Peluang Usaha Aksesori Kulit Buaya, Inspirasi dari Merauke

Di Indonesia, rasanya harus menyebut Papua sebagai pulau dengan industri kerajinan dari kulit buaya yang ramai. Kota Merauke dan sekitarnya adalah salah satu sentra perajin kulit dari hewan reptil pemangsa daging ini.
Dewi Aminatuz Zuhriyah
Dewi Aminatuz Zuhriyah - Bisnis.com 30 Mei 2019  |  08:00 WIB
Peluang Usaha Aksesori Kulit Buaya, Inspirasi dari Merauke
Hasil kreasi dari kulit buaya - repro instagram @noergoods

Bisnis.com, JAKARTA – Kerajinan kulit buaya sudah lama digunakan di industri fesyen dunia. Keunggulan kulitnya yang lebih keras dan kuat menjadikan material kulit buaya banyak dicari untuk dijadikan beragam benda seperti tas, ikat pinggang, sepatu, atau dompet.

Di Indonesia, rasanya harus menyebut Papua sebagai pulau dengan industri kerajinan dari kulit buaya yang ramai. Kota Merauke dan sekitarnya adalah salah satu sentra perajin kulit dari hewan reptil pemangsa daging ini.

Setidaknya, ada dua jenis buaya yang kulitnya bisa digunakan sebagai material untuk benda kerajinan yaitu buaya air tawar dan buaya muara (air asin). Perbedaan di antara keduanya yakni buaya air tawar, motifnya kurang menonjol dan ukurannya lebih pendek.

Sementara itu, buaya muara kulitnya punya struktur unik dan tegas. Jika diaplikasikan sebagai bahan dasar pembuatan tas maupun sepatu, hasilnya akan bagus. Jika dibandingkan dengan jenis kulit binatang lain, misalnya dengan kulit sapi atau ular, produk kulit buaya memiliki keunikan.

Tekstur kulit buaya tampak timbul yang membuatnya terkesan gagah, mewah, dan eksotis. Terlebih lagi, setiap produk pun bisa berbeda tekstur. Produk yang terbuat dari kulit bagian badan cenderung tak terlalu kasar dan timbul. Sementara itu, produk yang dibuat dari kulit bagian punggung lebih kasar, keras, dan coraknya terbentuk simetris secara alami.

Di samping itu, produk dengan kulit buaya juga cenderung lebih awet dibandingkan kulit binatang lainnya. Biasanya, tas, sepatu hingga dompet dari kulit reptil dua alam itu bisa awet hingga bertahun-tahun. Hanya saja, jika bicara soal kekurangan, produk kulit buaya memang jauh lebih mahal dibandingkan kulit hewan lainnya.

Menuai Berkah dari Media Sosial

Muhammad Nur mendirikan Noergoods, usaha kerajinan kulit buaya, pada 2011 silam. Bisnis itu terinspirasi saat dia mengikuti kakaknya ketika merantau ke Merauke. Kala itu, dia sempat bekerja sebagai penjahit borongan.

Satu tahun berada di Merauke, Nur melihat banyak potensi yang bisa dimanfaatkan, salah satunya potensi kulit buaya yang bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Melihat peluang tersebut, dia pun bertekad untuk banting setir dan mendirikan usahanya sendiri.

“Awalnya ikut orang, kerja jahit borongan. Setelah setahun, mulai bikin [usaha] sendiri,” katanya.

Bermodalkan Rp10 juta sampai Rp12 juta, Nur kemudian mencoba mengubah kulit buaya menjadi barang dengan nilai jual, mulai dari dompet, tas, hingga sepatu.

Untuk mendapatkan bahan bakunya, Nur mengaku mendapatkan dari warga setempat, meskipun jumlahnya tidak menentu setiap bulan. “Untuk bahan kulit buayanya enggak pasti, soalnya setiap bulan enggak menenentu dapat berapa lembar.”

Melalui kakaknya, dia kemudian memasarkan produknya dari satu toko ke toko lainnya yang ada di Merauke. Seiring perkembangan industri digital, Nur pun kemudian menjual produknya melalui media sosial dan toko online. Pelanggannya makin banyak.

Baginya, semenjak banting setir mendirikan usaha kerajinan kulit buaya, setiap bulan dia mengeruk omzet sekitar Rp50 juta sampai Rp70 juta. Tingginya omzet yang diterima ini karena setiap produk dibanderol mulai dari Rp300.000 hingga Rp3 juta-an tergantung jenis barang, ukuran dan bahan yang dipakai.

Untuk dompet pria, dia membanderol harga mulai dari Rp300.000 sampai Rp500.000, sedangkan dompet wanita seharga Rp450.000–Rp900.000 per produk. Adapun, untuk tas harganya cukup bervariasi dengan harga paling murah senilai Rp2 juta, dan sepatu dijual senilai kurang lebih Rp3 juta-an.

Meskipun peluang kerajinan kulit buaya cukup menggiurkan, tetapi dia tak menampik adanya kesulitan saat memproduksi barang tersebut karena perlu izin khusus daerah bagi perajin kulit buaya.

“Buaya yang boleh diambil itu umur dan jumlahnya dibatasi. Sebetulnya kalau dilarang itu agak susah, karena orang suku masih berburu buaya, dagingnya dimakan,” katanya.

Nur menceritakan, selama dia mendirikan usahanya, produknya sudah cukup dikenal di Indonesia. Sebagian besar pelanggan berasal dari kota besar seperti Surabaya dan Jakarta, sedangkan pelanggan dari luar negeri berasal dari Malaysia dan Taiwan.

Dia menambahkan, merawat produk dari kulit buaya tidak merepotkan. Pelanggan hanya perlu menyimpan barangnya di tempat yang tidak panas atau lembab. Selain itu, jika ingin menyimpan produk ini di lemari, harus diberi silica gel agar tidak berjamur. “Ada juga cairan khusus buat dioleskan pada permukaan kulit.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
peluang usaha, buaya

Sumber : Tulisan ini pernah dimuat di Bisnis Indonesia Weekend edisi 5 Mei 2019

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top