Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Entrepreneurship, Tatkala Kulit Kaki Ayam Naik Kelas

Dengan bahan kulit kaki ayam maka setiap sepatu adalah istimewa karena besaran kulit yang disambung berbeda sehingga menghasilkan motif unik.
Anggara Pernando
Anggara Pernando - Bisnis.com 31 Desember 2019  |  22:22 WIB
Pekerja di bengkel kerja Hirka, Bandung membuat sepatu dari kulit kaki ayam pada Senin (30/12/2019) - Bisnis/Anggara Pernando
Pekerja di bengkel kerja Hirka, Bandung membuat sepatu dari kulit kaki ayam pada Senin (30/12/2019) - Bisnis/Anggara Pernando

Bisnis.com, JAKARTA — Kulit bergulung dari kaki ayam menumpuk dalam dua tampah bambu di depan Arman. Tangan pekerja paruh baya itu lincah menyortir bahan hasil penyamakan satu per satu. Jarinya menarik kulit bersisik warna putih kecoklatan itu melebar.

Arman, karyawan pada Hirka Chicken Feet Leather itu kemudian menyusun kulit kaki ayam itu ke sisi penjahitan. Di atas bahan penyambung, kulit kaki ayam disusun berdasarkan pola yang disiapkan. Digabungkan satu persatu menjadi sepatu kulit kekinian. Di lantai 3 rumah di kawasan Moch Toha, Bandung itu, proses produksi berlangsung.

Nurman Farieka Ramdhany, pemilik Hirka Shoes, menuturkan kulit kaki ayam dipilih karena memiliki pola kristal seperti sisik ular. Bahan ini juga mudah didapat dan tersedia dalam jumlah tidak terbatas. Bahkan para pengepul, pedagang sayur hingga rumah pemotongan hewan dengan senang hati mengantarkan kaki ayam ke bengkel kerja untuk kemudian dibayar dengan harga yang wajar.

 “Setiap hari  kami mengolah 20 kilogram kaki ayam untuk diambil kulitnya,” kata Nurman ketika ditemui di bengkel kerja Hirka, Senin (30/12/2019).

Setiap kilogram kaki ayam dihasilkan 26 lembar sampai 28 lembar kulit. Sedangkan setiap sepatu membutuhkan 20 lembar hingga 80 lembar kulit kaki ayam. Tergantung dengan desain yang diinginkan pembeli.

“Dengan bahan kulit kaki ayam maka setiap sepatu kami adalah istimewa karena besaran kulit yang disambung berbeda sehingga menjadikan motif berbeda,” kata Nurman.

Ide pembuatan sepatu kulit berbahan ceker ayam, punya banyak pertimbangan. Nurman meyakini, sepatu dari kulit kaki ayam  merupakan salah satu solusi pemberantasan penggunaan kulit ilegal dari ular dan buaya liar yang diburu. Selain itu, pemanfaatan kulit kaki ayam untuk sepatu juga menjadi berkah bagi tetangga yang memerlukan ataupun pedagang makanan berbahan ceker ayam di sekitar kediamannya. Nurman membagikan ceker ayam tanpa kulit gratis bagi mereka.

 “Saya ingin penggunaan kulit kaki ayam dalam industri kerajinan meluas sehingga bisa menciptakan ekosistem [kerajinan bahan baku kulit kaki ayam]” kata Nurman yang baru saja menerima anugerah Satu Indonesia Award 2019.

Usaha pembuatan sepatu kulit kaki ayan itu sudah dirintis semenjak 2015. Dua tahun lebih digunakan untuk riset pengolahan kulit hingga menyerap selera pasar. Sebelumnya ia hanya fokus mengembangkan sepatu kanvas.

Nurman menyebutkan pengolahan kulit kaki ayam dengan disamak relatif tidak berbeda dengan bahan kulit lainnya. Ia juga sangat terbuka jika ada pengusaha muda yang datang ke bengkel kerjanya untuk belajar. Meski telah mengenalkan ke pasar produk unik ini ke pasar semenjak 2017, hingga saat ini Hirka belum memiliki pesaing.

Padahal, kata Nurman produk ini memiliki permintaan yang besar. Sejumlah pelanggan dari mancanegara memesan dalam jumlah besar. Meski begitu dengan kapasitas bengkel kerja yang ada saat ini maka pesanan itu harus ditolaknya.

 “Kapasitas kami per bulan maksimal 40 pasang sepatu. Padahal permintaannya besar, terakhir ada permintaan 500 pasang dari negara Arab tapi harus ditolak” katanya.

Dengan kondisi keterbatasan bengkel ini, Nurman menyebutkan pihaknya tengah menyusun rencana kerja kolaborasi pada 2020 mendatang. Targetnya kapasitas produksi akan meningkat menjadi 500 pasang setiap bulannya. Sejumlah desain dengan cerita nusantara juga akan disematkan dalam desain sepatu khusus pria pada tahun-tahun mendatang.

Indonesia sendiri merupakan peringkat keenam besar produsen bahan kulit dunia. Meski begitu industri dalam negeri membutuhkan kulit yang cukup banyak yang kemudian diisi oleh produk impor. Kementerian Perindustrian mencatat setiap tahun Negeri ini memproduksi 55 juta kaki per segi (square feet/SQFT) kulit hasil penyamakan. Dari produksi ini 5,9 juta SQFT dikirim untuk pasar ekspor. Meski begitu konsumsi kulit di dalam negeri mencapai 115,84 juta SQFT. Selisih 66,74 juta SQFT kemudian harus diimpor untuk memenuhi kebutuhan industri.

Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian Muhdori menyebutkan teradapat peluang besar bagi produk dari kulit di pasar nasional. Permintaan bahan baku kulit terus tumbuh dari tahun ke tahun dengan baik.

“Kami targetkan volume produksi industri alas kaki dapat mencapai 5,6% hingga akhir tahun [2019] ini,” katanya.

Prijono Sugiarto, Presiden Direktur Astra menuturkan saat ini semangat generasi muda untuk memperjuangkan kebaikan bagi lingkungan sekitar terus membesar. Perusaan sendiri tengah mengkampanyekan #KitaSatuIndonesia dan #IndonesiaBicaraBaik. Energi positif ini harus terus dipelihara untuk menciptakan Indonesia sejahtera. Ia mengharapkan semakin banyak anak muda untuk memulai kebaikan bagi lingkungan sekecil apapun skala jangkauannya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

wirausaha entrepreneur Features
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top