Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Menggaet Laba dari Bisnis Daging Beku

Beberapa tahun lalu, tren belanja online lebih banyak dilakukan untuk produk fesyen tetapi kini hampir semua kebutuhan bisa didapatkan melalui online, termasuk kebutuhan pokok, makanan dan minuman.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 28 September 2020  |  12:23 WIB
Ilustrasi daging
Ilustrasi daging

Bisnis.com, JAKARTA - Banyak masyarakat yang kini lebih memilih untuk memenuhi kebutuhan secara online, apalagi di tengah masa pandemi Covid-19, ketika aktivitas lebih banyak dilakukan di rumah.

Beberapa tahun lalu, tren belanja online lebih banyak dilakukan untuk produk fesyen tetapi kini hampir semua kebutuhan bisa didapatkan melalui online, termasuk kebutuhan pokok, makanan dan minuman.

Salah satu tren yang juga banyak diminati masyarakat saat ini adalah daging beku. Hal ini tidak lepas dari makin banyaknya restoran yang menyajikan makanan berbahan daging. Di masa pandemi ini, ketika masyarakat tidak bisa mencicipi langsung di restoran, mereka memilih untuk membuat sendiri di rumah dengan membeli daging beku.

Melihat peluang tersebut, mendorong Maria Lestari Tedja untuk menghadirkan bisnis Hapimeats yang menghadirkan daging sapi beku yang diklaim dapat memenuhi ekspektasi konsumen yang ingin menikmati daging layaknya di restoran.

“Di Hapimeats kami mencoba menyelaraskan ekspetasi customer, misalnya menghadirkan daging karubi dan harami. Kami menggunakan nama yang sudah orang tahu dan selaraskan dengan apa yang mereka pikirkan bisa dapatkan di restoran. Mulai dari nama, cuttingannnya, sampai grade daging yang kami gunakan juga sama,” ujarnya.

Hapimeats sendiri hadir sekitar April 2019, ketika itu Tari melihat bahwa peluang bisnis daging beku secara online sedang naik daun. Dia pun lantas membuat brand Hapimeats yang produk daging bekunya dia dapatkan dari PT Himalaya Agung Perkasa, importir beberapa komoditi, termasuk daging beku yang lebih fokus pemasaran business to business.

“Aku suka dengan dunia digital, dan aku liat potensi daging beku ini juga menarik ketika dijual secara retail sehingga aku pun membuat brand Hapimeats,” tutur wanita kelahira Maret 1995 ini.

Saat awal memulai, dia langsung memasarkan secara online melalui marketplace dan media sosial, sekaligus membangun brand. Modal awal yang dikeluarkan saat itu sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta yang digunakan untuk biaya iklan digital sehingga produknya lebih dikenal masyarakat secara luas. Adapun untuk bahan baku dagingnya sendiri, saat itu dia mengambilnya dari PT Himalaya Agung Perkasa.

Otentisitas dan rasa daging yang juicy membuat banyak masyarakat yang mencari daging dari Hapimeats, tak hanya di Jakarta tetapi juga ke berbagai lokasi lainnya seperti Bekasi, Tangerang, Bandung, dan Surabaya. Cabang tersebut menurutnya hanya diperuntukkan untuk stock opname.

“Tahun pertama kami langsung sebarin cabang, permintaan memang belum terlalu ramai tapi kami sudah berani buka cabang karena kami yakin bahwa bisnis ini memiliki prospek yang bagus. Saat ini di luar kota kami sudah ada 11 cabang,” tutur lulusan Universitas Parahyangan ini.

Sebagai produk makanan beku, Hapimeats memang perlu membuka cabang di beberapa kota sehingga lebih dekat menjangkau konsumen dan untuk menghindari terjadinya perubahan warna dan kualitas ketika daging sudah tak lagi beku. Untuk menghindari hal tersebut terjadi, maka proses pengiriman hanya menggunakan Gosend atau Grabsend dengan diselipkan es di dalamnya.

Kian lama, permintaan terus meningkat sehingga Tari pun mulai menambah berbagai variasi makanan beku mulai dari seafood seperti ikan salmon, ikan dori, udang, dan cumi, hingga ayam beku.

Dalam menawarkan produknya, Tari fokus pada kualitas dan pelayaan sehingga Hapimeats tidak perlu ikut dalam perang harga seperti frozen food lainnya. Daging yang digunakan pun benar-benar yang kualitas terbaik, terdiri dari daging sapi US, dan Australia.

Selain daging beku, Hapimeats juga menyediakan daging marinated steak atau daging steak yang sudah dibumbui sehingga konsumen hanya tinggal memanggang tanpa perlu menambah bumbu.

“Kalau orang yang malas bumbuin steak sendiri di rumah bisa beli daging steak yang sudah kami marinasi karena kan untuk bikin steak itu kita ngga bisa beli bumbunya sedikit-sedikit, harus langsung sekaligus banyak. Dengan membeli daging yang sudah dibumbui, pembeli ngga perlu stok banyak bumbu lagi karena dagingnya tinggal langsung dipanggang,” terangnya.

Adapun untuk kisaran harga daging yang dijual Hapimeats mulai dari Rp15.000 untuk hati sapi per 500 gram hingga yang paling mahal, steak primary dibanderol Rp199.000 per 250 gram. Sementara itu, untuk daging yang paling laris adalah beef slice karubi testy yang dijual seharga Rp60.000 per 500 gram, termasuk daging giling dengan harga jual Rp40.000 per 500 gram.

Selama masa pandemi in permintaan memang sempat meningkat terutama ketika terjadi PSBB di saat banyak masyarakat yang di rumah sehingga mereka pun memilih untuk membuat sendiri makanan di rumah dengan menggunakan daging beku atau frozen food, agar lebih praktis.

“Untuk penjualan sendiri saat ini masih naik turun, rata-rata per bulan untuk omzet ada dikisaran harga Rp300 juta sampai Rp400 juta. Kalau keuntungan bersih sekitar 10% sampai 15%,” tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

peluang bisnis daging beku
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top