Strategi Berbisnis Kuliner Ala Eatlah, Fast Food Lokal yang Ingin Sukses di Luar Negeri

Eatlah menawarkan kuliner berbahan dasar nasi dan ayam berbalut saus telur asin (salted egg). Jenis kuliner ini menjadi tren di kalangan pekerja milenial  beberapa tahun ke belakang.
Agne Yasa
Agne Yasa - Bisnis.com 22 April 2019  |  18:33 WIB
Strategi Berbisnis Kuliner Ala Eatlah, Fast Food Lokal yang Ingin Sukses di Luar Negeri
Brand kuliner Eatlah - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Mengelola bisnis kuliner untuk tetap bisa berkelanjutan membutuhkan kiat tersendiri. Hal ini yang dihadapi Eatlah, sebuah brand usaha di bidang kuliner, yang kini sukses meraih pasar dalam negeri.

Eatlah menawarkan kuliner berbahan dasar nasi dan ayam berbalut saus telur asin (salted egg). Jenis kuliner ini menjadi tren di kalangan pekerja milenial  beberapa tahun ke belakang.

Marketing Director Eatlah Charina Prinandita mengatakan Eatlah direspons cukup positif oleh pasar Indonesia dan per Maret 2019 jumlah gerainya berkembang menjadi 22 outlet. Target ke depan, kata Charina, Eatlah ingin menjadi fast food lokal yang bisa sukses merambah pasar luar negeri.

“Visi kami jadi fast food buatan anak Indonesia yang bisa dibawa ke luar negeri. Kami tidak mau menjadi sesuatu yang mahal, kami mau menjadi sesuatu yang mudah dikonsumsi dan dibeli,” ujarnya kepada Bisnis, belum lama  ini.

Untuk itu, strategi yang diterapkan Eatlah saat ini adalah menjajaki market yang familiar yaitu orang Indonesia. Eatlah gencar melakukan ekspansi ke kota-kota besar, tak hanya menggarap potensi Jabodetabek. Saat ini outlet Eatlah dapat ditemui di Bandung, Semarang Yogyakarta, Bali, dan Surabaya. Tahun ini, Eatlah juga menargetkan membuka outlet di Medan dan Makassar.

“Target ke depan, untuk Jabodetabek, ingin buka lebih banyak di mal. Di mindset orang, Eatlah itu makanan ojek online, kami ingin memperkenalkan persepsi baru bahwa Eatlah juga enak [untuk] makan di tempat. Target ini membawa tantangan baru,” jelas Charina.

Dia mengungkapkan membuka outlet menjadi salah satu strategi marketing Eatlah, dengan keyakinan bahwa semakin sering orang melihat maka semakin sering ingat. “Strategi marketing kami yang utama sebenarnya simpel, prinsip kami adalah kami mau orang mencoba makanan kami, kalau mereka suka toh pasti balik,” ujarnya.

Pada setiap pembukaan gerai baru, Eatlah biasanya memberikan makanan gratis sekitar 100 box-200 box untuk orang-orang di area sekitar outlet, selama 1 hari-2 hari pembukaan. Tujuannya, agar orang-orang mengenal rasa Eatlah dan bisa menyukainya serta kembali lagi untuk membelinya.

Strategi lain untuk pemasaran Eatlah, yakni menjual dengan harga promo Rp1 melalui platform online pengiriman makanan seperti Go-Food. Apabila melihat dari respon pasar, strategi ini dinilai cukup berhasil. Untuk rata-rata order, Charina mengungkapkan jumlahnya beragam.

Pada awal mendirikan outlet, Charina mengungkapkan, Eatlah lebih banyak menggunakan gedung ruko untuk gerai barunya. Adapun order yang didapatkan mayoritas berasal dari ojek online atau delivery online yakni sebesar 80%-90%. Kini, Eatlah bertekad melebarkan ekspansi di pusat perbelanjaan (mal) di area Jabodetabek yang mayoritas atau sekitar 80% konsumennya memilih makan di tempat atau dine in.

“Untuk keseluruhan, order per hari 300 box-400 box untuk rata-rata outlet dengan harga berkisar dari Rp35.000 sampai Rp135.000,” ujarnya.

Pendiri brand kuliner Eatlah

Charina menjelaskan dari awal pihaknya tidak berharap Eatlah menjadi makanan kekinian yang umurnya sebentar atau hanya selama tren berlangsung. Karena itu, dalam membentuk brand image Eatlah, Charina mengatakan pihaknya cenderung memasarkan secara monoton.

“Ini strategi yang kami adopsi dari pertama. Pada saat kami memasarkan Eatlah, kami masakan simpel, makanan yang mudah, efisien, murah, mengenyangkan dan enak untuk dimakan, bukan kami ingin mengikuti tren salted egg,” jelasnya.

JAGA KUALITAS RASA

Lebih lanjut Charina menuturkan ketika awal mendirikan Eatlah pihaknya menghadapi tantangan untuk mengenalkan kuliner baru asal Singapura di Indonesia. Pendiri Eatlah, Charina bersama dua rekannya Riesky Vernandes, dan Michael Chrisyanto melakukan riset dan pengembangan sekitar delapan bulan sebelum Eatlah didirikan pada 2016.

Salah satunya dengan membagikan ratusan contoh makanan atau tester di lingkungan terdekatnya hingga menemukan formula yang pas. “Kami mencoba trial dan error makanan ini mungkin sampai menemukan rasa yang benar-benar tepat,” ujarnya.

Kini ketika sudah memiliki 22 outlet, Charina mengakui tantangan Eatlah adalah bagaimana menjaga standar rasanya sama di semua outlet. Saat ini, Eatlah belum memiliki rencana untuk skema waralaba, pertimbangannya untuk menjaga kualitas rasa Eatlah.

“Untuk kami rasa tetap nomor satu, yang membawa Eatlah ke sini sekarang, jadi kami tetap ingin menjaga kualitas ini dengan manajemen sistem kami sendiri,” ujarnya.  Charina menegaskan bahwa memulai itu  mudah, tetapi yang tidak mudah adalah menjaganya, karena kita harus tahu cara mengelola dan jangan mudah menyerah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
eatlah

Editor : Siti Munawaroh

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top