Arunachalam 'Pad Man' Muruganantham, Pria di Balik Revolusi Higienitas Perempuan di India

“Hal yang paling sulit adalah mengubah pola pikir orang. Tidak ada manusia yang mati karena kemiskinan. Semuanya karena ketidaktahuan. Untuk mematahkan tabu dan membuat gadis dan wanita menggunakan pembalut adalah tugas yang sulit.”
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 20 Juni 2019  |  11:57 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – “Hal yang paling sulit adalah mengubah pola pikir orang. Tidak ada manusia yang mati karena kemiskinan. Semuanya karena ketidaktahuan. Untuk mematahkan tabu dan membuat gadis dan wanita menggunakan pembalut adalah tugas yang sulit.”

Itu adalah ungkapan dari Arunachalam Muruganantham, pria yang dijuluki Pad Man dari India. Pad yang berarti pembalut tersebut diberikan kepadan Arunchalam karena jasanya pada kehidupan para wanita di India.

Jadi pengusaha terinspirasi dari istri

Arunachalam adalah seorang pengusaha asal India yang mengubah cara India memandang menstruasi. Kisahnya ini bahkan sampai dituangkan dalam film berjudul Pad Man pada tahun 2018 dan mendapatkan banyak sekali respons positif sekaligus menjadi salah satu film paling laris di India.

Usahanya ini berawal dari tahun 1998, di saat ia baru menikah dengan seorang wanita bernama Shanthi. Di India, dilema para wanita pada saat itu bukan sekadar pilihan antara pembalut bersayap atau non-sayap. Karena harga pembalut yang mahal, mereka menggunakan alternatif yang tidak higienis seperti kapas, abu atau kain lap.

"Idenya berasal dari istri saya. Di desa kami, perempuan tidak mampu membeli pembalut karena harganya mahal dan tidak terjangkau oleh keluarga miskin. Saya bertanya kepada istri saya dan ia mengatakan jika membeli pembalut dia harus mengurangi separuh dari anggaran susu kami," katanya dalam, seperti dikutip dari successstory.com.

Bahan baku untuk membuat pembalut di India hanya 0,1 rupee, namun produk akhirnya bisa dijual 40 kali lipat dari harga itu. Karena mahalnya harga pembalut, wanita di daerah pedesaan di India pun lebih memilih menggunakan kain kotor selama masa menstruasi mereka. 

Ketika Arunachalam menyelidiki lebih jauh, ia menemukan bahwa hampir tidak ada perempuan di desa-desa sekitarnya yang menggunakan pembalut. Temuannya digemakan oleh survei 2011 oleh AC Nielsen, yang menemukan bahwa hanya 12 persen wanita di India menggunakan pembalut wanita.

Arunachalam mengatakan bahwa di daerah pedesaan, penerimaannya jauh lebih sedikit dari itu. Dia terkejut mengetahui bahwa wanita tidak hanya menggunakan kain kotor, bahkan zat tidak higienis lainnya seperti pasir, serbuk gergaji, daun dan bahkan abu.

Wanita yang menggunakan kain seringkali terlalu malu untuk mengeringkannya di bawah sinar matahari, yang berarti kain tersebut tidak terdisinfeksi dengan baik. Sekitar 70 persen dari semua penyakit reproduksi di India disebabkan oleh kebersihan menstruasi yang buruk.

Arunachalam pun memutuskan untuk membuatnya produk pembalut sendiri. Awalnya, dia meminta istri dan saudara perempuannya untuk menjadi sukarelawan dan mencoba produknya, tetapi mereka menolak. Dia bahkan sempat mencoba memakai pembalut sendiri untuk merasakan bagaimana tidak enaknya menjadi wanita yang mengalami menstruasi.

Awal mula distribusi usaha

Kemudian, Arunachalam juga mendistribusikan produknya secara kepada mahasiswa wanita di sebuah perguruan tinggi kedokteran. “Ciptaan ini adalah bagian dari perjalanan pribadi saya untuk para wanita di keluarga dan komunitas saya untuk memberi mereka kehidupan yang higienis dan sehat selama periode menstruasi,” ungkapnya. Saya melakukannya untuk istri saya dan para wanita di lingkungan kami,” ungkapnya.

Upaya Arunachalam ini awalnya justru menjadi bahan ejekan ketika pembalut wanita ditemukan di desanya. Dia dikucilkan oleh warga dan keluarganya. Namun, dia tidak menyerah dan terus bereksperimen dan memperbaiki produknya.

Dua tahun setelahnya, dia berjuang untuk memahami rahasia bahan pembalut wanita. Tak hanya menemukan bagaimana serat selulosa membantu bantalan pembalut untuk menyerap dan mempertahankan bentuk, ia juga merancang mesin berbiaya rendah.

Bisnis bermodal US$1.000

Mesin sederhana ini dapat dioperasikan oleh siapa saja, dengan pelatihan minimal. Ciptaan inovatifnya dibangun hanya dengan biaya sekitar 65.000 rupee. Jika dibandingkan dengan dengan mesin asing yang harganya dapat mencapai US$540.000, mesin Arunachalam ini hanya seharga US$1.000.

Arunchalam menggunakan bahan baku dari pulp kayu pinus olahan dari pemasok di Mumbai. Mesin tersebut menggiling, mendefibrat, memadatkan, dan mensterilkan bantalan pembalut di bawah sinar ultraviolet, sebelum dikemas untuk dijual.

Penemuannya ini secara luas dipuji sebagai langkah utama dalam mengubah kehidupan wanita di India. Mesin-mesinnya menciptakan lapangan kerja dan penghasilan bagi banyak wanita di pedesaan India.

Pembalut yang terjangkau juga membuat banyak perempuan desa masih dapat mencari nafkah selama menstruasi. Inovasinya telah menginspirasi banyak penduduk di kampung halamannya, Coimbatore.

Pada tahun 2006, Arunachalam Murugananthan mengunjungi IIT Madras dan mendemonstrasikan idenya. IIT Madras mendaftarkan penemuannya untuk Penghargaan Inovasi Teknologi Akar Rumput dari Yayasan Inovasi Nasional India. Gagasan Arunachalam tersebut memenangkan penghargaan.

Dia kemudian mendirikan 'Jayaashree Industries' setelah mendapatkan dana awal. Mesin buatan Arunachalam dipuji oleh para pakar industri karena kesederhanaannya dan efektifitas biayanya. Prestasi luar biasanya untuk membantu tujuan sosial telah menghasilkan banyak penghargaan bagi Arunachalam.

Kesuksesan mesin inovatif Arunachalam telah menarik banyak Perusahaan Perusahaan besar untuk mengkomersialkan usahanya. Namun, pria yang rendah hati itu menolaknya. Dia justru perempuan pedesaan dengan menyediakan mesinnya untuk SHGs - Kelompok Swadaya yang dijalankan oleh perempuan.

“Produk saya ditargetkan untuk wanita pedesaan. Saya tidak punya rencana untuk menghasilkan uang untuk diri saya sendiri. Yang ingin saya lakukan adalah memberdayakan perempuan pedesaan di negara kita. Saya akan terus bekerja dengan SHGs, untuk menyediakan pembalut wanita murah di daerah terpencil dan desa," ungkapnya.

Ia mengakui masih ada jalan panjang agar menstruasi yang higienis dapat diakses dan terjangkau bagi semua orang. Jayaashree Industries di Coimbatore menyediakan pembalut wanita dan menyediakan teknologi untuk produk-produk kebersihan murah ke beberapa negara.

Organisasi Arunachalam ini dijalankan sebagai organisasi nirlaba dan bermitra dengan SHGs. Saat ini, mesinnya, yang dapat memproduksi pembalut dengan harga kurang dari sepertiga dari biaya pembalut komersial, telah terdapat di 23 dari 29 Negara Bagian India. Arunachalam saat ini berencana untuk memperluas produksi mesin-mesin ini ke 106 negara.

Menjadi 100 orang paling berpengaruh versi majalah Time 2014

Inovasi Arunachalam ini telah membantu lebih dari 300 juta wanita, sehingga ia masuk ke dalam 100 orang paling berpengaruh versi majalah Time pada tahun 2014.  Pada tahun 2016, Arunachalam Muruganantham dianugerahi dengan Padma Shri oleh Pemerintah India. Dia dipuji sebagai inovator revolusioner.

Dia pasti tidak pernah membayangkan selama perjuangan dan pencarian awalnya, bahwa suatu hari, dia akan memberikan kuliah kepada generasi muda yang berpendidikan tinggi di IIT Bombay, IIM Ahmedabad, IIM Bangalore, Universitas Harvard, dan TED Talk.

Perjalanan Arinachalam diangkat menjadi film dokumenter oleh Amit Virmani berjudul “Menstrual Man” pada tahun 2014 dan berhasil memenangkan penghargaan. Pada 2017, Abhishek Saxena menyutradarai 'Phullu', yang didasarkan pada pencarian Arunachalam.

Pada Februari tahun 2018, kisah Arunachalam kembali diangkat ke dalam film berjudul ‘Pad Man’.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tokoh bisnis

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top