Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bill Gates Sebut Teori Konspirasi Vaksin Covid-19 Liar dan Tak Terduga

Pendiri dan mantan CEO Microsoft, Bill Gates merupakan salah satu target cerita dari para pendukung teori konspirasi. Dia mengatakan bahwa konspirasi liar ini meningkatkan kekhawatiran tentang kesediaan orang untuk mendapat vaksinasi.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 02 November 2020  |  17:44 WIB
Bill Gates - Istimewa
Bill Gates - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Ketika kasus virus corona melonjak di seluruh dunia, media dan jejaring sosial telah dibanjiri dengan teori konspirasi mengenai upaya untuk menemukan vaksin, termasuk klaim palsu bahwa vaksin dapat merusak sistem kekebalan manusia.

Pendiri dan mantan CEO Microsoft, Bill Gates merupakan salah satu target cerita dari para pendukung teori konspirasi. Dia mengatakan bahwa konspirasi liar ini meningkatkan kekhawatiran tentang kesediaan orang untuk mendapat vaksinasi.

“Anda tahu, kami selalu memiliki beberapa kewaspadaan tentang vaksin. Bukan gagasan yang menghubungkannya dengan konspirasi microchip orang untuk melacak atau cerita lainnya yang tidak akan bisa dipercaya,” katanya dalam sebuah wawancara seperti dikutip Finance Yahoo News, Senin (2/11).

Gates telah banyak berbicara tentang mengikuti nasihat medis yang sesuai tentang virus corona. Namun, dia masih terkejut menemukan dirinya dan Anthony Fauci ahli medis Amerika Serikat yang dikaitkan dengan konspirasi upaya pengembangan vaksin.

“Gelombang cerita liar tentang vaksin seperti anda tahu itu didasarkan pada niat jahat, sering mengacu pada saya atau Fauci. Itu adalah elemen baru liar yang tidak saya duga,” katanya dalam sebuah wawancara pada pertengahan Oktober lalu.

Informasi tentang konspirasi semacam itu, yang telah menyebar dengan cepat di jejaring sosial termasuk Facebook, Instagram, YouTube, Twitter dan yang lainnya bisa membuat orang enggan untuk melakukan vaksinasi, menggunakan masker, atau tindakan pencegahan lainnya.

Konspirasi tentang virus corona baik tentang asal usul, perawatan, upaya mitigasi, atau kandidat vaksin mulai bermunculan di situs media sosial sejak awal masa pandemi. Berbagai teori berkisar dari klaim palsu bahwa virus itu berasal dari lab di China hingga konspirasi bahwa masker tidak efektif untuk menghentikan penyebaran virus.

Dalam rapat dengar pendapat Senat Commerce Committee yang menghadirkan petinggi Google, Twitter, dan Facebook pada pekan lalu, Senator Richard Blumenthal menyampaikan kekhawatirannya sendiri tentang Presiden Donald Trump yang menggunakan media sosial untuk menyebarkan disinformasi.

Anggota parlemen tersebut merujuk pada video yang diposting Trump ke Facebook dan Twitter dari wawancara Fox News di mana dia, tanpa bukti, mengklaim anak-anak kebal terhadap virus corona, "Dia mengatakan bahwa anak-anak, hampir kebal dari penyakit ini," kata Blumenthal.

Baik Twitter dan Facebook kemudian menghapus video itu karena melanggar aturan mereka terhadap informasi yang salah seputar virus.Dalam wawancaranya dengan Yahoo Finance, Gates mengakui bahwa situs media sosial "berbuat lebih banyak" untuk mengurangi penyebaran informasi yang salah.

YouTube mengatakan bulan ini bahwa mereka akan menghapus informasi menyesatkan tentang potensi vaksin virus corona, setelah sebelumnya mengatakan akan menghapus konten yang mempromosikan pengobatan palsu untuk virus tersebut.

Sementara itu, Facebook mengatakan akan menolak semua iklan yang membuat orang enggan mendapatkan vaksinasi secara global. Namun, situs tersebut tidak melarang postingan tentang konspirasi di dalam platformnya.

Platform jejaring sosial lainnya, Twitter juga telah mengambil langkah-langkah untuk melawan kesalahan informasi virus, dengan membidik postingan tentang virus dan menambahkan tanda verifikasi fakta ke tweet palsu.

Pada bulan Mei, Facebook dan Twitter juga menghapus video teori konspirasi "Plandemi" yang sekarang populer karena mengklaim orang-orang terkenal mengeksploitasi pandemi virus corona untuk keuntungan pribadi mereka sendiri.

Namun banjir konten palsu terus berdatangan dari seluruh dunia, sebagian, berkat skala besar perusahaan ini. Menurut analisis September oleh The Guardian, keterlibatan orang dengan postingan anti-vaksin Inggris di Facebook meningkat tiga kali lipat dalam satu bulan, antara Juli dan Agustus.

Terlepas dari prevalensi informasi yang salah ini, Gates berharap kebenaran pandemi ini lebih menarik daripada fiksi yang menyebar di internet, dan bahwa orang-orang sangat ingin mendapatkan vaksin untuk menghentikan penyebaran eksponensial virus.

"Saya berharap kita bisa mendapatkan kebenaran yang lebih menarik daripada penjelasan yang terlalu sederhana tentang apa yang terjadi dengan pandemi ini," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bill gates Virus Corona tokoh bisnis
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top