Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Lahan Terbatas, Mari Bercocok Tanam Pakai Hidroponik

Segala tanaman bisa ditanam menggunakan teknik hidroponik. Teknik ini sangat cocok bagi kaum urban saat.
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 11 Juni 2020  |  19:56 WIB
Petani merawat tanaman sayur sawi Caisim yang ditanam menggunakan metode hidroponik di Penyengatrendah, Telanaipura, Jambi, Kamis (12/10). - ANTARA/Wahdi Septiawan
Petani merawat tanaman sayur sawi Caisim yang ditanam menggunakan metode hidroponik di Penyengatrendah, Telanaipura, Jambi, Kamis (12/10). - ANTARA/Wahdi Septiawan

Bisnis.com, JAKARTA – Menanam dengan teknik hidroponik belakangan digandrungi para kaum urban. Terutama bagi masyarakat yang tak memiliki lahan untuk menanam dan tinggal di lingkungan padat seperti kontrakan atau apartemen.

Menurut Founder Rumah Hidroponik Bertha Suranto, keuntungan teknik budidaya tanaman ini cukup menggunakkan air bukan tanah sebagai media utamanya. “Keuntungannya kita yang nggak punya tanah bisa nanem. Kita bisa bikin kebun di atas loteng,” ujarnya saat menjadi pembicara di live Instagram Bisnis.com, Kamis (11/6/2020).

Selain itu, segala tanaman bisa ditanam menggunakan teknik ini. Namun memang yang digandrungi para kaum urban saat ini adalah tanaman sayuran karena bisa langsung dikonsumsi ketika panen,

“Kedua, dia bisa (ditanam) bertingkat, vertikal, jadi menghemat lahan. Dengan lahan yang sama, hasil produksinya jauh lebih banyak. Terakhir, tidak perlu mencangkul,” sebutnya.

Untuk pemula, katanya bisa melakukan hidroponik dengan wick system atau sumbu tetes. Saat ini alatnya mudah didapatkan karena telah banyak toko offline maupun online yang menjualnya. Harganya cukup murah, satu paket di kisaran harga Rp100.000 ribu sudah mendapatkan rockwool, bibit sayuran, pupuk cair, hingga bak tanam beserta potnya.

Namun kaum urban juga bisa memanfaatkan alat-alat yang tersedia di rumah ataupun di sekitar lingkungannya, seperti styrofoam, gelas bekas es krim, bak, kain kasa untuk sumbu, maupun paralon sebagai wadah untuk menampung air.

“Untuk pemula, paling gampang sistem wick, buat rakit apung sederhana dari box Styrofoam. Boxnya dikasih plastik hitam buat tempat air dan nutrisi. Kalau nggak punya netpot, buat dari gelas dilubangi untuk akar,” jelasnya.

Satu hal yang penting, pemula harus memiliki TDS meter atau alat yang digunakan untuk mengukur partikel pada larutan air yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. TDS membantu untuk mengetahui apakah nutrisi yang diberikan kepada tanaman sudah tepat atau belum.

“Harus punya. Karena nanti ukurannya tidak tepat. Apakah kekurangan atau kelebihan. Kalau kelebihan, nanti saladanya nggak enak. Kalau kurang tanamannya nggak hijau,” tegasnya.

Untuk tanamannya sendiri, kata Bertha bisa dimulai dengan sayur-sayuran seperti pakcoy, kangkung, sawi caisim, bayam, tomat, dan mentimun. “Begitu satu kali, bisa semuanya, yang penting nutrisi tidak kepanasan, nutrisi tidak ketinggian atau kurang,” tukasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perkebunan hidroponik organik
Editor : Novita Sari Simamora
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top