Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kisah Sukses Bos Netflix Reed Hastings, dari DVD Hingga Layanan Streaming

Reed Hastings atau Wilmot Reed Hastings, Jr. merupakan pengusaha Amerika yang lahir di Boston, Massachusetts pada tahun 1960. Dirinya merupakan pendiri dan CEO dari Netflix.
Jessica Gabriela Soehandoko
Jessica Gabriela Soehandoko - Bisnis.com 24 November 2021  |  18:08 WIB
Founder Netflix Reed Hastings - Vanity Fair
Founder Netflix Reed Hastings - Vanity Fair

Bisnis.com, JAKARTA - Selama pandemi banyak bisnis yang berjuang untuk tetap bertahan. Namun Netflix menjadi salah satu perusahaan yang mengalami kenaikan, terutama di masa lockdown.

Dibalik ini, sosok penting yang juga menjadi pendiri dan pengembang Netflix sendiri adalah Reed Hastings.

Reed Hastings atau Wilmot Reed Hastings, Jr. merupakan pengusaha Amerika yang lahir di Boston, Massachusetts pada tahun 1960. Dirinya merupakan pendiri dan CEO dari Netflix.

Dirinya mempelajari matematika di Bowdoin College di Brunswick, Maine dan lulus pada tahun 1983. Dirinya pernah bertugas di Korps Marinir AS, kemudian mengajar matematika di Eswatini dan kembali ke Amerika Serikat dan menempuh gelar master dalam ilmu komputer di Universitas Stanford.

Hastings kemudian menjadi pengembang perangkat lunak. Pada tahun 1991, dirinya menjadi software developer dan mendirikan Pure Software atau Pure Atria Corporation yang kemudian dijual pada 1997.

Pada 1997, Hastings memiliki idea mengenai layanan persewaan film berbasis langganan. Ide ini muncul dikarenakan dirinya mengeluarkan biaya keterlambatan yang besar ketika gagal mengembalikan kaset video yang disewa di toko.

Kemudian Hastings bersama Marc Randolph mendirikan Netflix di California pada 1997 dan memulai operasi DVD pesanan lewat pos pada 1998. Marc Randolph sendiri keluar dari Netflix di tahun 2004.

Pada awalnya pelanggan diizinkan untuk menyewa setiap DVD untuk jangka waktu tujuh hari. Namun pada bulan Desember 1999, pelanggan dapat membayar biaya bulanan yang ditetapkan untuk menyewa DVD dalam jumlah tidak terbatas.

Tidak berhenti, Hastings kemudian memperluas Netflix dengan kemitraan bersama studio film dan pemasaran yang agresif. Netflix mengeluarkan katalog film indie, dokumenter, dan film lain yang tidak tersedia di Netflix.

Di bulan Februari pada tahun 2007, Netflix mengirimkan miliaran DVDnya. Sementara itu, Netflix meluncurkan aplikasi yang memungkinkan pelanggan mengakses film dan acara TV melalui unduhan streaming.

2011, Hastings kemudian mengumumkan akan menaikkan harga sewa dan membagi perusahaan menjadi dua, dimana layanan DVD berganti nama menjadi Qwikster. Dirinya kehilangan pelanggan dan harga saham yang jatuh, dan kemudian perusahaan mundur dan membatalkan rencana tersebut.

Pada tahun 2013, Netflix menawarkan serial drama berepisode yakni House of Cards. Konten ini menjadi sukses dan telah menjadi fokus utama dari perusahaan.

Kini, dalam pengumuman hasil kuartal keempat di tahun 2020, Netflix mengalami kenaikan pendapatan yakni sebesar 24 persen menjadi US$6,6 miliar dan menghasilkan laba menjadi US$542 juta.

Selain itu, diketahui Netflix mendapatkan pendapatan tahunan sebesar US$25 miliar dolar atau setara dengan Rp357 triliun rupiah.

Dilansir dari Forbes, kini Hastings memiliki kekayaan sebesar US$6,2 miliar atau setara dengan Rp85 triliun rupiah.

Hastings juga diketahui berada di urutan kelima dalam daftar Forbes Innovative Leaders 2019. Dirinya juga masuk ke dalam daftar Forbes 400 tahun 2021 di urutan ke 188.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Netflix tokoh bisnis
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top