Berkembang Bersama Sang Naga

Banyak hal yang bisa dipelajari dari sisi lain perang dagang ASChina, yaitu strategi untuk tampil sebagai pemenang dalam berbisnis di pasar global.
Inria Zulfikar | 29 Juli 2018 18:59 WIB
Yuan - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA—Harus diakui, perlu strategi khusus berniaga dengan China. Bukan karena takut atau apa, tetapi bila tidak hati-hati, bisa-bisa malah tekor. Masih segar dalam ingatan ketika menjelang implementasi perdagangan bebas antara Asean dan China, Indonesia sepertinya agak kagok untuk memulainya.

Pasti ada yang tidak beres dengan diri kita sendiri. Misalnya, Indonesia tidak memanfaatkan waktu yang ada secara maksimal sehingga menjelang diberlakukannya perdagangan bebas Asean-China, dunia usaha nasional berteriak minta perlindungan. Kalau sudah begini, kesalahan tidak bisa sepenuhnya ditimpakan begitu saja kepada pengusaha.
Pemerintah juga harus melakukan introspeksi, sudah sejauh mana iklim usaha dibenahi agar pebisnis tidak lagi dibebani ekonomi biaya tinggi yang membuat mereka semakin sulit bersaing.

Kuat Mencengkeram

Tak pelak lagi, cengkeraman China memang perlu diwaspadai. Penetrasi produk mereka di pasar global makin menggurita, mulai dari barang kebutuhan rumah tangga, perkakas, mainan anak, telepon genggam hingga chip.

Keperkasaan ekonomi negeri Tirai Bambu itu sudah banyak diulas dalam beberapa tahun terakhir. Kini ia makin berani berhadapan langsung dengan AS dalam apa yang disebut ‘perang dagang’. China tampil penuh percaya diri. Seolah kebal menghadapi badai krisis, negara tersebut justru gencar melakukan penetrasi di pasar global.

Perusahaan China tidak henti-hentinya melakukan akuisisi skala besar di berbagai sektor usaha, mulai dari pertambangan, energi, infrastruktur , manufaktur hingga institusi keuangan. Lantaran ulahnya tersebut, media-media ekonomi dan bisnis dunia kerap memasang kata-kata China buy the World dalam sampul depannya.  
Sampai kapan dominasi China berlangsung, tidak ada yang mengetahui secara pasti. Yang jelas kuku-kuku Si Panda kian dalam menggaruk batang pohon yang dilewatinya.

Betul, tidak semua kisah Sang Naga patut diteladani. Keselamatan kerja dan kondisi sebagian besar pabrik di negara tersebut juga masih diliputi masalah. Begitu pula dengan buangan asap industri yang tanpa ampun mencemari udara. Bukan rahasia lagi bila tambang batubara di China disebut sebagai ladang kematian lantaran seringnya terjadi kecelakaan yang berujung pada maut.

Sebaliknya bila kita berbicara mengenai perkembangan industri teknologi informasi, dunia layak angkat topi atas apa yang telah diraih negara tersebut. Kalangan dunia usaha nasional pantas menoleh kepada para wirausahawan muda disana yang dalam tempo satu dekade mampu mengubah wajah China di pentas dunia.

Mau bukti apa lagi bila AS saja sudah kebat-kebit melihat pesatnya perkembangan bisnis teknologi informasi Si Panda. Benarlah apa yang dikatakan Robert Lawrence Kuhn, penasehat informal bagi Pemerintah China, bahwa negara itu kini memandang teknologi tidak hanya sebagai motor ekonomi tetapi sekaligus untuk membentuk masyarakat harmonis yang dapat mengatasi meningkatnya ketidakseimbangan antara kaya dan miskin serta penyakit sosial lainnya seperti polusi dan bahkan mungkin korupsi.

Kini generasi baru inovator yang tumbuh di dalam negeri mulai menggantikan para pakar yang sebelumnya hanya bermodal ‘meniru’. Para anak muda berbakat di China lebih banyak jumlahnya dibanding populasi yang sudah didanai perusahaan modal ventura domestik.
Kreasi dan inovasi mereka dapat dengan mudah ditemukan pada produk-produk macam ponsel, chip, layanan e-commerce, dan perangkat lunak lainnya.  

Bila demikian benar apa yang dikatakan Rebecca A. Fannin dalam bukunya Silicon Dragon, Bagaimana China Memenangkan Perlombaan Teknologi bahwa Si Panda kini mirip Swiss ketika mencontek pembuatan jam tangan di AS pada awal abad 20. Dari seorang peniru menjadi inovator tangguh berwawasan jauh kedepan.

Begitu bersemangatnya wirausahawan yang bergerak di bisnis teknologi informasi berbisnis sampai-sampai pada 2006 China mencatat tingkat pertumbuhan tercepat dunia untuk aplikasi paten baru, melonjak 56% menjadi 3.910, berada di peringkat ke-8 dunia. Memang masih tertinggal dibandingkan AS yang membukukan hampir 51.000 aplikasi paten.

Peningkatan tersebut antara lain dilatarbelakangi kebijakan lima tahun pemerintahan (saat itu) Hu Jintao untuk menjadikan inovasi teknologi tinggi menjadi landasan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan sosial serta sumber utama kemakmuran di abad ke-21.
Revolusi teknologi yang sedang berlangsung di negara itu kontan membuat bisnis bergairah.

Himpun Dana Segar

Saat ini lebih dari 65 perusahaan China mencatatkan sahamnya di Nasdaq dan Wall Street. Sebelum 1999 tidak ada satu pun korporasi asal Negeri Panda yang bermimpi bisa ‘jualan’ di pasar modal AS. Lebih khusus lagi, sebanyak 31 perusahaan membuat debut publiknya di AS pada 2006 dan paruh pertama 2007 dengan kapitalisasi pasar sedikitnya US$1 miliar.  

Ujung-ujungnya, China dalam angka sungguh luar biasa. Negara itu memiliki pengguna ponsel terbesar di dunia yaitu lebih dari 500 juta, pengguna Internet terbanyak kedua (lebih dari 165 juta, dan memiliki 2 dari 10 situs jejaring ternama dunia.

Tidak hanya itu, ia juga menguasai 24% produksi semi konduktor dunia dan diperkirakan menguasai sepertiga pasar global pada tahun depan. Para produsen chip papan atas seperti Semiconductor Manufacturing International Corp, yang sudah mencatatkan sahamnya di Wall Street, memproduksi sedikitnya 7% chip dunia dari pabrik yang berada di kawasan Pudong, Shanghai.

Tidak heran bila para pemodal ventura papan atas macam Sequoia Capital dan Kleiner Perkins Caufiled & Byers kerap terbang ke negeri Tirai Bambu untuk mengendus para penerus Google, Skype atau Hotmail. Padahal beberapa tahun lalu para raksasa tersebut jarang pergi keluar radius 200 mil dari markas mereka di Athertion, Hillsborough, dan Woodside di San Mateo County, California.

Sebelumnya, teman dan anggota keluarga menjadi sumber tunggal dana tunai untuk memulai bisnis. Kini para usahawan China berwawasan global sudah tidak asing lagi dengan perusahaan ventura yang menawarkan persyaratan finansial terbaik dan jaringan bisnis luas.
Inilah pelajaran berharga yang harus kita petik dari mereka. Kenapa China bisa melahirkan Robin Li dengan mesin pencarinya yang fenomenal, Baidu, Jack Ma dengan Alibaba, Peggy Yu Yu dengan dangdang.com (Amazon plus versi China)?

Itu baru segelintir nama-nama peniru model bisnis Silicon Valley yang berhasil menjalankan usahanya di tanah air mereka sebelum akhirnya berekspansi secara meyakinkan ke pasar global.

Pada saat yang sama, dimana para wirausahawan tangguh dari negeri sendiri? Kenapa mereka tidak bisa muncul secepat rekan-rekan mereka di China? Itulah pekerjaan rumah yang harus segera dijawab. Ingat, Sang Naga sudah di depan pintu rumah kita.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china

Editor : Inria Zulfikar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top