Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini 10 Pemimpin Bank dengan Aset Terbesar di Indonesia

Sampai dengan November 2019, total aset perbankan yang tercatat di seluruh Indonesia mencapai Rp8,410 triliun sedangkan per September mencapai Rp8,344 triliun yang mana ada 10 perbankan yang menjadi penyumbang terbesar komponen aset tersebut.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 12 Februari 2020  |  07:21 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Sampai dengan November 2019, total aset perbankan yang tercatat di seluruh Indonesia mencapai Rp8,410 triliun sedangkan per September mencapai Rp8,344 triliun yang mana ada 10 perbankan yang menjadi penyumbang terbesar komponen aset tersebut.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis.com, 10 perbankan tersebut kini dipimpin oleh para tokoh yang punya rekam jejak dan kredibilitas yang bagus. Tidak percaya? Yuk simak siapa saja sih nahkoda dari 10 perbankan tersebut.

1. Sunarso – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk

Pria kelahiran 7 November 1963 ini adalah alumnus Institut Pertanian Bogor pada 1988. Sunarso lantas meraih gelar Master of Business Administration dari Universitas Indonesia pada 2002. Sejak 2 September 2019, Sunarso dipilih melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk menahkodai BRI. Sunarso tercatat mengawali karir sebagai analis kredit di Bank Dagang Negara. Dia lalu bertolak lebih dalam menjadi banker di Bank Mandiri pada 1999.

Sunarso juga memperluas wawasannya dengan mengikuti berbagai program pelatihan di Melbourne University, Northwestern University, University of Chicago, London Business School, dan University of New South Wales. Per September 2019, BRI pun mencatatkan aset Rp1.305,60 triliun.

2. Royke Tumilaar - PT. Bank Mandiri Tbk

Royke saat ini menjabat sebagai Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk. Perusahaan dengan kode saham BMRI ini adalah ekonom yang menyabet gelar Master of Business Finance dari University of Technology Sydney. Alumnus Universitas Trisakti tahun 1987 ini mengawali karir sebagai analis kredit di Bank Dagang Negara. Setelah krisis moneter pada tahun 1998, Royke bergabung dengan Bank Mandiri yang merupakan gabungan bank-bank yang dilebur pasca krisis seperti Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, Bank Ekspor Impor Indonesia, dan Bank Pembangunan Indonesia. Saat ini, aset BMRI tercatat sebesar Rp1.275,70 triliun per September 2019 lalu.

2. Jahja Setiaatmadja – PT Bank Central Asia Tbk

Nakhoda dari perusahaan berkode saham BBCA ini pernah bekerja di PT. Kalbe Farma dan Indomobil. Alumnus Fakultas Ekonomi di Universitas Indonesia ini, lantas memulai karir pertama di Pricewaterhouse sebagai junior accountant pada 1979. Dari pekerjaannya tersebut, ia digaji Rp 60 ribu setiap bulannya.

Pria kelahiran 14 September 1955 ini lantas pindah ke BCA pada 1990, dengan risiko turun jabatan sebagai Wakil Divisi Keuangan BCA dari yang sebelumnya direktur keuangan di Indomobil. Jahja lantas dipromosikan menjadi Kepala Divisi Treasury pada 1996. Saat krisis 1998 dan BCA sedang terpuruk, Jahja dipercaya menjabat Direktur sampai 1999 saat BCA berada di bawah Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Posisi sebagai direktur terus diembannya hingga ia dipercaya menjadi Wakil Presiden Direktur BCA, lalu Presiden Direktur BCA sejak 2011. Sampai September 2019, BBCA mencatatkan total aset Rp893,5 triliun.

4. Achmad Baiquni – PT. Bank Negara Indonesia Tbk

Nahkoda yang satu ini tercatat menjadi pemimpin di perusahaan berkode saham BBNI sejak 2015. Alumnus Universitas Padjajaran lantas melanjutkan studi dan meraih gelar Master of Business Management dari Asian Institute of Management di Filipina. Sampai dengan September 2019, BNI mencatatkan aset perbankan sebesar Rp815,2 triliun.

5. Pahala N. Mansury – PT Bank Tabungan Negara Tbk

Pria kelahiran 8 April 1971 ini tercatat mulai memimpin BTN sejak 27 November 2019. Sebelumnya, Pahala pernah menjabat sebagai Direktur Keuangan PT. Pertamina (Persero). Pahala tercatat mengawali karir sebagai konsultan manajemen di Andersen Consulting. Hingga pada 1998, Pahala bekerja paruh waktu di salah satu sekuritas di New York. Dia lantas bergabung dengan Booz Allen & Hamilton sebagai konsultan senior selama satu tahun di 1999. Hingga pada 2003, Pahala memulai kariernya di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Bank Mandiri menjadi salah satu pijakan penting karier Pahala sebab dari sini kariernya terus meningkat. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) dan MBA Finance dari Stern School of Business, New York University, Amerika Serikat (AS) ini lantas mencapai posisi direktur di Bank Mandiri pada 2010, sempat menjadi Direktur Utama Garuda Indonesia sampai berpijak di BTN. Per September 2019, BTN mencatatkan aset Rp316,7 triliun.

6. Tigor M. Siahaan – PT. Bank CIMB Niaga Tbk

Tigor merupakan lulusan dari University of Virginia, Charlottesville, Amerika Serikat dengan double major di Finance dan Accounting. Dia lantas memulai karir bersama Citi Indonesia pada 1995 sebagai Management Associate. Selama dua puluh tahun, Tigor telah menjalankan berbagai fungsi di Institutional Recovery Management, Country Risk Management dan Corporate dan Investment Banking, yang melayani berbagai segmen nasabah termasuk Financial Institution, Multinational dan Local Corporate di Citi Indonesia dan New York.

Tigor juga merupakan Indonesia Country Head untuk Institutional Clients Group yang bertanggung jawab terhadap bisnis Wholesale termasuk Treasury, Transaction Service, dan Corporate dan Investment Banking sejak Februari 2008 hingga Mei 2011. Setelah itu dia menduduki posisi sebagai Chief Country Office untuk Indonesia. Per September 2019, aset keuangan CIMB Niaga tercatat mencapai Rp262,8 triliun.

7. Herwidayatmo – PT Bank Panin Tbk

Pria berusia 61 tahun ini itunjuk sebagai Presiden Direktur sesuai hasil RUPSLB Bank Panin per tanggal 1 September 2014. Herwidayatmo memulai karir pada 1982 ketika bergabung dengan Bapepam, Departemen Keuangan RI. Sejak saat itu telah memegang berbagai posisi, sebelum menjabat sebagai Ketua Bapepam pada Januari 2000 – November 2004.

Herwidayatmo memperoleh gelar Sarjana Akuntansi dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dan Master Business Administration dari Saint Mary’s University, Halifax, Nova Scotia, Canada pada 1992. Dia pun pernah menjabat sebagai Deputi Menteri BUMN bidang Restrukturisasi dan Privatisasi pada April 1998 sampai Januari 2000, dan sebagai Executive Director World Bank untuk Asia Tenggara, berkedudukan di Washington, DC, USA, pada November 2004– Oktober 2006, Direktur Hukum dan Kepatuhan PT Bank Permata Tbk pada Agustus 2008– Agustus 2009, dan terakhir sebagai Wakil Presiden Direktur PT Bank Permata Tbk Agustus 2009 – April 2014. Sampai September 2019, aset Panik Bank tercatat Rp212,6 triliun.

8. Yasushi Itagaki – PT Bank Danamon Tbk

Pria berkebangsaan Jepang ini resmi menjabat sebagai direktur utama di Bank Danamon sejak 1 Oktober 2019. Yasushi tercatat memiliki pengalaman selama lebih dari tiga dekade di bidang perbankan korporasi dan perbankan investasi. Selama menjabat di MUFG, Yasushi Itagaki merancang strategi jaringan perbankan komersial di Asia Tenggara dan berperan penting dalam pembentukan kemitraan strategis antara MUFG dengan Danamon. Tak hanya di Danamon, Yasushi Itagaki juga memiliki peran strategis pada beberapa investasi di bank Asia Tenggara. Sebut saja; Krungsi di Thailand, Security Bank di Filipina, dan Vietin Bank di Vietnam. Pada September 2019, Bank Danamon mencatatkan aset Rp195,8 triliun.

9. Ongki Wanadjati Dana – Bank BTPN

Ongki Wanadjati Dana menjabat sebagai Direktur Utama BTPN efektif 1 Februari 2019. Dia tercatat memimpin bisnis perbankan ritel Bank BTPN sejak bergabung pada 2008. Di Bank BTPN, Ongki menyumbang pengalamannya yang luas di sektor keuangan selama lebih dari 36 tahun. sebelumnya, Ongki tercatat telah menjabat sebagai Direktur Perbankan Wholesale Bank Permata, Wakil Direktur Utama di Bank Universal, dan Direktur Utama Bank Subentra. Lulusan teknik mesin di Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengawali karir di sektor perbankan pada 1982 di Citibank. Sampai September 2019, Bank BTPN mencatatkan aset sebesar Rp182,2 triliun.

10. Taswin Zakaria – Maybank

Jebolan The Ohio State University ini sebelum menjadi Presiden Direktur di Maybank adalah Presiden Direktur PT Indonesia Infrastructure Finance pada 2010-2011. Taswin juga pernah menjabat sebagai Direktur Barclays Bank Plc untuk Indonesia, Kepala Regional Asia pada Alternate Capital Market/Islamic Finance pada 2001 sampai 2003, dan Vice President Deutsche Bank AG Jakarta. Dia tercatat menjabat sebagai Presiden Direktur Maybank pada 2013 sampai sekarang. Per September 2019, Maybank masuk dalam 10 besar bank dengan aset yang tinggi, yakni Rp177,8 triliun.

Demikianlah milestone 10 nakhoda perbankan di Indonesia dengan aset yang signifikan. Semoga rekam jejak, kredibilitas, dan kualitas yang ditunjukkan 10 pemimpin perusahaan ini bisa menjadi bekal bagi kalian yang ingin berkecimpung di sektor keuangan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

aset perbankan
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top