Austin Geidt, Mantan Pecandu Narkoba yang Jadi Senjata Rahasia Uber

Austin Geidt menjadi salah satu sosok paling disoroti dalam debut Uber di bursa saham New York, setelah membunyikan bel tanda dibukanya perdagangan perusahaan transportasi daring ini pekan lalu.
Renat Sofie Andriani | 13 Mei 2019 10:03 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Austin Geidt menjadi salah satu sosok paling disoroti dalam debut Uber di bursa saham New York, setelah membunyikan bel tanda dibukanya perdagangan perusahaan transportasi daring ini pekan lalu.

Sederet pejabat top seperti CEO Dara Khosrowshahi dan pendiri Uber Travis Kalanick hadir dalam listing perdana Uber pada Jumat (10/5/2019) itu. Tapi bukan Khosrowshahi ataupun Kalanick, Geidt-lah yang mendapatkan kehormatan untuk membunyikan bel pembukaan.

Kehormatan untuk Geidt tak asal diberikan tanpa pertimbangan. Ia bukan sembarang sosok bagi Uber. Wanita berambut pirang panjang ini sudah lama dipandang sebagai senjata rahasia Uber yang tak banyak orang tahu.

Ia adalah karyawan keempat Uber yang saat ini bertindak sebagai Head of Strategy untuk Advanced Technologies Group di Uber. Geidt bergabung dengan Uber pada 2010 sebagai pekerja magang dan sejak itu telah memegang berbagai peran bersama perusahaan.

Di balik sosoknya yang cemerlang tersimpan pengalaman wajah seorang pecandu obat-obatan terlarang. Namun ini tak ditutupinya.

Ia blak-blakan mengisahkan perjuangannya mengatasi kecanduan pada obat-obatan. Geidt bahkan memberi kredit atas kesuksesannya di startup berjam terbang tinggi ini pada segala keterampilan yang dia pelajari saat menjalani rehabilitasi.

“Saya memiliki kecanduan pada narkoba. [Tapi] Saya sudah 10 tahun berhenti menggunakannya. Pada masa itu saya berada di tempat yang benar-benar gelap,” ungkap Geidt pada tahun 2015, seperti dikutip Business Insider.

“Saat itu adalah momen yang menyedihkan bersama keluarga saya. Saya tidak suka siapa saya, secara fisik, spiritual, ataupun emosional saya benar-benar sakit,” kisahnya.

Geidt memang kemudian menjalani rehabilitasi, tetapi butuh beberapa tahun baginya untuk pulih. Dia sampai harus meninggalkan sekolah pada waktu itu. Namun ia berhasil kembali ke bangku kuliahnya, sembuh, dan lulus di usia 25 tahun.

Dalam sebuah presentasi, dia mengatakan bahwa masa-masa menjalani rehabilitasi telah mengajarinya untuk menjadi jujur dan terbuka.

“Pengalaman itu juga membantu mengubah rasa kewalahan menjadi langkah-langkah kecil yang dapat dikelola. Saya pun lebih memiliki rasa rendah hati daripada memikirkan kepentingan sendiri,” lanjutnya.

Perjalanannya menuju Wall Street tidak mudah atau dapat diprediksi. Setelah lulus dari University of California di Berkeley pada 2010, Geidt harus terlebih dahulu bergulat dengan kondisi lapangan pekerjaan pascaresesi 2008 di Amerika Serikat.

Di tengah masa-masa yang penuh ketidakpastian, ia mencoba peruntungannya dengan menuliskan surat lamaran untuk lowongan magang dari sebuah startup bernama Uber.

Padahal kalau dipikir-pikir, isi resume yang disampaikannya kepada Uber saat itu relatif kosong. Gadis ini sangat minim pengalaman untuk ditonjolkan karena sulitnya mendapatkan pekerjaan.

Tapi Geidt cuek mengirimkan sebuah surel kepada Ryan Graves, CEO Uber pada saat itu, dan terang-terangan meminta pekerjaan. Kali ini Dewi Fortuna memihak pada Geidt. Graves menyambut antusiasme Geidt dan memintanya untuk membuat presentasi tentang dirinya sendiri.

Rasa humor yang cerdas dalam presentasi Geidt dinilai mengesankan. Graves bersedia memberi posisi magang yang diincarnya. Setelah jungkir balik di bursa kerja, Geidt sadar harus mengambil risiko dengan Uber.

Geidt bergabung dengan Uber sebagai karyawan keempat dan karyawan magang pertama pada 2010. Seperti halnya masa-masa awal pendirian banyak perusahaan, peran Geidt di startup itu tidak didefinisikan secara jelas.

Ia hampir-hampir melakukan segala sesuatu mulai dari membagikan selebaran, menghubungi calon pengemudi, hingga mengembangkan strategi bersama pemimpin perusahaan. Seiring dengan tumbuhnya perusahaan, peran Geidt pun terus berubah mengikuti kebutuhan.

“Saya mencatat semua yang saya lakukan. Ada begitu banyak trial dan error. Setiap hari kami akan menemukan masalah baru,” kenangnya, seperti dikutip Marie Claire.

Dalam lima tahun, Uber berhasil mendominasi dunia startup di Silicon Valley. Pada 2015, valuasi perusahaan ini bernilai US50 miliar dan telah menggaet banyak investor papan atas.

Bagian dari peran utama Geidt yang terus berkembang adalah mengawasi ekspansi Uber ke pasar internasional. Ketika perusahaan tumbuh, begitu pula peran Geidt. Pada 2015, ia menjalankan tim yang memperluas Uber ke pasar internasional baru, seperti Australia.

Ia kemudian dipercaya menjadi otak strategi terdepan Advanced Technologies Group di Uber sejak 2016, untuk mengawasi sebagian besar langkah perusahaan dalam mobil kemudi otomotis (self-driving cars).

Geidt notabene bertugas mengawasi operasi dan pengembangan unit ini di Uber. Ia mencari tahu peta jalan strategis yang akan membawa kendaraan berteknologi tinggi ini bergerak secara nasional.

Segala pencapaiannya di perusahaan telah mendorongnya menjadi salah satu wanita paling berpengaruh di Silicon Valley. Namanya didaulat masuk dalam Fortune's Most Powerful Women pada 2015.

Geidt tetap menjadi kekuatan yang konstan bagi Uber ketika perusahaan ini mengalami pasang surut, termasuk diracuni berbagai skandal, dan perubahan kepemimpinan mulai dari Graves, Kalanick, hingga Khosrowshahi.

Kemampuannya untuk dapat mengubah peran dan menambah nilai menjadi manfaat besar bagi masa depan perusahaan.

“Ini merupakan pengalaman belajar yang menarik bagi saya, bisa melakukan apa saja dan melakukan yang terbaik untuk mengetahuinya,” ujar wanita pencinta anjing ini.

Meski sebagian besar waktunya dipersembahkan untuk Uber, ada lebih banyak hal lebih berarti dalam kehidupannya.

“Saya sangat bangga dengan kerja tim saya di Uber maupun apa yang telah saya kerjakan di Uber. Tapi itu bukan hal paling membanggakan yang pernah saya lakukan. Saya lebih bangga sembuh dari kecanduan saya pada obat-obatan,” tutur Geidt.

“Ketika saya sembuh, saya menjadi sadar akan apa yang memotivasi orang-orang dan bagaimana mereka bekerja. Ini adalah hal paling penting yang pernah saya lakukan.”

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
taksi uber

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup