Gebrakan Bisnis Seorang Perancang

Seorang perancang atau designer tidak melulu berkapasitas sebagai ilmuwan yang tidak memiliki wawasan bisnis. Justru inovasi bisnis jangka panjang yang revolusioner banyak dicetuskan oleh para perancang ini.
Inria Zulfikar | 29 Juni 2018 19:54 WIB
Presiden Joko Widodo mengunjungi markas Facebook di Menlo Park, Silicon Valley. Presiden dan Ibu Negara Iriana Jokowi disambut Mark Zuckerberg - Facebook

JAKARTA, Bisnis.com—Apa istimewanya pemikiran atau ide seorang perancang? Harus diakui cara berpikir mereka telah mengubah wajah dunia berikut segala isinya.
Thinking like a designer. Berpikirlah seperti seorang perancang, karena itu akan mengubah bisnis Anda.

Thomas Edison, sang penemu bola lampu, telah membuktikannya. Si Jenius asal AS ini memiliki tim kerja yang tangguh dan terspesialisasi di laboratoriumnya di Menlo Park, New Jersey. Jauh dari bayangan banyak orang terhadap ilmuwan penemu, Edison justru tidak pernah menyendiri di menara gading.

Mungkin dia tidak pernah beranggapan temuanya tersebut merupakan revolusi setelah dipakainya mesin uap. Namun cara berpikir Edison yang tidak sekadar menciptakan alat telah sukses melahirkan apa yang sekarang dikenal sebagai design thinking. 

Contoh sederhana, apalah artinya lampu tanpa sistem kelistrikan yang baik. Oleh karena itu, Edison juga tergerak membuat jaringan setrum yang efisien (saat itu) agar lampu dapat menerangi orang dalam seluruh aktivitasnya.

Bersamaan dengan berjalannya waktu, paradigma berpikir tersebut semakin mendapat tempat di dunia bisnis dan manajemen, karena dinilai mempunyai kelebihan dalam memberikan solusi terhadap dinamika usaha yang makin kompleks dan global.

Semua hal ‘sederhana’ ini berangkat dari semangat ‘merancang’ dan `berinovasi’ yang berbasis pada sumber daya manusia (human-centered design ethos).

Karena ini menyangkut manusia, para pakar manajemen kemudian menggali profil personalitas yang kira-kira pas dan ideal dari pemikir rancangan (design thinker) tadi.

Ada pendapat menarik yang dikemukakan Tim Brown, saat dirinya masih menjadi petinggi IDEO, konsultan yang memfokuskan diri pada manajemen inovasi dan desain. Perusahaan yang berkantor pusat di Palo Alto, California, AS ini telah menyabet sejumlah penghargaan prestisius di bidang desain dan sempat dipamerkan, antara lain di Museum of Modern Art (New York), Axis Gallery (Tokyo), dan Design Museum (London).

Karakter Kuat 

Menurut Brown (Design Thinking, 2008), ada lima karakter dasar yang harus dimiliki seorang pemikir rancangan. Pertama, empati. Membayangkan sebuah dunia dari keragaman perspektif. Mereka memperhatikan apa saja yang tidak dilakukan orang lain dan kemudian mengolahnya sedemikian rupa menjadi ide segar untuk ditularkan kepada orang lain.

Kedua, berpikir integral. Proses analisis saja belum cukup untuk menjawab tantangan berdasarkan alternatif yang ada. Oleh karena itu harus go beyond dan secara dramatis mampu memberikan solusi yang jauh lebih efektif dibandingkan dengan alternatif penyelesaian saat ini.

Ketiga, optimis. Seberat apapun persoalan yang dihadapi, harus tetap berpikir bahwa satu solusi potensial adalah lebih baik ketimbang mempertahankan alternatif yang sudah berjalan.

Keempat, bereksperimen: Pemikir perancang selalu berangkat dari ‘kegelisahan’ dan mengolahnya sedemikian rupa secara kreatif untuk menghasilkan arahan (directions) yang sama sekali baru.

Kelima, berkolaborasi: Segala sesuatu tidak mungkin dilakukan sendiri. Jadi, berlolaborasilah dengan para ahli di bidangnya untuk menghasilkan yang terbaik bagi perusahaan dan konsumen.

Di kalangan perusahaan multinasional, design thinking ini tidak sekadar berwujud pada kehadiran fisik lembaga yang menangani penelitian dan pengembangan.

Kaiser Permanente misalnya. Pemasok peralatan kesehahatan asal Eropa ini merasa perlu untuk mendirikan Garfield Innovation Center, sebuah pusat inovasi, yang dikelola tim khusus.

Institusi tersebut beroperasi layaknya konsultan bagi seluruh organisasi yang ada di Kaiser. Garfield diberi dua tantangan yang sangat spesifik, yaitu membangun sebuah pengalaman yang tidak terlupakan dalam diri seorang pasien dan menciptakan kesan bahwa Kaiser identik dengan ‘rumah sakit masa depan’.

Itulah tools dalam proses design thinking di tubuh Kaiser Permanente.

Pola pikir progresif semacam ini tidak melulu ditemukan di dunia industri. Dimana pun bisa mendapat tempat.

Kita bisa belajar dari pengalaman Frederick E. Terman yang pada akhir 1930-an menawarkan sebidang tanah milik Universitas Stanford, tempatnya mengajar, untuk digunakan sebagai kantornya perusahaan yang berorientasi pada teknologi informasi (Stanford Industrial Park).

Silicon Valley 

Sebelumnya, lembah yang terbentang 50 mil dari San Jose ke San Franscisco itu hanya dipenuhi kebun prune dan aprikot. Bila Terman berhenti hanya dengan menawarkan sebidang tanah, tak ada kesombongan, kesuksesan, dan kekayaan yang mencuat dari wilayah yang kini dikenal sebagai Silicon Valley tersebut.

Sama halnya dengan Edison, profesor di Stanford itu bergerak lebih jauh dari sekadar menghibahkan tanah. Dia juga menawarkan kerja sama teknologi. Karena sadar segala sesuatunya perlu duit, Terman kemudian membentuk modal ventura. Salah satu contoh keberhasilan dari design thinking ala Terman adalah korporasi global bernama Hewlett-Packard yang dibidani duet David Packard dan William Hewlett pada 1953.

Perubahan besar memang berawal dari hal sederhana yang mendahului zamannya.

Tag : inovasi teknologi
Editor : Inria Zulfikar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top