Mengarungi Musibah?

Orang-orang yang matang, dan pandai bersikap dengan pikiran yang sabar, ikhlas dan bersyukur (SIS) yang pada ujungnya akan mendapatkan kebahagiaan (pikiran nyaman, tenteram dan damai atau NTD); orang-orang ini manakala mendapatkan berkah berupa kesenangan dan kenikmatan dunia, tetap 'eling lan waspodo' (ingat dan waspada).
Pongki Pamungkas*
Pongki Pamungkas* - Bisnis.com 25 Desember 2019  |  18:33 WIB
Mengarungi Musibah?
Pongki Pamungkas - Jibi

"Tak ada musibah yang tak dapat berubah menjadi berkah dan tak ada berkah yang tak dapat menjadi musibah" (Richard Bach).

Bencana alam adalah kata-kata yang paling sering dikaitkan dengan kata musibah. Padahal banyak bermacam-macam kesusahan dan kesedihan yang membuat orang yang mengalaminya juga layak disebut sebagai terkena musibah.

Mulai dari kecelakaan berkendara, kecopetan, rumah dirampok, ditinggalkan kekasih tercinta, kebakaran rumah, dimarahi atasan hingga bahkan dipecat, dan banyak lagi hal-hal yang disebut sebagai musibah.

Sesuai prinsip dasar kehidupan yang berpasangan-pasangan, di sisi lain dari musibah adalah berkah. Dalam artian ini, berkah adalah suatu karunia berupa kenikmatan atau kesenangan hidup yang membuat kita merasa senang, nyaman dan hati berbunga-bunga.

Orang-orang yang matang, dan pandai bersikap dengan pikiran yang sabar, ikhlas dan bersyukur (SIS) yang pada ujungnya akan mendapatkan kebahagiaan (pikiran nyaman, tenteram dan damai atau NTD); orang-orang ini manakala mendapatkan berkah berupa kesenangan dan kenikmatan dunia, tetap 'eling lan waspodo' (ingat dan waspada).

Mereka tidak akan terhanyut dalam derasnya arus kesenangan yang berkelanjutan. Mereka tetap sadar, bahwa segala sesuatu yang berlebihan, yang melampaui batas, bukanlah hal baik. Mereka tetap waras.

Orang-orang ini mempraktikkan prinsip yang diucapkan John D. Rockefeller, "Saya selalu mencoba membalikkan setiap musibah menjadi suatu peluang".

Sementara bagi orang-orang yang belum terlatih ber SIS (sabar, ikhlas dan syukur), bila diterpa musibah, akan larut dalam kesedihan yang berkepanjangan, membara dalam kemarahan dan dendam, berpusing dalam kegalauan. Makan tak enak, tidur tak nyenyak.

Padahal, "Setiap musibah adalah suatu proses pembelajaran", kata Julia Child. Atau secara lebih jelas, "Musibah pada umumnya adalah waktu yang tepat untuk mengkaji ulang apa-apa yang telah kita lakukan sejauh ini, kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat, dan perbaikan-perbaikan yang perlu kita lakukan di masa mendatang", kata Dan Ariely.

Kita anggap segala hal yang kurang nyaman bagi kita sebagai musibah adalah suatu pola pikir yang menyesatkan dan menyusahkan diri sendiri. Segala sesuatu yang 'remeh-temeh', misalnya, sekadar ada canda yang rada menyinggung Anda, lalu anda memandangnya sebagai musibah, adalah pilihan sikap yang menyusahkan.

Benar kalimat ini, "Musibah besar adalah simbol bagi kita untuk mengingatkan terhadap hal-hal besar dalam kehidupan kita, dan melupakan hal-hal kecil, dimana kita terlalu sering memikirkannya", kata Jawaharlal Nehru.

Lebih parah lagi, bila kita selalu was-was, mengkhawatirkan akan adanya musibah. Akibatnya malah akan membuat lebih susah. Demikianlah benar pula nasihat ini, "Bila Anda mengkhawatirkan musibah setiap saat, itulah yang akan Anda alami", kata Chuck Palahniuk.

Akhirul kalam, "Setiap keberhasilan Anda bertahan mengarungi musibah adalah peningkatan kekuatan karakter, reputasi dan kehidupan Anda".

*Penulis buku-buku "Life and Management Wisdom Series" :
The Answer Is Love
All You Need Is Love
To Love and To be Loved
Love of My Love

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kiat manajemen

Editor : Fajar Sidik
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top