'Keajaiban Otak' Tan Le Setelah Lari dari Vietnam

Pikiran manusia adalah rahasia. Karya agung Sang Pencipta yang mengejawantahkan keberadaannya di benak tersembunyi sekali pun. “Jiwa” yang memisahkan kita dari makhluk hidup lain, untuk memahami juga mencari jawaban.
Renat Sofie Andriani | 28 September 2018 10:41 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Pikiran manusia adalah rahasia. Karya agung Sang Pencipta yang mengejawantahkan keberadaannya di benak tersembunyi sekali pun. “Jiwa” yang memisahkan kita dari makhluk hidup lain, untuk memahami juga mencari jawaban.

Bapak filsafat modern, Rene Descartes, sampai harus berkutat tentang eksistensi pikiran manusia. Cogito ergo sum, katanya. 'Aku berpikir, maka aku ada'. Tak jarang kalimat ini dijadikan semacam 'mantra' bagi pandangan hidup seseorang hingga ratusan tahun kemudian.

Namun, bukan kegelisahan tentang mengulik isi pikiran manusia apalagi minat atas filosofi Descartes yang mendorong seorang Tan Le mendirikan Emotiv pada 2011.

Perusahaan ini melakukan riset terhadap otak melalui penggunaan electroencephalography (EEG), suatu metode pemantauan elektrofisiologi untuk merekam aktivitas listrik pada otak, serta mengembangkan produk-produk yang dapat mengidentifikasi emosi penggunanya.

Karya-karya Emotiv mengilhami era baru penelitian otak manusia. Melalui kepemimpinan Tan, Emotiv tumbuh menjadi salah satu yang paling sukses di dunia dalam bidang biomedis.

Kerja keras Tan Le sebagai individu pun diakui dunia internasional, di antaranya “Young Australian of the Year” pada 1998, “Young Global Leader” oleh World Economic Forum (WEF), dan salah satu dari “Most Influential Women in Technology” oleh Fast Company.

Lahir di sebuah negara yang pernah dilanda perang dan harus berjuang bertahan hidup di masa kecilnya, kisah Tan Le berikut menjadi inspirasi bagi mereka yang berpikir tidak memiliki cukup sumber daya untuk membuat perbedaan berarti di dunia.

Pengungsi Vietnam

Pada 1981, saat Tan Le baru berusia empat tahun, Ibunya, Mai Ho, membawa Tan Le dan adiknya, Min, ke sebuah tempat persembunyian rahasia di Ho Chi Minh City yang terletak di negara asal mereka, Vietnam.

Saat itu tengah malam. Keluarga kecil ini harus tetap tenang agar gerak-gerik mereka tidak terungkap. Mereka menunggu hingga seorang pria mengantarkan masuk ke dalam sebuah perahu kecil dan mulai menerjang ganasnya lautan.

Mereka kemudian berkelana dengan lebih dari 150 orang lainnya di Laut Cina Selatan, melarikan diri dari kerasnya wilayah selatan Vietnam setelah Saigon (sekarang Ho Chi Minh City) diduduki pasukan dari utara.

Setelah terlunta-lunta selama beberapa malam kehabisan air dan makanan, mereka diselamatkan oleh kapal tanker minyak Inggris. Kapal itu lalu membawa mereka ke Malaysia, negara di mana mereka menghabiskan tiga bulan berikutnya di sebuah kamp pengungsi.

“Keluarga kami memutuskan untuk membawa anak-anak ke tempat yang lebih aman, tempat di mana mereka (dapat) benar-benar menghargai kebebasan dan perubahan yang nyata serta (memiliki) kesempatan untuk memulai hidup kembali,” tutur Mai Ho di kemudian hari, dilansir CNBC.

Sang Ayah, saat itu memutuskan tetap tinggal di Vietnam, menjaga kemungkinan jika keluarganya tertangkap. Akan tetapi, keluarga itu justru mampu menemukan jalan ke Australia, tempat bagi Le mengenyam pendidikannya.

Rajin dan Penasaran

Sedari kecil, wanita kelahiran 20 Mei 1977 ini sudah memiliki keinginan untuk bisa memindahkan objek-objek hanya dengan memikirkannya.

“Saya selalu menjadi seorang kutu buku, saat kecil saya dipenuhi keingintahuan yang besar, tetapi saya juga sangat rajin belajar. Ibuku, dia mengingatkan tentang pentingnya pendidikan. Jadi sekolah sangat penting bagi saya,” kata Le.

Pada usia 16 tahun, Le menyelesaikan sekolah menengahnya dan memutuskan berkarier di bidang hukum, bertentangan dengan keinginan ibunya.

“Ibu bersikeras agar saya mempelajari ilmu kedokteran. Saya lalu mendatangi sekolah kedokteran dan memerhatikannya. Sekolah itu memiliki toples potongan-potongan tubuh manusia dan saya pikir saya benar-benar tidak tertarik melihat darah,” katanya.

Ia juga menjadi sukarelawan di komunitasnya dengan memimpin sebuah organisasi yang membantu para imigran menavigasi sistem hukum di Australia serta menemukan pendidikan keterampilan dan kerja.

Ketika mempelajari bidang hukum di Monash University, Melbourne, secara intelektual sangat memberikan dorongan dan manfaat, tetapi ternyata ini tidak cukup bagi Le. Ia berusaha menemukan 'panggilan' yang sesungguhnya.

Pada masa itu, ia juga mendapat inspirasi dari dua buku yang dibacanya, “The Silicon Boys and Their Valley of Dreams,” karya David A. Kaplan tentang sejarah Silicon Valley, dan “Built to Last: Successful Habits of Visionary Companies,” oleh Jim Collins dan Jerry I. Porras.

“Saya menyadari hidup di generasi dimana kemajuan teknologi akan mendorong masa depan dan masa depan akan dimiliki oleh mereka yang menciptakannya. Saya ingin menjadi bagian dari penciptaan itu. Saya tidak ingin menunggu memfasilitasi proses itu. Saya ingin juga terjun dan membuat barang baru,” jelas Le.

Teknologi Beraksi

Datanglah saat ia bereksperimen dengan ide-idenya di bidang teknologi. Ide pertama yang ia wujudkan adalah perusahaan bimbingan anak secara online, dan berikutnya adalah bisnis membuat barcode scanner.

Produk perangkat scanner tersebut akhirnya menjadi aplikasi perangkat lunak yang membantu perusahaan-perusahaan besar berkomunikasi dengan pelanggan mereka melalui pesan teks, pertama kalinya pada awal tahun 2000-an.

Le dan rekan pendirinya, Nam Do, saat itu membebankan klien lima sen Australia per pesan. Teknologi mereka pun semakin dibanjiri pelanggan. Mereka bisa menangani 150 juta pesan setiap bulannya.

Pada 2003, saat berusia 26 tahun, Le memutuskan menjual perusahaan itu. “Setelah menjual bisnis pertama saya, saya tidak ingin membuat widget atau aplikasi lain. Saya ingin menjelajahi pertanyaan-pertanyaan dalam sains,” katanya.

Allan Snyder, seorang ilmuwan yang dikenal Le membantu memberinya jawaban. Dalam suatu kesempatan mereka berbicara tentang bagaimana komputer dapat memahami emosi manusia.

“Bagaimana kita bisa mengembangkan generasi berikutnya dari interaksi komputer manusia sehingga menjadi jauh lebih pintar, sehingga benar-benar mengerti bukan hanya apa yang Anda katakan untuk dilakukan, tetapi juga bagaimana perasaan Anda, bagaimana Anda menanggapi hal-hal, sehingga AI [kecerdasan buatan] menjadi lebih cerdas?” papar Le kepada Wired.

Emotiv

Le kemudian meluncurkan Emotiv dan menyusun terciptanya suatu algoritma yang dapat mengidentifikasi emosi dari data otak. Namun otak manusia itu rumit, terdiri atas lebih dari 100.000 mil neuron. Reaksi kimia yang terjadi di dalamnya memancarkan impuls listrik, yang dapat diukur, tetapi permukaan otak penuh dengan lipatan.

“Setiap korteks individu memiliki lipatan berbeda, sangat mirip dengan sidik jari. Jadi meskipun sebuah sinyal mungkin berasal dari bagian fungsional otak yang sama, pada saat struktur telah dilipat, lokasi fisiknya sangat berbeda antara individu, bahkan kembar identik. Tidak ada lagi konsistensi dalam sinyal permukaan,” terang Le.

Emotiv kemudian melakukan terbososan dengan membuat algoritma yang 'membuka' korteks otak sehingga impuls listrik dapat dipetakan.

Headset Epoc adalah produk konsumen pertama mereka, sebuah perangkat EEG nirkabel dan portabel yang dapat 'membaca' emosi pengguna dan membiarkan mereka memindahkan objek-objek yang ditampilkan di layar komputer.

Perangkat ini juga bisa memungkinkan seseorang menerbangkan helikopter mainan, hanya dengan berpikir "angkat”, menutup tirai, memainkan games, bahkan mengendalikan kursi roda listrik dengan memetakan ekspresi wajah ke dalam perintah gerakan.

Beberapa bulan setelah peluncuran perangkat ini, perusahaan sukses menggaet 10.000 pelanggan, termasuk Boeing.

Barangkali demonstrasi paling mengesankan dari teknologi Emotiv adalah ketika Rodrigo Hubner Mendes, seorang pria yang mengalami kelumpuhan pada bagian tubuhnya, menggunakan Epoc untuk mengendarai mobil Formula One hanya dengan menggunakan pikirannya.

Melansir The Extraordinary, Le mengatakan bahwa pemahaman tentang otak manusia dapat secara dramatis meningkat jika kita mengumpulkan dan berbagi data penelitian pada skala yang lebih luas secara eksponensial.

“Bagi saya itu semua tentang hasrat serta apa yang benar-benar menginspirasi Anda dan menarik imajinasi Anda. Jika Anda dapat menemukan sesuatu yang Anda sukai, maka itu bukan sekadar pekerjaan tetapi juga menjadi suatu tujuan lebih tinggi.”

Tag : tokoh
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top