Hengkang dari Google, Liz Wessel Angkat Milenial di WayUp

Bisa bekerja di perusahaan besar dengan gaji berlimpah seperti Google mungkin menjadi impian banyak orang. Tapi Liz Wessel rela meninggalkan segala fasilitas yang didapatnya di raksasa teknologi ini demi memulai startup sendiri.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 08 November 2018  |  10:37 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Bisa bekerja di perusahaan besar dengan gaji berlimpah seperti Google mungkin menjadi impian banyak orang. Tapi Liz Wessel rela meninggalkan segala fasilitas yang didapatnya di raksasa teknologi ini demi memulai startup sendiri.

Pada Juli 2014, ia dan rekannya, JJ Fliegelman mendirikan sebuah perusahaan untuk membantu para pelajar dan kaum profesional muda mendapatkan peluang kerja maupun magang.

Tak hanya bertindak sebagai salah satu pendiri, Wessel saat ini adalah CEO dari WayUp, platform ternama bagi jutaan profesional muda yang mencari peluang, membutuhkan saran, dan memburu pengalaman kerja di awal karier mereka.

Berbasis di New York City, WayUp, yang kemudian akrab dengan sebutan “The Campus Job”, tumbuh menjadi startup berbasis ventura yang telah diakui oleh CNN sebagai salah satu dari 30 perusahaan paling inovatif yang mengubah dunia.

Para penggunanya mewakili lebih dari 5.300 kampus di Amerika Serikat. WayUp juga bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan lain, termasuk perusahaan top dunia yang masuk dalam daftar Fortune 500, startup, dan lembaga nirlaba - untuk membantu menjangkau, merekrut, dan berdekatan dengan generasi bakat berikutnya.

Keberhasilan Wessel turut mengangkatnya masuk dalam daftar Forbes “30 Under 30 in Enterprise Technology” dan mendapuknya sebagai salah satu dari “18 Coolest Women” di Silicon Valley.

Bisa dikatakan Wessel telah mengambil langkah tepat dengan memercayai nalurinya untuk meninggalkan Google. Ia membulatkan tekadnya dan yakin akan dapat menapaki dunia sendiri dengan tujuan yang lebih besar.

Galang Investor

Hanya berselang satu hari setelah meninggalkan Google, Wessel mulai bergerak cepat bekerja di perusahaan barunya dengan bertemu sejumlah calon investor. Ada pengalaman menarik pada hari pertamanya tersebut.

“Gigi bungsu saya baru saja copot dan membuat separuh wajah saya menyerupai seekor tupai. Ini sangat mengerikan karena pada hari kerja pertama di perusahaan baru saya, saya harus menghadapi dua pertemuan,” ungkapnya di kemudian hari, seperti dikutip Business Insider.

Pertemuan pertamanya adalah dengan Anu Duggal, pendiri Female Founders Found, dan selanjutnya adalah dengan David Tisch dan Adam Rothenberg dari BoxGroup.

“Saya sudah mempersiapkan segala-galanya untuk menghadapi kedua pertemuan itu dan kemudian saya harus datang dengan wajah setengah bengkak. Bagus sekali,” tambah Wessel.

Tetap tampil percaya diri, Wessel dengan jelas memaparkan rencana bisnis dan visi perusahaan ke depannya. Pertemuan dengan Duggal berakhir cukup baik. Wessel bahkan ditawari kesempatan untuk bertemu dengan investor dari Lerrer-Hippeau Ventures.

Agenda pertemuannya dengan para pendiri BoxGroup dirasanya lebih menegangkan. Sang pendiri perusahaan, David Tisch dan Adam Rothenberg, diketahui memiliki jejak investasi yang bukan main-main.

Pertanyaan demi pertanyaan bergulir dari dua sosok tersebut hingga Wessel menyadari bahwa keduanya tertarik dengan platform yang dibuatnya bersama Fliegelman.

“Mereka mengatakan menyukai ide itu dan telah lama percaya harus ada pihak yang bersinggungan dengan bidang ini dengan cara menghubungkan para pemberi kerja dan siswa secara langsung, tanpa perlu bergantung pada universitas,” jelas Wessel.

Hari itu jelas telah berjalan jauh lebih mengesankan dari dugaannya dan mengubah hidup Wessel. Tak hanya Tisch dan Rothenberg, Anu dan Lerer-Hippeau juga telah menjadi investor yang penting dan suportif bagi WayUp hingga kini.

Pelajaran Terbaik

Gadis yang belum berusia 30 tahun ini benar-benar baru memiliki satu pengalaman berkarier sebelum memulai bisnisnya sendiri. Setelah lulus dari salah satu kampus top di AS, University of Pennsylvania, Wessel berhasil menarik perhatian Google.

Ia direkrut sebagai Manajer Pemasaran Produk di Mountain View dan memimpin semua inisiatif merek di India. Sebelum dipekerjakan secara penuh, Wessel sempat mendapatkan kesempatan magang di perusahaan bergengsi tersebut hanya dengan mendaftar secara online.

Setelah ia memulai perusahaannya sendiri, semakin banyak hal yang ia pelajari khususnya dengan semua orang yang ia temui saban hari.

“Sekitar 60% dari hari saya diisi dengan wawancara, 20% dihabiskan dalam pertemuan internal dengan karyawan di WayUp, kemudian 20% terakhir dihabiskan dengan orang-orang luar, baik itu investor, media, atau klien,” jelas Wessel, seperti dikutip dari Her Campus.

Ia mengaku bukan seseorang yang percaya dengan 'telah membuat kesalahan'. Ia meyakini bahwa segala sesuatu semestinya dipandang sebagai peluang belajar alih-alih kesalahan.

“'Kesalahan sejati adalah ketika Anda melakukan satu kesalahan yang sama sebanyak dua kali. Ini artinya Anda tidak belajar dari kesalahan pertama,” kata Wessel.

Contoh kesalahan jelas yang paling ia pelajari adalah dalam hal perekrutan, yakni ketika tidak melakukan proses wawancara terhadap calon pekerja dengan semestinya sehingga berdampak pada kerja tim secara keseluruhan selanjutnya.

“Namun kami terus berupaya memperbaiki proses wawancara kami untuk menghindari hal ini terjadi lagi,” lanjutnya.

Menurutnya, kunci terpenting dalam merekrut adalah mengetahui apakah seseorang akan cocok dengan budaya WayUp, sebelum melihat apakah keterampilan yang dimiliki sesuai dengan keahlian yang perusahaan cari.

Kemudian, ia akan mempertimbangkan apakah orang tersebut berpikir strategis, kreatif, dan 'out of the box' untuk membawa peran mereka ke tingkat berikutnya.

“Apa yang paling menonjol bagi saya adalah pencapaian yang dimiliki seseorang dalam setiap peran yang mereka hadapi. Biasanya saya tidak terlalu peduli dengan tanggung jawab jika tidak ada pencapaian kuantitatif yang tercantum di sampingnya,” jelas Wessel.

Memimpin Generasi Milenial

Selain beberapa anggota staf senior, kebanyakan pekerja di WayUp berusia di bawah 30 tahun. Bagaimana cara Wessel, seorang milenial, memimpin pegawai dengan rata-rata usia yang sama?

“Tidak terlalu berbicara tentang usia, ini lebih tentang pengalaman bertahun-tahun dalam peran yang relevan,” terangnya, seperti dikutip Forbes.

“Ada beberapa orang yang baru dalam peran mereka [di WayUp] tetapi memiliki pengalaman empat tahun di pekerjaan lain. Saya akan memperlakukan mereka persis seperti seseorang yang baru saja lulus kuliah dan mulai di sini [dalam peran itu].”

Satu hal yang ia upayakan adalah bagaimana membangun kepercayaan dengan karyawan baru, terutama mereka yang baru memulai. Dengan tim yang terus berkembang, ia justru menikmati kesempatan ketika pemimpin dan karyawannya bekerja sama memecahkan permasalahan yang rumit.

“Hal-hal positif [memimpin milenial] adalah bahwa mereka bercita-cita untuk melakukan banyak hal, mereka ingin mencapainya. Mereka ingin belajar, ingin tumbuh, dan selalu ingin membuktikan bahwa mereka dapat mencapai hal-hal hebat,” ungkap Wessel.

Namun diakuinya, karakter-karakter ini pula yang membuat generasi ini lebih sulit untuk dipertahankan.

“Sangat sulit untuk mempertahankan generasi milenial karena mereka ingin mencoba banyak hal. Kehilangan karyawan yang menjanjikan untuk perusahaan lain adalah sulit karena artinya kita kehilangan bakat besar. Tapi secara pribadi saya mengerti mengapa mereka ingin mencoba kesempatan baru,” pahamnya.

WayUp tidak selalu berbicara tentang bisnis. Karyawan di perusahaan itu juga disuguhi beberapa fasilitas menyenangkan seperti makan siang gratis pada hari Rabu, outing, atau agenda rutin dimana mereka mengundang teman-teman mereka dan mengubah suasana kantor menjadi ajang kumpul.

“Tetap saja, hal yang paling penting adalah kami akan selalu mendorong Anda untuk belajar lebih banyak,” pungkas Wessel.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tokoh

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top