Pusaran Geopolitik Lintas Zaman

Semakin tinggi budaya suatu bangsa, semakin besar kebutuhannya akan sumber daya alam. Apabila wilayah dan ruang hidup tidak mendukung, bangsa tersebut akan mencari pemenuhan kebutuhan kekayaan alam di luar wilayahnya.
Inria Zulfikar | 21 Oktober 2018 22:44 WIB
Perang dagang AS-China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA—Sesuai namanya, geopolitik tentu sangat politik praktis. Namun bagaimana ia bisa terhubung dengan sebuah korporasi besar macam Google, misalnya?

Kita bukan berbicara dalam konteks Google saat ini, tapi 2011. Cukup menarik keterkaitannya. Ketika sang CEO (Eric Schmidt) mundur, keduanya terasa amat dekat dan bisa dijadikan pelajaran bagi dunia.

Ya, bahwa untuk menjadi kampiun di bidangnya tidak perlu rakus dan haus darah dengan memerangi korporasi lain dan menguasai semua aset berharga milik lawan demi keuntungan sepihak.

Sikap agresif itu kerap diperlihatkan oleh negara-negara yang menganggap diri mereka sebagai ‘polisi dunia’, sehingga meraa berhak mengatur tatanan global sesuai kehendaknya.

Ungkapan politik terkenal dari mereka yang menganut kebijakan politik internasional seperti ini yaitu: With us or against us!, geopolitik yang justru mengancam perdamaian dunia.

Oleh karena itu, Andy Kessler mengajak kita untuk melihat fenomena mundurnya Schmidt dari pendekatan geopolitik melalui sisi yang lebih humanis.

Pokok-pokok pikiran yang disampaikan Kessler menarik ditelaah lebih jauh. Lewat tulisannya berjudul Geopolitics a la Google: Lessons for theWorld from a Horizontal Company di Newsweek edisi online 30 Januari2011, dia menekankan bahwa bisnis model yang diterapkan Google niscaya bisa membuat dunia ini lebih damai.

Pasalnya, perusahaan dengan bisnis inti mesin pencari di dunia maya tersebut mengandalkan kegiatan usahanya pada model bisnis yang bersifat horizontal dan bukan vertikal.

Oleh sebab itu, menurut Kessler, ia tidak perlu serakus IBM yang pernah berjaya di bidangnya selama beberapa dekade sebelum akhirnya bertekuk lutut pada pasar yang kemudian menyambut dengan tangan terbuka kehadiran Intel dan Microsoft.

Juga, ia tidak perlu meniru kedigdayaan AT&T yang pernah menguasai seluruh jaringan telepon domestik dan internasional di bumi AS tetapitoh kandas juga akibat koreksi pasar. Berkat kehadiran perusahaan semacam Skype, pasar industri telekomunikasi AS berubah drastis.

Menguasai dengan paksa, bahkan bila perlu dengan kekuatan senjata, merupakan kata-kata yang akrab terdengar bila kita mengulas masalah geopolitik.

Awalnya Bukan Kekerasan

Padahal semangat awalnya sangat jauh dari kekerasan tetapi realita politik di lapangan membuatnya ’haus darah’.

Hal ini antara lain bisa disimak dari pemikiran Sir H. Mackinder, pakar geografi, yang pada 1904 menulis The Geographical Pivot of History.

Dia memperkenalkan terminologi Heartland, yakni jantungnya dunia dengan mempunyai kandungan minyak, gas alam serta kandungan mineral lainnya yang berada pada hamparan daratan yang dapat diakses dengan mudah tanpa harus mengalami hambatan bagi siapa pun bila hendak menguasainya.

Pada 1920, seorang profesor geografi dari Universitas Munich, Karl Haushofer, mempelajari tesis Mackinder untuk digunakan sebagai masukan politik bagi Adolf Hitler.

Haushofer terinsipirasi karya Mackinder untuk digunakan sebagai gagasan bahwa Jerman perlu mendominasi wilayah Rusia, karena potensi kekayaan alamnya, terutama minyak dan gas. Ironisnya, setelah Perang Dunia II berakhir, reputasi Mackinder, yang dianggap sebagai ahli geopolitik dan teorinya diekspresikan ke dalam kehidupan dunia politik dan strategi kondisi geografis, menjadi tercela,karena gagasannya telah memberikan pengaruh yang sangat kuat kepada Nazi Jerman.

Tak puas dengan Heartland, Sir Walter Raleigh dan Alfred Thyer Mahan menggagas ’Wawasan Bahari’, yaitu kekuatan di lautan. Intinya adalah siapa yang menguasai lautan maka akan menguasai perdagangan. Menguasai perdagangan berarti menguasai kekayaan dunia dan pada akhirnya menguasai dunia pula.

Pendekatan matra ini mengilhami W.Mitchel, A Saversky, Giulio Douhet, dan John Frederick Charles Fuller untuk menawarkan konsep tandingan. Mereka menilai kekuatan di udara (wawasan dirgantara) justru yang paling menentukan.

Kekuatan di udara hendaknya mempunyai daya yang dapat diandalkan untuk menangkis ancaman dan melumpuhkan kekuatan lawan dengan menghancurkannya di kandangnya sendiri agar lawan tidak mampu lagi menyerang.

Nicholas J. Spykman kemudian ingin menyatukan konsep yang terpisah-pisah tersebut kedalam apa yang disebut ‘Daerah Batas’ (rim land), yaitu wawasan kombinasi yang menggabungkan kekuatan darat, laut, dan udara. Dalam pelaksanaannya, konsep ini disesuaikan dengankebutuhan dan kondisi suatu negara.

Dari sinilah awal kesalahpahaman berbagai kalangan ahli strategi di berbagai negara mengenai teori geopolitik yang ditafsirkan untuk tujuan perang. Pemikiran ini diperparah lagi dengan pandangan Frederich Ratzel yang merumuskan untuk pertama kalinya apa yang disebut Ilmu Bumi Politik.

Semakin tinggi budaya suatu bangsa, semakin besar kebutuhannya akan sumber daya alam. Apabila wilayah dan ruang hidup tidak mendukung, demikian Ratzel, bangsa tersebut akan mencari pemenuhan kebutuhan kekayaan alam di luar wilayahnya (ekspansi).

Hal ini melegitimasikan hukum ekspansi, yaitu kegiatan (ekonomi, perdagangan, perindustrian, dan produksi) harus diimbangi oleh pemekaran wilayah. Batas–batas suatu negara sudah tidak dapat memenuhi keperluan.

Alhasil, ruang itu dapat diperluas dengan mengubah batas-batas negara, baik secara damai maupun melalui jalan kekerasan atau perang. Padahal, pemahaman teori geopolitik sebenarnya untuk mengetahui kondisi geografis dalam menghadapi kekurangan dari negara itu sendiri, dan bagaimana penanganannya guna memenuhi kebutuhan primer seperti komoditas berupa bahan pangan dan energi.

Oleh sebab itu, diperlukan langkah-langkah strategis untuk merancang bagaimana memperoleh komoditas tersebut dengan cara kooperatif secara damai, bukan dengan menciptakan konflik. Seperti dikatakan Kessler, Jerman dibawah kekuasaan Hitler adalah jagonya membuat mesin. Namun pada saat yang sama diktator tersebut merasa penduduknya masih ’kekurangan vitamin’.

Dia berambisi meningkatan kesejahteraan rakyat Jerman dalam tempo secepat-cepatnya, atau lebih tepatnya dengan ’serangan kilat’.

Caranya, ambil semua yang dibutuhkan dengan cara paksa atau melalui kekerasan. Kuasai wilayah negara lain. Caplok sumber daya alam mereka. Libatkan rakyat semesta untuk mengolah semua itu. Biarkan rakyat menjadi kaya. Begitulah bila prinsip vertikal yang diterapkan. Pendekatan horizontal adalah sebaliknya.

Sebagai Mitra

Akhirnya Jerman harus mengakui keunggulan AS yang memilih ‘jalan horizontal’. Sebagai pihak yang kalah perang, Jepang dan Jerman bisa saja menjadi bagian wilayah AS. Namun model horizontal membuat kedua negara tersebut independen dan malah berperan sebagai mitra dagang penting Washington.  Perekonomian Soviet hancur lebur karena inefisiensi. Bila rakyatnya ‘mencuri’ sumber daya alam, tetap saja tidak ada insentif yang akan dinikmati guna menghasilkan solusi yang lebih produktif.

Bagaimana dengan China? Kecerdikan Negeri Panda ini, menurut Kessler, membuatnya tidak mungkin berpaling dari pendekatan horizontal. Ia lebih suka berniaga dibandingkan dengan menguasai sumber daya alam berharga di Afrika.

Sejak awal abad 20, akses ke sumber energi, khususnya minyak, menjadi ajang pertarungan bagi negara-negara di belahan Eropa Barat.

Apalagi ketika Inggris mulai melakukan konversi bahan bakar dari batubara ke minyak bumi untuk seluruh kekuatan militernya, terutama untuk armada kapal perang.

Bagi Inggris menguasai sumber-sumber minyak merupakan agenda nasional mengingat kekuatannya bertumpu pada supremasi di laut.  Kemudian pada pertengahan abad ke-20, muncul pemikiran geopolitik dari para ahli Prancis seperti Albert Demangeon, Louis Febure, Andre Siegfried, dan Jacques Ancel. Dari AS antara lain bisa disebut Henry Kissinger, Zbigniew Brezinzky, dan Kagan yang mewakili generasi Perang Dingin.

Para pemikir strategis tersebut berpendapat bahwa pendekatan geopolitik sudah tidak relevan. Mereka justru haus perang denganmemperkenalkan konsep baru yang disebut geostrategic, yaitu strategi yang dirumuskan atas dasar pemahaman kondisi geopolitik untuk perencanaan militer tingkat tinggi guna memenangkan sebuah peperangan.

Perang? Itulah yang tidak ada dalam pikiran Kessler. Penulis buku Eat People: Unapologetic Rules for Game-Changing Entrepreneurs tersebut berpendapat perang untuk menguasai negara lain sama sekali tidak ada gunanya, karena hanya akan membuat kepusingan baru.

“Why take over a country and deal with the headaches of a welfare system, and have to fix the plumbing in Uzbekistan, when you can buy its output on the cheap, even ordering its goods over the web?”

Tag : globalisasi
Editor : Inria Zulfikar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top