Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Strategi Pengusaha Fesyen Terus Melejit di Masa Pandemi, Tinggalkan Cara Kuno

Diakui olehnya sepanjang Januari 2020 hingga Januari 2021, penjualan di Erigo melonjak sangat signifikan bahkan bisa menembus hingga 10 kali lipat atau 1000 persen.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 14 Februari 2021  |  13:02 WIB
Model memperagakan busana karya anggota Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) dalam pembukaan Indonesia Fashion Week 2019, di Jakarta, Rabu (27/3/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan
Model memperagakan busana karya anggota Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) dalam pembukaan Indonesia Fashion Week 2019, di Jakarta, Rabu (27/3/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Situasi pandemi membawa perubahan yang signifikan pada berbagai sektor, salah satunya perkembangan industri fesyen tanah air. Ini ditandai munculnya beragam tren fesyen yang begitu cepat dan dinamis, menyesuaikan kondisi di masa pandemi.

Pergantian tren fesyen ini harus segera ditangkap oleh para pelaku usaha yang dituntun untuk terus menyesuaikan strategi bisnis sehingga dapat beradaptasi mengikuti sekaligus menjawab kebutuhan tren fashion yang sedang digemari oleh masyarakat.

Memang pada masa awal kemunculan pandemi, penjualan fesyen merosot begitu tajam. Pasalnya, kala itu masyarakat memiliki prioritas yang lebih penting dibandingkan dengan berbelanja produk fesyen. Namun, seiring berjalannya waktu, tren fesyen terus berkembang dan beradaptasi mengikuti perubahan gaya hidup masyarakat.

David Sanjaya, Founder Cammomile mengatakan bahwa pandemi yang terjadi saat ini telah merubah gaya hidup masyarakat sehingga sebagai pelaku usaha harus peka dan cepat beradaptasi dengan melakukan berbagai perubahan strategi.

Apalagi tren fesyen begitu cepat berubah sehingga setiap akan mengeluarkan rangkaian produk baru, tim internal dari Cammomile pasti akan melihat dan menyesuaikannya dengan tren yang tengah terjadi di masyarakat.

“Misalnya saat awal pandemi bayak yang butuh masker. Berangkat dari situ, Cammomile meluncurkan produk masker kain yang matching dengan bajunya. Lalu orang juga butuh baju yang nyaman dipakai di rumah tetapi tetap modis maka beberapa waktu lalu Commomile meluncurkan piyama, dan tanggapan masyarakat sangat bagus,” tuturnya.

Untuk proses penjualannya pun saat ini Cammomile sangat memprioritaskan penjualan secara online sehingga bisa menjangkau pasar lebih luas bahkan hingga ke Aceh, Papua, Kalimantan, dan Sulawei. Berbeda jika hanya mengandalkan penjualan offline yang hanya terbatas pada lingkup tertentu.

Apalagi di masa pandemi ini, masyarakat makin akrab dengan media digital sehingga penjualan online benar-benar terakselerasi dengan cepat. Masyarakat yang tadinya malas berbelanja secara onlie sekarang harus belanja online.

“Makanya cara bisnis gaya lama sekarang sudah tidak laku lagi. Di sini pelaku usaha harus mengatur strategi dengan cara kuatkan penjualan digital dan genjot penjualan online di e-commerce,” tuturnya.

Sementara itu, Muhammad Sadad, CEO Erigo mengakui bahwa pada masa awal kemunculan pandemi Covid-19, penjualan clothing line di Erigo memang sangat terdampak. Apalagi ketika itu mobilitas masyarakat begitu terbatas.

“Namun semakin ke sini kita makin adaptif terhadap hal-hal yang lagi tren sehingga mampu mendongkrak penjualan secara signifikan,” tuturnya.

Bahkan diakui olehnya sepanjang Januari 2020 hingga Januari 2021, penjualan di Erigo melonjak sangat signifikan bahkan bisa menembus hingga 10 kali lipat atau 1000 persen. 

Ini tidak lepas dari kualitas dan desain produk serta beragam pilihan yang dihadirkan oleh Erigo untuk memenuhi kebutuhan fesyen para konsumen baik untuk sehari-hari maupun traveling mulai dari jaket, baju, celana, tas, topi, dan aksesoris lainnya.

Sadad mengatakan bahwa di tengah situasi pandemi ini, pihaknya memang cukup agresif melakukan berbagia strategi agar bisnisnya tetap bertumbuh. Selain menghadirkan produk fesyen berkualitas, Erigo juga beradaptasi dalam sistem marketing.

Misalnya dengan memperkuat channel penjualan secara online melalui e-commerce sehingga mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas dimanapun mereka berada. Selain itu, Erigo juga sangat aktif melakukan marketing di sosial media, termasuk beriklan di berbagai platform media sosial da e-commerce.

“Kita aktif mengembangkan digital ads dan menghadirkan produk-produk yang memang sedang tren sehingga kita dapat mengisi kekosongan dari berbagai produk yang dibutuhkan yang dibutuhkan masyarakat, kita grab market di situ. Dan ternyata sangat berhasil bahkan penjualan kita melonjak 10 kali lipat selama 2020 lalu,” tuturnya.

Dengan penjualan e-commerce yang melonjak sangat signifikan, membuat Erigo saat ini benar-benar fokus berjualan secara online, terutama di Shopee yang saat ini jumlah pengikutnya sudah mencapai 2 juta pengikut dengan 1,1 juta rating belanja.

“Saat ini fisik yang ada di Banjarmasin, Malang, Palembang, dan Yogya sudah kami tutup dan kita benar-benar fokus berjualan secara online di Shopee karena memang dampaknya besar sekali,” tuturnya.

Kondisi yang dialami oleh brand Cammomile dan Erigo ini diamini oleh Adi Rahardja, Director, Business Growth Shopee Indonesia yang mengatakan, bahwa selama masa pandemi, pesanan kategori fashion mengalami peningkatan hingga 2,5 kali lipat di Shopee sedangkan jumlah penjual bertumbuh 2 kali lipat.

Hal ini tidak lepas dari kemampuan para pelaku usaha yang cepat beradaptasi dengan kebutuhan pasar. Apalagi kategori fesyen ini memiliki ruang gerak yang cukup luas dan lingkup bisnisnya tidak hanya terbatas pada pakaian saja tetapi juga gaya hidup.

“Salah satu yang sempat booming di awal pandemi adalah penjualan masker kain. Lalu produk-produk yang juga menjadi favorit di Shopee adalah rok plisket, tas selempang, dan hijab,” ungkapnya.

Pihaknya pun terus berupaya melakukan kerjasama dengan berbagai mitra penjual dan brand terpercaya dalam menghadirkan serangkaian produk fashion yang trendy, stylish dan berkualitas sesuai dengan preferensi masing-masing pengguna.

"Kami harap melalui inovasi dan inisiatif yang dihadirkan dapat menjadi solusi bagi para pengguna, baik itu pembeli, penjual maupun mitra kami," tuturnya.

Untuk mendorong penjualan fesyen di Tanah Air sekaligus memenuhi kebutuhan fesyen yang terus meningkat, Shopee menggelar kampanye program 3.3 Fashion Sale dengan menyediakan beragam akses yang mudah dalam memperoleh berbagai variasi produk fesyen pilihan.

Adapun kampanye yang berlangsung mulai 8 Februari hingga 3 Maret 2021 tersebut, menyuguhkan berbagai penawaran dan promo untuk jutaan produk fesyen antara lain gratis ongkir, late night sale semua di bawah Rp33ribu, dan beli 3 ekstra diskon 30 persen.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

fesyen tips bisnis
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top