyawan yang tergolong muda merasa tidak terlalu diperhatikan manajemen. Selain itu manajemen dinilai pilih kasih tanpa alasan yang jelas sehingga kerap muncul ‘primadona’. Alhasil, kecemburuan pun merebak.

Kisah nyata yang dikemukakan Edward E. Lawler dalam tulisannya berjudul Why are we losing all our good people? (2008) tersebut tidak sekadar mengulas keluar masuknya profesional. Hal paling penting yang ingin disampaikan adalah kepedulian manajemen untuk memposisikan karyawan sebagai aset utama.

Itulah yang belum terlihat di Sambian dan, kemungkinan besar pula, banyak perusahaan lainnya.

Dalam pandangan Anna Pringle, konsultan yang menangani ‘karyawan global’ dan kemampuan organisasi untuk Microsoft, pimpinan puncak Sambian sudah dihadapkan pada kondisi yang disebut wake-up call. Nasi sudah menjadi bubur. Namun ke depan kesalahan serupa tidak boleh terulang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pekerjaan

Editor : Inria Zulfikar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top