Pete Lau, Pecinta Detail di Balik Dering OnePlus

Lima tahun sejak pertama kali didirikan, kiprah pabrikan smartphone asal China, OnePlus, di panggung global semakin menggigit. Yuk kenalan dengan salah satu otak kesuksesannya, Pete Lau.
Renat Sofie Andriani | 15 November 2018 13:52 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Lima tahun sejak pertama kali didirikan, kiprah pabrikan smartphone asal China, OnePlus, di panggung global semakin menggigit. Yuk kenalan dengan salah satu otak kesuksesannya, Pete Lau.

Lahir pada 5 Mei 1975 di Hanchuan, Hubei, China, Lau memulai karier sebagai insinyur perangkat keras untuk Oppo. Kariernya melejit hingga menjadi wakil presiden perusahaan dan berperan besar dalam mengangkat CyanogenMod, sistem operasi Android di smartphone Oppo N1.

Dilansir dari Biography Tree, setelah bekerja selama lebih dari satu dekade, Lau mengundurkan diri dari Oppo pada November 2013 untuk fokus dengan merek OnePlus-nya.

“Saya telah bekerja sebagai seorang insinyur perangkat keras, menjadi direktur divisi Blu-Ray dan akhirnya memimpin tim pemasaran kami melalui banyak tantangan dalam upaya menciptakan merek ponsel yang hebat," ungkap Lau. 

"Ada banyak kenangan yang akan saya hargai dari masa-masa saya di Oppo."

Keputusan Lau saat itu terbilang nekat. Ia meninggalkan zona nyamannya dan mantap memulai perusahaan baru bersama rekannya, Carl Pei. Masa awal berdirinya perusahaan pada Desember 2013, OnePlus hanya didukung oleh total 5 karyawan.

“Ketika Anda memulai sebuah perusahaan, itu bukan hanya tentang diri Anda sendiri, tetapi orang-orang di sekitar Anda, keluarga Anda, teman-teman Anda. Saya tidak ingin mengecewakan mereka dan itulah yang membuat saya terus berjuang,” ucap lulusan Zhejiang University ini, seperti dikutip Technode.

OnePlus mulai menjual ponsel secara online dan menemukan banyak cara untuk memangkas biaya dan mulai memberikan manfaat kepada para pelanggan, di antaranya melalui CyanogenMod, sistem operasi Android.

Ponsel generasi pertama merek itu yang dijual dengan nama OnePlus one mulai bergerilya secara online pada Juni 2014 setelah diumumkan pada bulan April tahun yang sama. Tak dinyana, ponsel ini menerima apresiasi yang bagus dan populer untuk fitur, fungsi, dan kecepatannya.

Setelah kesuksesan pertama, Lau dan segenap tim OnePlus terus berupaya keras untuk memenuhi permintaan pasar, yang menjadi salah satu tantangan terbesarnya, hingga kini.

Dimulai di Kafe

Ide berdirinya OnePlus dimulai ketika Lau, Pei, dan beberapa teman mereka berbincang-bincang di sebuah kafe. Saat itu mereka menyadari bahwa masing-masing menggunakan iPhone Apple. 

Fakta ini terbilang menarik karena mereka semua bekerja di perusahaan seluler yang menggunakan Android Os.

Di saat itu pula mereka melihat tidak ada yang fokus pada produk dan pengalaman pengguna lebih baik dari Apple. Ketika mereka mulai membahas tentang ponsel Android terbaik, semua orang malah menyodorkan jawaban yang berbeda.

Pada saat itu, menurut mereka, kebanyakan pabrikan ponsel hanya memberi berbagai fitur untuk membedakan diri tanpa memikirkan apakah para pengguna membutuhkan fitur tersebut atau tidak. Belum lagi harga rata-rata ponsel yang dinilai mahal.

Di sinilah mereka melihat celah untuk membuat ponsel terbaik dengan harga terbaik. Hanya saja, mewujudkan suatu ide jelas tak semudah memikirkannya, apalagi dengan banyaknya raksasa smartphone bermodal luar biasa seperti Sony, Samsung, dan HTC.

Ketika Lau dan Pei memulai OnePlus pada Desember 2013, mereka harus melakukan banyak hal secara berbeda karena minimnya anggaran.

Mereka memutuskan untuk menjual ponsel mereka hanya secara online sehingga mereka tidak perlu membayar apa pun kepada distributor. Perusahaan kecil mereka menggunakan metode mendatangkan pelanggan (invite system), karena jika memproduksi terlalu banyak ponsel dan tidak terjual, perusahaan mereka harus ditutup.

Berselang enam bulan sejak pendiriannya, OnePlus meluncurkan ponsel pertamanya pada Juni 2014 dengan harga $250. Ponsel-ponsel murah saat itu memiliki kisaran harga US$100, sedangkan produk-produk flagship berkisaran harga US$600.

Ponsel mereka sukses mendapat sambutan hangat dari para penikmat gadget. Target penjualan 30.000 ponsel jauh dilampaui hingga menembus lebih dari 1 juta ponsel. 

Saat ini ponsel OnePlus telah dijual di lebih dari 30 negara dan menjadi salah satu ponsel Android terbaik di pasar smartphone.

“Selama masa-masa awal kami, sekitar peluncuran OnePlus One, kami tidak yakin berapa banyak orang ingin membeli ponsel dari merek baru yang memasuki industri itu. Ketika semuanya berubah, permintaan untuk produk pertama kami melebihi harapan,” ujar Lau, seperti dikutip The Quint.

Perhatian Pada Detail

OnePlus dikenal karena mendengarkan apa yang dibutuhkan oleh para pelanggan mereka dan memberikan perhatian yang gila-gilaan pada detail.

Oleh para pengamat, OnePlus jelas mewakili fenomena Big Bang, yakni sebuah perusahaan yang diluncurkan dengan produk yang lebih baik, lebih murah dan lebih disesuaikan dengan apa yang dibutuhkan pelanggan.

Bersama dengan Pei, Lau memutar otak mengarahkan OnePlus untuk fokus membuat ponsel yang menampilkan semua yang diinginkan oleh konsumen. Mereka bahkan menggunakan media sosial untuk melakukan jajak pendapat mengenai fitur-fitur yang dibutuhkan.

Contohnya saja, mereka secara teratur memantau konsumen di forum dan akun Twitter-nya untuk mengetahui apakah harus mempertahankan atau menghilangkan jack audio, yang telah dilakukan oleh Apple dan Google sebelumnya.

“Masukan konsumen memastikan bahwa kami dapat membuat dan merancang ponsel yang tidak hanya mudah digunakan tetapi juga mudah digenggam dan bahkan muat di dalam saku,” tutur Lau.

Pentingnya feedback konsumen diilustrasikan oleh Lau ketika perusahaan mendapatkan bahwa motor getaran tidak efektif diterapkan pada model OnePlus 3T. Perusahaan kemudian memutuskan untuk mengubah dan memperkuatnya dengan model OnePlus 5.

Salah satu terobosan lain yang diusung oleh Lau sebagai CEO perusahaan adalah merancang sistem operasinya sendiri bernama oxygen OS. Sistem operasi ini telah menjadi begitu populer terutama di India.

Dengan fokus pada satu produk (smartphone) dan penjualan secara online, Lau pernah mengatakan bahwa margin dalam bisnisnya jauh lebih tinggi, dan itu membantu perencanaan produk di masa depan untuk timnya.

OnePlus kian unjuk gigi, Setelah meluncurkan OnePlus 6 pada 16 Mei 2018, perusahaan ini resmi meluncurkan OnePlus 6T pada 29 Oktober 2018. OnePlus 6T memiliki layar AMOLED 6,4 inch yang juga berfungsi sebagai pemindai sidik jari.

“Kami akan menciptakan produk yang lebih indah dan berkualitas lebih tinggi. Kami tidak akan pernah berbeda hanya demi menjadi berbeda,” tulis Lau dalam unggahannya di The Verge.

Tag : tokoh
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top