Bonus Istimewa

Bila seorang karyawan berprestasi menima bonus menggiurkan dari perusahaan, akan dihabiskan untuk apa uang tersebut? Untuk bersenang-senang atau ada tujuan dan kepentingan lain?
Inria Zulfikar | 30 September 2018 12:11 WIB
Presiden Joko Widodo menyerahkan buku tabungan yang merupakan bonus kepafa atlet Indonesia yang meraih medali dalam Asian Games 2018 di Istana Negara, Jakarta, Minggu (2/9/2018) - Yodie Hardiyan

Bisnis.com, JAKARTA— Michael I. Norton dan Elizabeth W. Dunn pernah melakukan riset yang menarik dan menggelitik pada 2008 soa bonus. Ya, soal bonus.

Siapa yang tidak senang menerima bonus prestasi dari perusahaan. Apalagi bila jumlahnya menggiurkan sehingga bisa digunakan untuk membeli barang-barang yang dari segi harga rasanya dijangkau jika hanya merogoh gaji.

Selain mengacu pada peraturan tertentu, misalnya ketenagakerjaan dan ketentuan terkait lainnya, perusahaan berharap bonus tersebut bisa membuat senang karyawan karena itu merupakan salah satu bentuk reward. Berapa besar bonus yang dibayarkan sangat bergantung dari aturan main di setiap perusahaan.

Malah tidak sedikit perusahaan yang memberikan bonus bukan dalam bentuk uang tunai tetapi dalam wujud lain, misalnya berwisata ke luar negeri bersama keluarga atau kendaraan bermotor. Yang jelas, ada bonus, ada pengeluaran (belanja) mesti tidak berlaku mutlak.

Sesuatu yang Lebih Bermakna

Dari riset Norton dan Dunn baru-baru ini yang garis besarnya dipublikasikan melalui tulisan berjudul Help Employees Give Away Some of That Bonus (2008), terungkap bahwa bonus ternyata lebih banyak dimanfaatkan untuk ‘sesuatu yang bisa membawa kebahagiaan’.

Cukup mengherankan juga karena bonus yang dihabiskan hanya untuk memuaskan ‘kebutuhan duniawi’ sekalipun tidak membuat seseorang bahagia.

Sebaliknya, secara kejiwaan mereka akan merasa jauh lebih bahagia bila bonus tersebut dibelanjakan untuk hal-hal yang bermanfaat bagi banyak orang. (windfall on others).

Di Amerika, ‘suasana kebatinan’ semacam ini mulai tumbuh di kalangan karyawan. Mereka seolah bosan dengan bonus yang tidak pernah berubah selain dalam bentuk uang tunai.

Terbayangkah perasaan yang sama akan muncul di perusahaan-perusahaan Indonesia? Dengan mudah kita menjawab: “Haree gene ada yang nolak duit...mimpi kali yee...

Karena para karyawan di Amerika menginginkan bonus dalam bentuk lain, perusahaan pun tertantang untuk merancang pemberian reward yang tidak kalah menantang pula.

Bentuk finalnya memang belum tampak mengerucut tetapi arah yang dituju sudah jelas, yaitu perusahaan ingin terus memacu potensi karyawan melalui pemberian bonus yang dengan reward tersebut mereka bisa lebih berbagai dengan sesama.

Semangat ini, oleh Norton dan Dunn, disebut “tempat kerja yang prososial” (prosocial workplace). Konsep ini lahir setelah kedua psikolog tersebut melakukan riset melalui tiga cara. Pertama, survei terhadap sedikitnya 600 warga AS membuktikan bahwa semakin banyak uang yang dimanfaatkan untuk tujuan ‘prososial’, mereka merasa hidupnya lebih bahagia dan berarti.

Kedua, eksperimen terhadap 16 karyawan dari sebuah perusahaan yang berbasis di Boston untuk mengukur tingkat kebahagiaan mereka sebelum menerima bonus bagi hasil sebesar US$3.000-US$8.000. Eksperimen berikutnya dilakukan setelah enam hingga delapan minggu bonus diterima.

Kemudian diperoleh fakta bahwa karyawan yang membelanjakan bonusnya untuk ‘berbagi’ dengan orang lain jumlahnya lima kali lebih banyak dibanding mereka yang ‘egois’. Hal yang tidak kalah penting adalah besar kecilnya bonus tidak mempengaruhi komitmen mereka untuk ‘berbagi kebahagiaan’.

Ketiga, untuk mengungkap apakah pengeluaran “prososial” tersebut (prosocial spending) benar-benar membuat seseorang bahagia, sebanyak 46 sukarelawan diberikan US$5 hingga US$20 pada suatu pagi. Mereka dibagi secara acak berdasarkan kelompok yang membelanjakan setengahnya untuk kepentingan pribadi dan mereka yang berbagi dengan orang lain.

Lebih Bahagia

Apa yang terjadi? Ternyata, mereka yang menghabiskan uangnya untuk berbagi kebahagiaan merasa lebih bahagia pada malam harinya, tidak peduli berapa besar uang yang dihabiskan untuk prososial semacam itu.

Kalau dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal istilah ‘UUD’ (ujung-ujungnya duit) atau ‘uang memang bukan segala-galanya tetapi segala-galanya perlu uang’, di negara yang menganggap dirinya sebagai pengusung utama kapitalisme justru bersemi subur fenomena lain: Anda bisa berbagai kebahagiaan hanya dengan modal US$5.

Sering ketika kita memberikan ‘uang rokok’ yang tidak seberapa nilainya kepada petugas parkir dengan wajah penuh empati dan sikap bersahabat, tanpa disangka kita mendapat pelayanan ‘first class’ di areal parkir yang sudah dipadati mobil.  

Petugas parkir langsung menuntun mobil kita menuju tampat parkir yang masih kosong. Bisa jadi petugas tersebut juga akan membukakan pintu mobi. Semua interaksi yang sangat manusiawi ini hanya ‘bermodal’ uang receh.

Tidak sulit, bukan?

Sepintas prosocial spending ini mirip-mirip dengan apa yang kini populer dengan istilah corporate social responsibility (CSR). Bedanya, si pelaku bukan korporasi tetapi karyawan.

Bila demikian, apakah bonus membuat Anda bahagia?

Tag : bonus
Editor : Inria Zulfikar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top