Alih Generasi Pebisnis Angkasa

Saat era turis angkasa booming, para penggagasnya dianggap cuma bisa menjual mimpi. Orang-orang super kaya antre sebagai ‘astronot’ dadakan dengan membayar tiket super mahal pula.
Inria Zulfikar | 27 Agustus 2018 22:25 WIB
Roket SpaceX Falcon 9 meluncur ke udara dari landasan pacu Cape Canaveral, Florida, Jumat (8/4/2016) dalam foto handout yang disediakan oleh SpaceX. - Reuters

JAKARTA, Bisnis.com—Mereka rela merogoh kocek US$25 juta per orang untuk merasakan sensasinya. Itu harga yang dibanderol sekitar 10 tahun lalu.

Harga tersebut untuk yang ‘berdurasi’ kurang lebih sepekan. Namun dipastikan harga di pasaran akan jauh lebih murah bila konsumen bisa memilih berbagai alternatif layanan untuk memuaskan keinginan yang sangat bergengsi tersebut.

Ya, satu dekade lalu bisnis yang satu ini memang terlihat terang-benderang. Jauh sebelum era SpaceX unjuk gigi. Namun zaman sepertinya sudah berubah. Kini penerbangan ruang angkasa seolah sudah menjadi kesibukan harian SpaceX.

Saat era turis angkasa booming, para penggagasnya dianggap cuma bisa menjual mimpi. Orang-orang super kaya antre sebagai ‘astronot’ dadakan dengan membayar tiket super mahal pula.

Hal ini membuat pabrikan pesawat turis angkasa bersemangat tinggi untuk menyelesaikan order operator yang tampaknya tidak sabar lagi untuk segera mengorbit.

Kita masih ingat salah satu pemain yang paling menggebu-gebu menggeluti bisnis ini adalah konglomerat eksentrik asal Inggris, Sir Richard Branson, pemilik Virgin Group. Di bawah bendera Virgin Galactic, pria penyuka olahraga ekstrim itu memesan lima pesawat khusus yang mampu menjelajah hingga ketinggian 110 kilometer dari permukaan Bumi, sehingga penumpangnya dijuluki turis angkasa.

Selain lima armada yang dikhususkan untuk ‘mengorbit’, Branson juga memesan dua pesawat pembawa (carrier aircraft) yang berfungsi ‘menggendong’ pesawat turis tersebut mulai dari landasan pacu sampai ketinggian 15 kilometer. Selanjutnya, burung-burung komposit itu akan melesat dengan kecepatan 4 Mach hingga bertengger anggun pada ketinggian 110 kilometer.

Will Whitehorn, tangan kanan Branson di perusahaan tersebut, bahkan optimistis pihaknya mampu meraih titik impas pada 2014. The Economist edisi 1 Februari 2008 mencatat bahwa investasi yang ditanamkan Galactic saat itu sudah mencapai US$70 juta, sedangkan US$130 juta tambahannya siap dikucurkan dalam beberapa tahun sesudahnya.

Burt Rutan

Terlepas dari zaman yang sudah berubah dan era turis angkasa tidak lagi booming, kita harus akui bahwa berbicara soal rancang bangun pesawat khusus bagi turis angkasa rasanya tidak mungkin untuk tidak menyebut nama Burt Rutan.

Si Gaek mantan insinyur di NASA ini memang belum ada duanya dalam hal memproduksi pesawat-pesawat futuristik bertampang aneh. Oleh karena itu pula, dulu Rutan selalu dicemooh orang yang mengganggapnya sinting dan keras kepala lantaran keyakinannya bahwa sektor swasta mampu membawa manusia terbang menuju angkasa.

Tak heran bila dia bersama Branson bolak-balik menyambangi pabrik Scaled Composites milik Rutan di Mojave, California. Bahkan bos Virgin tersebut sampai menggelar acara khusus di Museum Sejarah Amerika, New York, untuk memamerkan kepada dunia desain baru pesawat milik Galactic.

Scaled Composite pernah disibukkan dengan membuat sekitar 50 pesawat khusus, yang 15 unit diantaranya untuk memenuhi kebutuhan industri wisata angkasa.

Mau tidak mau, harga yang harus dibayar turis pun terkoreksi. Kalau Anda sudah cukup puas dengan paket hemat, saat itu cukup dengan menyetor US$200.000 sudah bisa melihat Bumi dari ketinggian 110 kilometer selama beberapa puluh menit.

Kini, bisa dibilang SpaceX-lah jagonya luar angkasa. Perusahaan yang didirikan Elon Musk ini melakukan revolusi dalam teknologi dan rancang bangun roket.

Tag : stasiun luar angkasa
Editor : Inria Zulfikar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top