Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Begini Tantangan Berbisnis Jualan Buku Lawas

Perubahan medium membaca fisik ke digital tidak urung membuat Dolly takut bisnisnya tergerus. Sejak 2004 dia tidak menyerah untuk mengoperasikan dagang buku lawas di Desa Seni, Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 29 Februari 2020  |  18:36 WIB
Dolly Syamsudin Buku Langka TMII
Dolly Syamsudin Buku Langka TMII

Bisnis.com, JAKARTA - Di era digital yang menawarkan ragam jenis pekerjaan, Dolly Hirawansyah justru memutuskan melanjutkan hobi dan bisnis orangtua, mengoleksi dan menjual buku langka.

Perubahan medium membaca fisik ke digital tidak urung membuat Dolly takut bisnisnya tergerus. Sejak 2004 dia tidak menyerah untuk mengoperasikan dagang buku lawas di Desa Seni, Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Kios ‘Dolly Syamsudin Buku Langka TMII’ memiliki ragam buku lawas. Misalnya saja; buku ‘Mereka jang Pantang Mundur’ karya Robert M. Bartlet, ataupun buku ‘An Autobiografi’ Sukarno karya Cindy Adams. Awalnya kios ini dikelola oleh Dolly, selaku putra dari Syamsudin Effendi, penjual buku lawas sejak 1986.

Dia mengenang, sebelum 1986 pada zaman pemerintahan Gubernur Ali Sadikin, Syamsudin Effendi membuka kios buku di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Dia lalu sempat berpindah ke Pasar Senen, tak jauh dari terminal. Berpindahnya kios ini ke TMII tak lepas dari peran Siti Hartinah, alias almahrum Ibu Tien Soeharto.

Ihwalnya, dia bercerita, ketika sedang menggelar bazaar buku Tien Soeharto  sedang mencari buku lawas. Adapun buku yang dicari oleh Tien Soeharto dimiliki oleh Syamsudin. Ketika Tien Soeharto hendak membayar buku tersebut, Syamsudin menolaknya. Maka, sebagai imbalan tanpa gengsi Syamsudin meminta lapak untuk buku-buku lawas miliknya di TMII. Istri Presiden Soeharto itu pun lantas mengiyakan.

“Akhirnya pertama kali diberikan tempat oleh Ibu Tien disamping istana anak, dekat Anjungan Papua,” ujar Dolly saat dijumpai Bisnis di kiosnya, Kamis (27/2/2020).

Dolly yang sudah mengambil alih dan melanjutkan hobi orangtua sejak 2004 ini mengklaim sudah banyak pembeli dari berbagai latar belakang berburu buku langka kepadanya. Dolly pun menyebut, umumnya para pemburu tersebut adalah akademisi setara dosen ataupun peneliti asing asal Belanda dan Jepang. Maklum saja, para peneliti ini kerap mengincar berbagai literatur sejarah Indonesia, apalagi Indonesia pernah dijajah oleh Belanda dan Jepang.

Selain para akademisi dan peneliti, sejumlah politisi dan kolektor buku langka juga seringkali membeli buku kepadanya. Misalnya saja; Prabowo Subianto, Fadli Zon, dan Guruh Soekarnoputra. Dia membeberkan, buku yang paling disukai Prabowo Subianto adalah buku-buku lawas seputar sejarah dan militer atau strategi perang. Sebaliknya, buku yang diburu oleh Fadli Zon lebih banyak adalah sejarah Indonesia.

Tak heran, jika di kios tersebut Dolly bisa memasang harga buku sampai Rp2 juta untuk buku yang sangat lawas dan langka. Meski demikian, kolektor 10.000 buku lawas yang tersebar di TMII dan Blok M ini juga masih menyimpan sejumlah buku lawas seharga Rp25 juta sampai Rp50 juta di rumahnya. Salah satu buku yang sangat mahal tersimpan dirumah adalah buku karya Georgius Everhardus Rumphius seorang prajurit Perserikatan Dagang Hindia Timur atau VOC. Buku yang berjudul De Ambonse Histoire, tentang sejarah flora, fauna, dan rempah-rempah Indonesia.

Di tengah era digital, Dolly mengaku masih optimistis para kolektor buku lawas tidak akan terpengaruh. Motivasi inilah yang mendorongnya tetap konsisten menjalankan bisnis jual-beli dan tetap berburu buku lawas. Dia beralasan para kolektor tidak hanya mencari ilmu dalam buku tersebut, sebaliknya, kehadiran fisik buku mempengaruhi keterpuasan mereka.

“Biasanya, para kolektor pun sampai membuka perpustakaan sendiri, apalagi untuk buku lawas. Pak Fadli Zon juga punya perpustakaan di Pejompongan,” tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

buku buku
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top