James Dyson, Penemu Terobosan Mesin Penyedot Debu

James Dyson adalah seorang pengusaha asal Inggris yang terkenal dengan penemuan alat penyedot debu tanpa kantong, Dual Cyclone. Selain itu, Dyson juga menciptakan sejumlah inovasi peralatan lain yang sangat berguna.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 15 Juli 2019  |  10:08 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - James Dyson adalah seorang pengusaha asal Inggris yang terkenal dengan penemuan alat penyedot debu tanpa kantong, Dual Cyclone. Selain itu, Dyson juga menciptakan sejumlah inovasi peralatan lain yang sangat berguna.

Dyson lahir pada 2 Mei 1947 di Cromer, Norfolk, Inggris, dari orang tua Alec Dyson dan Mary, sebagai salah satu dari tiga bersaudara. Namun, ayahnya meninggal karena kanker ketika James berusia sembilan tahun. Tragedi ini sangat memengaruhi dirinya karena kehilangan figur ayah untuk membimbingnya.


Dari tahun 1956 hingga 1965, dia bersekolah di Gresham's School, sebuah sekolah asrama di Holt, Norfolk. Setelah lulus, ia melanjutkan ke Sekolah Seni Byam Shaw dan mengikuti melakukan kursus desain interior dan desain furnitur dari Royal College of Art dari tahun 1966 hingga 1970.

Setelah lulus pada tahun 1970, ia bekerja di Rotork Controls Ltd., di Bath, Somerset. Di sini ia beruntung karena memiliki bos yang tidak visioner, Jeremy Fry, yang mendorong talenta muda dan memotivasi mereka untuk menjadi inovatif.

Atasannya menempatkan Dyson bertanggung jawab merancang kapal pendarat berkecepatan tinggi terlepas Dyson tidak memiliki pengalaman sebelumnya dalam merancang suatu produk. Saat bekerja bersama dengan atasannya, ia mendesain sebuah perahu berkecepatan tinggi bernama Rotork Sea Truck yang mirip dengan kapal pendarat kecil.

Pada 1974, ia menemukan penemuan pertamanya yang diberi nama Ballbarrow, yang merupakan variasi dari desain kereta dorong dengan roda yang menyerupai bola, yang berfungsi meningkatkan kemampuan manuver dibandingkan dengan desain konvensional.

Pada akhir 1970-an, ia menghadapi masalah dengan penyedot debu Hoover Junior dan merasa bahwa sistem "kantung" menghalangi kinerja penyedot alat tersebut. Jadi dia mulai bekerja mendesain penyedot debu tanpa kantong yang lebih efisien.

Setelah lima tahun membuat beberapa prototipe, ia akhirnya meluncurkan penyedot debut 'G-Force' pada tahun 1983. Namun, ia kecewa karena tidak ada produsen atau distributor yang tertarik dengan idenya tersebut. Karenanya, ia memutuskan untuk meluncurkan produknya di Jepang.

G-force diproduksi dalam warna pink dan dijual seharga 2000 poundsterling. Produknya tersebut memenangkan International Design Fair di Jepang. Dyson kemudian mendapatkan paten untuk teknologi ini pada tahun 1986.

Setelah tidak mendapatkan respons positif dari produsen besar, ia memutuskan untuk mendirikan perusahaan produksi sendiri di Inggris. Dia mendapatkan terobosan pertamanya dari iklan di televise dengan "selamat tinggal pada kantung" yang menarik pelanggan lebih dari kualitas penyedotan produk itu sendiri.

Dyson sangat senang selama produknya mendapatkan popularitas. Produk Dual Cyclone ternyata mencatat penjualan tercepat di Inggris. Ketika ia meluncurkan produknya di Amerika Serikat pada tahun 2002, Dyson mendapatkan kesuksesan instan dan hanya dalam waktu tiga tahun berhasil meraih 20 persen pangsa pasar.

Setelah kesuksesan Dyson, perusahaan lain mulai menjual penyedot debu dengan teknologi yang sama. Karena Dyson memiliki paten untuk teknologi itu, dia menggugat Hoover UK atas pelanggaran paten dan meraih 5 juta pound dari gugatan tersebut.

Dyson mengembangkan penyedot debu dengan menciptakan teknologi baru seperti konsep Ballbarrow dalam Dyson Ball yang menjadikan penyedot debu lebih dapat bergerak bebas. Pada tahun 2006 ia meluncurkan Dyson Airblade, produk pengering tangan untuk kamar mandi umum.

Pada tahun 2009 Dyson mempresentasikan teknologi ‘Air Multiplier’ yang merupakan inovasi nyata pertama dalam teknologi kipas dalam lebih dari 125 tahun terakhir. Dia terus berinovasi membuat lebih banyak produk seperti mesin cuci 'ContraRotator', namun ini tidak berhasil secara komersial.

Dyson menerima penghargaan ‘Prince Phillip Designers Prize’ pada tahun 1997. Ia juga dianugerahi Penghargaan Lord Lloyd dari Kilgerran pada tahun 2000. Pada tahun yang sama, Universitas Bath memberikan Dyson gelar doktor kehormatan dalam bidang Teknik.

Dia terpilih sebagai Fellow dari Royal Academy of Engineering pada tahun 2005 dan diangkat sebagai Sarjana Ksatria di Tahun Baru 2007.

Di awal tahun 2019, Dyson ini menjadi orang terkaya di Inggris setelah perusahaannya membukukan rekor laba di tahun 2018.

Dilansir Bloomberg, laba Dyson Ltd. mencapai 1,1 miliar pound (Rp20 triliun) di tahun 2018, naik dari 801 juta pound pada tahun 2017. Lonjakan ini didorong oleh permintaan untuk produk rambut baru

Dengan laba di tahun 2018, kekayaannya bertambah sekitar US$3,4 miliar menjadi US$13,8 miliar menurut Bloomberg Billionaires Index, yang melacak peringkat 500 orang terkaya di dunia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tokoh bisnis

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top