DIRUT JFX Stephanus Paulus Lumintang: Optimisme Harus Dibangkitkan

Situasi bisnis mendekati Pemilihan Presiden 2019 memang penuh dinamika. Demikian halnya yang terjadi di sektor komoditas.
Hafiyyan, Fitri Sartina Dewi, & Finna Ulia Ulfah | 19 Februari 2019 09:47 WIB
Direktur PT Jakarta Futures Exhcange (JFX) Stephanus Paulus Lumintang (dari kiri) bersama Kepala Biro Pengembangan dan Pengawasan Dharma Yugo Hermansyah, dan Direktur JFX Donny Raymond menjawab pertanyaan wartawan, di Jakarta, Rabu (10/1). - JIBI/Endang Muchtar

JAKARTA – Sebagai bursa berjangka pertama di Indonesia yang berdiri pada 1999, Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau Jakarta Future Exchange (JFX) berupaya menyediakan fasilitas untuk investasi, bisnis, dan sarana lindung nilai. Bagaimana taktik institusi ini dalam mendorong pertumbuhan transaksi perdagangan berjangka komoditas (PBK)? Berikut petikan wawancara Bisnis dengan Dirut JFX Stephanus Paulus Lumintang.

 

Bagaimana proyeksi industri PBK pada 2019? Seperti apa peluang dan tantangannya?

Kalau 2019 industri PBK, khususnya di JFX, kami masih memiliki optimisme bertumbuh karena banyak peluang belum tergarap, apalagi jumlah pertumbuhan populasi dan pendapatan masyarakat terus meningkat. Masyarakat juga semakin baik dalam mengelola keuangan, baik untuk tabungan maupun belanja.

Masyarakat sudah teredukasi dalam berinvestasi, mengambil keputusan, ataupun menyiapkan masa depan masing-masing. Banyak juga peluang yang bisa kita kerjakan, karena Indonesia kaya sekali akan komoditas.

JFX sebagai self regulatory organization (SRO), yang merupakan bursa berjangka pertama di Indonesia, tentunya kami menyiapkan sesuai kebutuhan pelaku pasar atau investor. Langkah ini dilakukan bersama-sama dengan pemangku kepentingan lainnya.

Bagaimana dampak aktivitas PBK terhadap sentimen AS-China di pasar global?

Kita tidak lagi membahas dua negara tetapi dunia. AS mewakili bumi bagian barat, China mewakili bumi bagian timur. Ini kekuatan dua negara yang memiliki ekonomi terbesar.

Karena kekuatan ekonominya, dan terbukanya ekonomi mereka, itu tentunya akan memengaruhi dunia, sehingga kebijakan mereka bisa memengaruhi kebijakan global. Pastinya, yang akan terpengaruh ialah negara-negara menengah dan kecil, yang membutuhkan pertolongan ekonomi dari mereka.

Analoginya, AS dan China itu itu ibarat gajah, sedangkan negara kecil seperti semut. Gajah bisa menjadi proteksi bagi semut yang kecil, tetapi bisa juga membahayakan.

Dengan kondisi seperti itu, apa yang bisa dilakukan bagi aktivitas PBK sendiri?

Sebetulnya, keduanya masih saling membutuhkan. China memegang surat utang pemerintah AS dalam jumlah besar banyak. Banyak produk China membanjiri pasar AS. Adapun, China membutuhkan kedelai dan gandum dari AS. Perseteruan mereka tentunya membuat dunia pusing.

Namun, ini juga bisa menjadi peluang karena harga komoditas cenderung fluktuatif, sedangkan rupiah mengalami tren menguat.

Dengan kondisi pasar yang dinamis, investor semakin ingin mengelola risiko, memitigasi risiko. Transaksi PBK pun diperkirakan semakin bergairah. Kalau market cenderung stabil, peluangnya justru terbatas di industri PBK.

Apakah agenda politik di Indonesia akan memengaruhi industri PBK?

Bisnis semestinya tidak terpengaruh besar, karena semua pelaku menginginkan Pemilu yang dalam dan membangkitkan optimisme ekonomi. Namun, ada kemungkinan transaksi PBK menurun mendekati masa Pilpres.

Penurunan juga terjadi di pasar pada 2014. Namun, saat itu harga komoditas juga relatif stabil, sehingga pelaku pasar enggan masuk. Pada 2019 tampaknya berbeda karena kondisi pasar yang dinamis. Di sisi lain, masyarakat semakin dewasa dan matang, baik dari sisi ekonomi maupun politik.

Tag : komoditas, bursa berjangka, POLICY TALK
Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top