Diplomasi Unggul Lewat ‘Manajemen Budaya’

Unggul dalam diplomasi tidak selamanya harus dengan jalur politik praktis. Manajemen menawarkan jurus yang tak kalah ampuh.
Inria Zulfikar | 29 Juli 2018 21:14 WIB
Sejumlah seniman membawakan Tari Baris Tombak yaitu salah satu dari sembilan tari Bali yang diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda dalam parade Pesta Kesenian Bali ke-39 di Denpasar, Sabtu (10/6). - Antara/Nyoman Budhiana

Bisnis.com, JAKARTA—Pasti ada ada alasan strategis ketika Indonesia berkeputusan untuk menempatkan seorang duta besar di negara yang, menurut banyak orang, dikatakan ‘damai tidak, perang pun tidak’.

Ya, apa perlunya mengutus diplomat ke Lebanon nun jauh disana untuk bertugas dua hingga tiga tahun? Namun kita punya kisah menarik ketika negara itu belum lepas dari perang saudara atau perang sektarian yang telah menewaskan ribuan orang.

Apa yang kita harapkan dari negara yang kerap menjadi ajang pertarungan dan perebutan pengaruh negara-negara besar atau tetanggannya itu?

Kerap muncul pertanyaan itu ketika orang membicarakan Lebanon, negara kecil yang sebetulnya elok bila tidak dicabik-cabik perang saudara beberapa dekade lalu. Sebelum perang sektarian pecah, Beirut, ibukota negara di Timur Tengah tersebut, kerap digambarkan tak kalah modis dibandingkan dengan Paris.

Medio 2009, dentuman senjata dan suara mesin perang lainnya memang belum sepenuhnya surut dari bumi Lebanon. Namun kelompok-kelompok yang bertikai saat itu tampak serius ingin mengakhiri perseteruan berdarah seiring dengan terjadinya pergeseran dan dinamika politik aktual yang berlangsung di negara itu.

Intinya, Lebanon sudah tidak seseram dulu lagi. Kini ia ingin mengembalikan ’keelokan tubuhnya’ dengan membuka diri pada pergaulan internasional.

Secara geografis, ia merupakan salah satu pintu gerbang penting bagi terciptanya hubungan dagang dan investasi di kawasan Timur Tengah. Inilah salah satu faktor mengapa Indonesia memandang penting posisi Lebanon saat itu dan di masa mendatang.

Jalur Budaya

 Dan Indonesia tampaknya paham betul bagaimana strategi untuk meningkatkan kerja sama ekonomi dengan mitranya di Timur Tengah tersebut.

Jurus ampuh yang selalu dikedepankan adalah melalui pintu kebudayaan. Oleh karena itu jangan heran bila pada Juli 2009 rakyat Lebanon, terutama warga Baalbeck yang terletak sekitar 85 km utara Beirut, terheran-heran disertai rasa kagum menyaksikan pertunjukan Reog Ponorogo.

Kesenian tradisional dari Jawa Timur itu sengaja dipentaskan pada ajang Festival Perdagangan Lembah Beekaa, Baalbeck. Para penari Indonesia yang menampilkan adegan magis dalam atraksi itu mendapatkan perhatian dan tepuk tangan meriah dari para pengunjung festival yang diikuti 48 kelompok kesenian tersebut.
Atraksi mereka mendapat liputan media cetak dan stasiun televisi Lebanon Broadcasting Channel (LBC). Tepuk tangan bagi penari reog terus berlanjut saat mereka mengikuti parade atau arak-arakan.
Dari pengalaman serupa di negara lain, diplomasi budaya macam begini cukup efektif untuk menggolkan bisnis. Dalam hal Lebanon, ’barang’ yang ingin kita jual adalah produk manufaktur, furnitur, cinderamata, produk makanan, minuman, dan tekstil.

Selain sebagai peserta aktif untuk kali keduanya, partisipasi Indonesia pada festival tersebut juga merupakan realisasi kegiatan kota bersaudara (sister city) Baalbeck-Yogyakarta. Kota Baalbeck yang berada di bagian tenggara Lebanon merupakan daerah tingkat II dengan mayoritas penduduknya penganut Syiah.

Jadi Andalan

Bukan kali ini saja kesenian budaya tradisional manggung di Lebanon.

Tari Saman, Poco-Poco, Tari Kecak, musik kolintang dan berbagai atraksi budaya Indonesia lainnya pernah sukses juga ditampilkan dan dilantunkan dalam sebuah acara khusus di taman rumah kediaman Presiden American University of Beirut (AUB) dengan latar belakang Laut Mediterania yang eksotis dan dibayangi redup matahari sore musim panas.

Pertunjukan tunggal kesenian Indonesia ini merupakan permintaan khusus Women’s Auxiliary, sebuah organisasi sosial mewadahi para relawan kesehatan yang bekerja di American University Hospital di Beirut. Kesenian Indonesia hadir untuk menghibur para undangan yang mencapai 300 orang pada pertemuan tahunan Women’s Auxiliary.
Selain ritme tarian yang rancak dan mampu memancing setiap penontong untuk ikut bergoyang, daya tarik juga datang dari alunan musik kulintang dan gamelan dengan irama lagu-lagu Arab yang tidak asing bagi telinga penonton.
 Penampilan tim kesenian Indonesia di AUB merupakan kesempatan langka dan baru pertama kali didapat oleh Indonesia. Hal ini dikarenakan pihak Universitas yang sangat selektif dalam menentukan pengisi acara pada setiap kegiatan.
AUB merupakan universitas tertua di Lebanon, berdiri pada 1866 dan telah menyaksikan beberapa kali konflik bersenjata di negara tersebut.

Dikarenakan konsistensinya menjaga netralitas politik, non-sektarian dan penerapan standar tinggi, universitas tersebut dapat menjaga eksistensinya selama ratusan tahun dan menjadi salah satu yang terbaik, serta memperoleh status sebagai universitas rujukan untuk beberapa jurusan tertentu di Timur Tengah, seperti kedokteran dan bisnis.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
manajemen, kebudayaan

Editor : Inria Zulfikar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top