Transformasi Ketergantungan Komoditas Dasar ke Industri jadi Kunci Kemajuan Indonesia di 2045

Alumni HI Universitas Parahyangan menilai transformasi dari ketergantungan terhadap sektor komoditas dasar menuju industri bernilai tambah tinggi yang ditopang kapasitas domestik yang mumpuni untuk menjadi penyedia produk global utama, adalah salah satu strategi utama dalam mewujudkan Indonesia sebagai negara maju di 2045.
Mia Chitra Dinisari | 07 April 2019 13:42 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Alumni HI Universitas Parahyangan menilai transformasi dari ketergantungan terhadap sektor komoditas dasar menuju industri bernilai tambah tinggi yang ditopang kapasitas domestik yang mumpuni untuk menjadi penyedia produk global utama, adalah salah satu strategi utama dalam mewujudkan Indonesia sebagai negara maju di 2045.

Hal itu diungkapkan dalam Diskusi Nasional Alumni HI Unpar dengan tajuk Indonesia 2045: Berdaulat, maju dan berpengaruh pada tataran global.

Pemerintah nantinya diharapkan bisa menyusun strategi untuk mempercepat implementasi industri dengan nilai tambah tinggi secara internasional demi mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dan menciptakan surplus neraca perdagangan dengan pasar dunia.

Rino Donosepoetro, CEO Standard Chartered Bank yang juga ketua penyelenggara diskusi menyatakan bahwa diskusi ini menjadi tonggak inspirasi gerakan generasi muda untuk mewujudkan aspirasi indonesia 2045 -berdaulat maju dan berpengaruh didunia. Rino mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar mejadi global economic powerhouse. Infrastructure boost menjadi faktor penting dalam mencapai Indonesia maju.

Pembangunan infrastruktur yang tepat guna sebagai faktor utama dinilainya mendukung pertumbuhan ekonomi. Dirinya melihat perlunya mengoptimalisasi ruang kebijakan fiskal karena posisi government debt yang relatif rendah dibawah 30% dari GDP sehingga Indonesia perlu menambah pinjaman modal untuk mengakselerasi pembangunan sektor-sektor produktif dan infrastruktur.

Sementara itu Bima Arya, Walikota Bogor yang juga Panita Pengarah Diskusi Nasional ini menilai bahwa diskusi nasional ini diharapkan mampu meletakan pondasi bagi para generasi milenial yang akan menjadi para pemimpin masa depan. Generasi ini diharapkan paham akan akarnya serta memahami local values.

“Mereka cinta pada 4 pilar yaitu Pancasila, NKRI, UUD 45 dan Bhineka Tunggal Ika. Mereka tidak jago kandang dan bisa tampil di forum internasional,”ungkapnya seperti dikutip dari siaran persnya.

Wimboh Santoso, Ketua Dewan Komisioner OJK dalam pidatonya menjelaskan beberapa faktor penting bagi kemajuan Indonesia. Pertama, sebisa mungkin tidak bergantung pada impor. Dengan mendorong ekspor dan mengurangi impor akan memberikan value added ke perekonomian negara dan memberikan kesempatan untuk mengurangi pengangguran.

Wimboh juga menekankan pentingnya mengikuti perkembangan teknologi sebagai faktor penting kemajuan bangsa. Peran teknologi dalam negara termasuk dalam sektor keuangan tidak bisa lagi diabaikan. Dirinya memberikan contoh terkait pinjaman online yang saat ini sedang menjadi fenomena dan euforia dalam masyarakat. Perkembangan teknologi yang memudahkan masyarakat untuk mendapat pinjaman ini tidak lagi bisa dibendung karena masyarakat membutuhkannya.

OJK dalam hal ini bertugas dan bertanggung jawab untuk melindungi masyarakat dengan mengeluarkan regulasi-regulasi terkait yang mengatur tentang keberadan fintech. Hal ini bertujuan agar perkembangan teknologi ini bisa menjadi manfaat dan bukan ancaman bagi masyarakat.

“Optimalkan perkembangan teknologi ini untuk pengembangan peran industri dan masyarakat Indonesia. Peran teknologi khususnya dalam sektor keungan dan perbankan sebaiknya difasilitasi sehingga bisa menjadi benefit untuk masyarakat. Hal ini juga akan mendorong sektor perbankan untuk terus memperbaiki diri dan memiliki spirit bersaing, “ungkapnya.

Wimboh menambahkan bahwa program pemerintah yang transparan serta diplomasi ekonomi yang lebih agresif juga berperan penting bagi kemajuan ekonomi Indonesia.

Rosan Roeslani, Ketua Kadin dalam kesempatan yang sama mencoba memberikan studi kasus negara lain. Dirinya melihat bahwa investasi yang saat ini paling banyak dilirik di asean adalah Vietnam. “Regulasi mereka sangat baik, semangat kerjanya bagus, perizinan simple dan mudah sehingga banyak investasi yang masuk ke vietnam. Kita berkompetisi dengan negara-negara ASEAN lainnya. Oleh sebab itu, infrastruktur kita dibangun dan kita perlu menyederhanakan perizinan atau policy karena kita ini yang dikeluhkan adalah bedanya kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah dalam hal perizinan.” Ungkapnya

Solikin M. Juhro Rektor Bank Indonesia Institute menekankan pada pentingnya inovasi sebagai kunci kemajuan negara. Menurutnya Indonesia harus melembagakan inovasi. Pelembagaan inovasi ini dipercaya akan menumbuhkan growth dengan inovasi. “Kalau tidak kita hanya bisa tumbuh sekitar 5-6 persen. Korea Selatan dulunya selalu menurun pertumbuhan ekonominya. Mereka menyadari itu, maka itu mereka melakukan konsep-konsep inovasi dan sekarang menjadi negara yang luar biasa.’, ungkapnya. Dirinya optimis dengan komitmen yang selama ini dipegang pemerintah, Indonesia mempunyai modal
untuk menjadi negara yang maju, tumbuh lebih baik, dengan memberikan perhatian lebih ke capital dan inovasi.

Diskusi nasional ini berhasil mengumpulkan setidaknya 500 peserta yang terdiri dari akademisi, mahasiswa, para pembuat kebijakan, pimpinan perusahaan, media massa, dan anak-anak bangsa yang peduli dan memiliki gagasan inovatif untuk turut mengantar bangsa Indonesia mempersiapkan diri menghadapi tantangan global pada 2045.

“Para anak bangsa yang dikumpukan hari ini memiliki pandangan-pandangan menarik dan inovatif tentang apa yang harus dilakukan sejak saat ini untuk mewujudkan Indonesia yang maju di 2045. Pertemuan hari ini juga akan menyiapkan pemimpin masa depan yang berwawasan global dan mampu menjawab tantangan dan perubahan dunia yang berjalan semakin cepat,” ungkap Rino

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank nusantara parahyangan

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup