Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Inovasi Dalam Sebuah Kotak Lego

Dalam sejarah bisnis, korporasi yang paling berhasil bukanlah inovator-inovator produk, melainkan perusahaan yang mengembangkan model bisnis inovatif.
Inria Zulfikar
Inria Zulfikar - Bisnis.com 29 November 2020  |  17:47 WIB
Logo Apple Inc. di salah satu tokonya di AS -  Bloomberg
Logo Apple Inc. di salah satu tokonya di AS - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Saat ini, terutama hari-hari belakangan ini hingga menjelang pengujung tahun nanti, salah satu topik terpanas dalam bisnis adalah inovasi.

Dengan tensi persaingan yang semakin meningkat dan perputaran produk yang makin pendek pula, korporasi bersusah payah mendapatkan ‘kunci ajaib’ inovasi.

Kondisi bertambah berat karena disrupsi kali ini benar-benar mendapat goncangan baru sebagai akibat pandemi Covid-19 yang mendunia sejak sembilan bulan terakhir.  Pendeknya, sepanjang 2020 ini, corona is the king!

Dalam pencarian sebuah sistem, para profesional dikirim ke ‘bengkel-bengkel’ inovasi di mana mereka bermain denga lego untuk mendorong kreativitas. Bahkan manajemen sampai merasa perlu menggaji seorang chief innovation officer atau membuka pusat-pusat inovasi di mana para profesional berpikir dan berimajinasi dengan dikelilingi kotak-kotak lego.

Dan orang pun mulai bertanya mengenai semangat berkreativitas dan kemunculan inovasi. Leander Kahney mengulasnya secara tajam mengenai hal ini dalam bukunya berjudul Inside Steve’s Brain (2008). Soal inovasi gaya Steve Jobs. 

Rasanya layak bila manajemen puncak korporasi juga belajar dan sekaligus mengintip makna inovasi yang diusung pendiri Apple tersebut. Baik dari sisi sosok maupun kiprah korporasi yang dibangunnya, ‘duet’ Jobs dan Apple adalah salah satu contoh terbaik untuk mempelajari inovasi.

Lalu, apakah berkreativitas dengan kotak-kota lego memang senafas dengan pemikiran Jobs?

Menurut Kahney, Jobs menunjukan sikap penghinaan untuk ide-ide seperti bermain dengan lego tersebut. Pasalnya di Apple, tidak ada sistem untuk mengendalikan inovasi.

Ketika Rob Walker, jurnalis New York Times, bertanya apakah dia secara sadar pernah berpikir tentang inovasi, Jobs menjawab, “Tidak. Kami secara sadar berpikir tentang membuat produk-produk hebat. Kami tidak berpikir, ‘ayo munculkan hal-hal yang inovatif! Ayo kursus! Ini adalah lima peraturan tentang inovasi, ayo kita tawarkan di seluruh perusahaan!”

Bukan. Bukan begitu! Menurut Jobs, membuat sistem inovasi seperti ‘seseorang yang tidak trendy berusaha menjadi trendy adalah benar-benar memalukan. “Seperti melihat Michael Dell berusaha berdansa. Sungguh memalukan.”

“Inovasi tidak berkaitan dengan banyaknya uang yang Anda miliki untuk riset dan pengembangan. Ketika Apple menghasilkan Mac, IBM menghabiskan uang setidaknya 100 kali lebih banyak untuk riset dan pengembangan.”

“Ini bukan masalah uang, melainkan tentang orang-orang yang Anda miliki, bagaimana Anda diarahkan, dan seberapa banyak yang Anda dapatkan,” ujar Jobs seperti dikutip Fortune edisi 9 November 1998.

Lalu bagaimana korporasi yang Anda pimpin serta produk maupun jasa yang dihasilkan agar dapat lebih berdaya lagi di 2021?

Anda sudah yakin betul memiliki sederet produk unggulan yang bakal menghentak pasar dan laris manis di Tahun Kerbau Logam?  Tak ada salahnya mencermati lagi secara seksama untuk mengantisipasi berbagai hal yang tidak diinginkan.

Pasalnya, orang sekaliber Jobs yang terkenal sangat perfeksionis pun pernah terjungkal juga. Dalam kasus Power Mac G4 Cube, misalnya.

Walt Mossberg dari Wall Street Journal mengatakan bahwa Cube adalah benar-benar komputer pribadi paling menarik yang pernah dia lihat atau gunakan. Jonathan Ive menyabet beberapa penghargaan untuk desainnya.

Namun desain saja belum cukup. Komputer tersebut tidak sukses memikat konsumen. Penjualannya sangat buruk. Pada 3 Juli 2001 Jobs menghentikan sementara penjualan Cube setahun setelah pengenalannya.

Jobs keliru menilai pasar. Cube adalah mesin yang tidak tepat dengan harga yang tidak tepat pula. Pendiri Apple tersebut, kata Kahney, biasanya memperhatikan dengan cermat pengalaman pelanggan.

Hal itu merupakan salah satu cara yang membuatnya memiliki reputasi baik dalam menciptakan inovasi. “Instingnya akan pengalaman dalam menggunakan produk-produknya merupakan penggerak inovasi Apple. Dan Cube adalah salah satu peristiwa yang jarang terjadi ketika dia tidak memperhatikan hal yang paling penting.”

Dalam sejarah bisnis, korporasi yang paling berhasil bukanlah inovator-inovator produk, melainkan perusahaan yang mengembangkan model bisnis inovatif. Inovator bisnis bisa saja mengambil inovasi-inovasi orang lain dan mengembangkannya dengan menemukan cara-cara baru dalam membuat, mendistribusikan atau memasarkannya.

Lihat saja, Henry Ford tidak menemukan mobil tetapi dia melakukan produksi massal dengan sempurna.

“Dell tidak mengembangkan jenis komputer baru tetapi perusahaan itu benar-benar menciptakan sistem distribusi secara langsung ke pelanggan dengan sangat efisien,” kata Kahney.

Jadi, bagaimana inovasi berjalan di korporasi Anda? Masih bermain dengan kotak-kotak lego atau sudah siap mencetak cuan dari sang jagoan baru di era new normal?

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

inovasi
Editor : Inria Zulfikar

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top